Beranda Hikmah Umar bin Abdul Aziz dan Anak yang Berilmu

Umar bin Abdul Aziz dan Anak yang Berilmu

401

Ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi pemimpin datanglah para utusan dari berbagai negara. Salah satu dari me-reka adalah seorang anak kecil utusan dari Hijaz. Ketika anak kecil ini hendak berbicara, Umar berkata, “Hendaklah yang berbicara orang yang lebih tua darimu” Lalu anak kecil itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, jika apa yang engkau katakan itu benar, sungguh orang yang berhak duduk di singgasa-namu adalah orang yang lebih tua darimu.”Umar bin Abdul Aziz

Umar berkata, “Engkau benar sekali, sekarang bicaralah!” Anak kecil itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kami menghadapmu dari sebuah negeri yang dipuji Allah yang Dia karuniakan kepada kami dengan sebabmu. Kami tidak menghadapmu karena kami takut dan berharap kepadamu. Kami tidak khawatir ke-padamu, karena kami telah kau buat merasa aman di dalam rumah-rumah kami. Kami tidak takut kepadamu, karena kami merasa aman dari kezalimanmu dan kami yakin dengan keadilanmu. Kami adalah utusan yang menghaturkan syukur dan kesejahteraan”

Lalu Umar berkata kepadanya, “Wahai anak kecil, berilah aku nasihat”

Anak kecil itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ses ungguhnya para manusia tertipu dengan kebaikan Allah dan pujian manusia kepada mereka. Karena itu, janganlah engkau menjadi orang yang tertipu dengan kesantunan Allah dan pujian manusia, hingga menye-babkan kakimu tergelincir dan engkau menjadi orang yang dikatakan Allah dalam al-Qur’an, “…Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang (munafik) yang berkata kami mendengarkan, padahal mereka tidak men-dengarkan..”

Kemudian Umar meneliti umur anak itu dan ternyata ia berusia 12 tahun. Akhirnya, Umar menyenandungkan beberapa syair untuk mereka:

Belajarlah, sungguh manusia itu tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu.

Orang yang mempunyai ilmu berbeda dengan orang yang tidak memiliki ilmu.

Orang yang besar bagi sebuah kaum, tidak diukur dari umurnya.

Bisa jadi anak kecil namun sudah menjadi rujukan semua orang.

(Disadur dari kitab al-Aghani karya Abi Faraj al-Ashfahani).

CINTA DENGAN NASIHAT

Dari kisah di atas, ada pelajaran indah yang dapat kita petik, yaitu hendaknya kita tak alergi dengan kritik, saran maupun nasihat. Sebab, siapapun kita, baik orang awam, perabat, hartawan, ilmuwan, maupun penguasa seka-lipun, tetaplah manusia yang memiliki salah dan lupa. Kritik, saran, maupun nasihat tetap kita butuhkan untuk mengingatkan diri tatkala menyimpang dari kebernaran.

Apa yang dilakukan Umar adalah cermin bagi kita. Bahwa menerima kritik, saran maupun nasihat tidaklah membuat diri hina. Seorang penguasa atau pemimpin kel ompok tidaklah turun kewibawaannya lantaran di-kritik bawahannya. Seorang ulama tidaklah turun kemu-liaannya lantaran dikritik murid ataupun ulama lainnya. Justru di sinilah leta^c kemuliaannya ketika dia menerima dengan lapang dada. Dan, akan segera menyadari ke-sal ahannya dan segera memperbaikinya. Dengan terus memperbaiki diri, maka akan menjadi pribadi yang ma-kin sempurna serta dicintai sesama.

Umar bin Al-Khaththab bertutur, “Manusia yang ber-akal ialah manusia yang suka menerima dan meminta nasihat”

DIHORMATI KARENA BERILMU

Ada pelajaran lain dari kisah di atas, yaitu ilmu akan melahirkan kemuliaan dan keberanian. Seperti anak kecil itu. Dengan ilmu yang dia miliki, dia percaya diri terhadap apa yang hendak disampaikan. Meski dia berhadapan dengan penguasa, tapi tetap berani berbi-cara. Ketika dia hendak ditolak untune berbicara tersebab masih ada orang yang lebih tua darinya, ia pun mampu menyampaikan hujjah yang kuat. Akhirnya dengan la-pang hati, Umar pun memberi kesempatan kepadanya untuk berbicara. Bahkan, Umar pun meminta agar dia berkenan menasihatinya.

Itulah ilmu yang dari zaman ke zaman senantiasa memberi kemuliaan dan keistimewaan bagi pemiliknya. Karena ilmulah seseorang disegani dan dihormati. Berkat ilmu pula, seseorang dikala hidup begitu bermanfaat bagi kehidupan. Tak aneh bila dengan ilmu yang berbingkai iman, generasi Islam terdahulu mampu tampil menjadi rahmatan lil alamiin serta memimpin peradaban dunia. Dengan ilmu itu, mereka berhasil mengukir karya-karya spektakuler yang membawa kemaslahatan bagi manusia. Dalam sejarah Islam begitu banyak manusia yang nama-nya mengabadi dan selalu dikenang berkat ilmu yang dimilikinya.

Abu Bakar begitu mencintai ilmu yang diajarkan Rasulullah Dialah salah satu Sahabat yang dimintai fatwa oleh Rasulullah Hg. Umar bin Al-Khaththab, dialah Sahabat yang kritis dan memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapatnya. Ali bin Abi Thalib, karena ilmunya dia dijuluki sebagai babu al-ilmi (gerbang ilmu). Ibnu Abbas yang dikenal sebagai hibr al-ummah (tinta umat) adalah sahabat yang paling mendalami ilmu tafsir. Ibnu Mas’ud yang dijuluki sebagai shahib an-na’lain wa al-wisad wa al-mitharah (pemilik sandal, bantal, geriba Rasulullah H|) mengabadi namanya karena paling men-dalam pengetahuannya tentang al-Qur’an. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Tentu, kita semua patut meneladani kesungguhan mereka dalam menggeluti ilmu dan mengamalkannya. Mereka menjadi pribadi yang banyak menebar manfaat di masa hidupnya. Bahkan, setelah wafatnya, kisah hidup mereka terus dikaji dan diambil ibrahnya. Karya mereka juga terus bermanfaat bagi manusia yang hidup sele-lahnya. Pahala kebaikan pun terus mengalir melimpahi mereka dalam kehidupan abadi karena kebaikan dan ilmu yang mereka wariskan.

Baca Juga : Sok Tahu, Bukti Sempitnya Ilmu.

SPIRIT UNTUK BELAJAR

Pelajaran selanjutnya yang dapat kita petik dari kisah di atas adalah syair yang diucapkan oleh Umar bin Abdul Aziz. Bahwa sangat berbeda antara orang berilmu dengan yang tidak berilmu. Dan kemuliaan seseorang itu tak selalu berkorelasi dengan usianya. Bisa jadi, seorang masih berusia muda, tapi karena berilmu, maka mulialah dia. Bahkan, dia juga bisa menjadi rujukan semua orang. Itulah spirit bagi kita untuk terus belajar.

Tak sepantasnya orang beriman bersikap malas ke-tika berinteraksi dengan ilmu. Sebab, ilmu adalah tang-ga menggapai kejayaan diri dan umat. Sejarah telah mengajari kita, Muslim pernah berjaya dan memimpin dunia berkat ilmu dan pengetahuan yang dikuasainya. Dengan ilmu tersebut, mereka berhasil menyumbangkan penemuan-penemuan untuk kemajuan manusia. Dengan ilmu pula, umat ini disegani dan berjaya di atas umat lain.

Sungguh benar janji Alah Hg dalam firman-Nya, “… Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang ber-iman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pe-ngetahuan beberapa derajat…!’ (Al-Mujadilah [58]: 11).

Mari kita terus bangun spirit untuk belajar. Sehingga kita menjadi umat yang berilmu. Dengan jalan itu, se-moga Allah kembali melimpahi kejayaan untuk kita. Allahu a’lamu bishshawab.  OLEH MASROKAN Pengasuh Pesantren Hidayatullah Kendari, Sulawesi Tenggara