Beranda Mutiara Quran Sikap Mukmin Terhadap Wahyu Ilahi

Sikap Mukmin Terhadap Wahyu Ilahi

181
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (Al-Baqarah [2]: 2)

MUQADDIMAH

Salah satu sikap yang paling fundamental bagi insan yang bertakwa adalah taslim, menerima secara utuh perkara apapun yang tercantum dalam al-Qur’an dan al-Hadits disertai dengan keyakinan yang tertanam kuat di dalam hati tanpa ragu sedikit pun.

Bagi individu yang berlatar belakang non-Muslim bahkan ateis, proses raiba (keraguan) dan mempertanya-kan sesuatu, pada awalnya merupakan jalan menuju sebuah keyakinan. Dalam perjalanannya, keraguan itu berangsur-angsur akan sirna ketika ia bertemu dengan cahaya hidayah, sehingga di dalam jiwanya terbangun sebuah keyakinan yang permanen terhadap kebenaran Islam.

Namun ironis, ketika dalam perjalanan hidupnya keraguan ini malah menjadi sebuah karakter akibat ke-angkuhan terhadap hidayah dan tertipu intelektualitas, maka penting untuk kita renungkan ayat di atas, tentang penafsiran para ulama mengenai raiba, hudan, dan al-Muttaqin.Sikap Mukmin Terhadap Wahyu Ilahi

TAFSIR KATA “RAIBA”

Menurut al-Hafizh Ibnu Katsir, makna yang terkandung dalam ayat “la. raiba fih” adalah Allah melarang atau mengharamkan adanya rasa ragu terhadap al-Qur’an, meskipun hanya satu ayat saja. Kaum Muslimin harus meyakini bahwa al-Qur’an diturunkan Allah seba-gaimana yang terkandung dalam surah as-Sajadah ayat 2, “Turunnya al-Qur’an itu tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam”

Ayat yang mulia ini seharusnya dibaca dengan penuh keimanan bagi para sarjana Muslim yang gandrung de-ngan manhaj tafsir model baru, yaitu hermeneutika. Produk pemikiran impor itu jelas bertentangan dengan ayat di atas, disebabkan beberapa hal.

Pertama, di hadapan hermeneutika seluruh teks ada-lah sama, baik teks yang dikarang oleh manusia maupun kitab suci (al-Qur’an). Jelas pada akhirnya hermeneutika menghendaki penolakan bahwa al-Qur’an adalah kala-mullah, meragukan keasliannya, dan menggugat kemu-tawatiran sanadnya.

Kedua, penafsir hermeneutik selalu dituntut untuk bersikap skeptis, yakni meragukan kebenaran dari mana-pun datangnya, sekalipun yang ia baca adalah al-Qur’an. Ketiga, hermeneutika hanya akan menghasilkan keraguan dan kebingungan karena pondasi awalnya ada-lah sikap skeptisisme dan relativisme, menghendaki ketidakpastian makna dan penafsiran, eforia dengan konflik dan kontradiksi. Menurut Syamsuddin Arif, her-meneutika lebih tepat dikategorikan sebagai musibah ketimbang hikmah.

Makna selanjutnya, seorang mukmin yang membaca atau mempelajari al-Qur’an harus menyesak padati relung hatinya dengan keyakinan akan kebenaran yang terkandung dalam al-Qur’an. Jadi, dengan sikap seperti inilah al-Qur’an dapat menjadi hudan (petunjuk) untuk kehidupannya.

Saat ini kita harus cerdas dan penuh kearifan dalam memilah, mana saja hal-hal yang membawa hikmah dan manfaat untuk bekal kehidupan dunia dan akhirat.

Sangat terpuji, ketika kita mampu menyerap hikmah dan manfaat dari perjalanan sebuah peradaban, mes-kipun hal tersebut berasal dari gagasan-gagasan Barat, selama hal tersebut berbanding lurus dengan nilai-nilai keislaman. Sebab sesuatu hal yang sesuai dengan Islam sudah pasti benar.

Namun akan kita lihat para individu yang terdoktrin dengan keseluruhan budaya Barat, mereka menjadikan gagasan-gagasan manusia layaknya agama. Mereka akan terus mencari dan meneliti kebenaran, karena ketika kebe-naran itu datang mereka akan meragukan atau bahkan me-nolaknya sama sekali. Jangankan menemukan hikmah dan manfaat untuk bekal kehidupan dunia dan akhirat, justru mereka senantiasa berada dalam kegelapan. Sebagaimana yang Allah SWT juga jelaskan dalam surah al-Baqarah [2]: 17.

“Perumpamaan mereka seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat”

Baca Juga : Ajarilah Keluarga Adab dan Ilmu

TAFSIR KATA “HUDAN”

Huda memiliki makna yang sama dengan irsyad, yaitu petunjuk, sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Imam Ibnu al-Jauzi dalam kitab Zad al-Masir. Kata huda dalam ayat ini tertuju hanya untuk orang yang bertakwa saja, “huda lilmuttaqin”. Sedangkan dalam ayat lain kata huda tertuju untune seluruh manusia, “huda linnas” (Al-Baqarah [2]: 185). Hal ini bukanlah suatu hal yang kontradiktif, tapi terkait dengan tema umum dan khusus.

Makna petunjuk untuk segenap manusia adalah, bahwa al-Qur’an dapat dipahami oleh setiap manusia yang memiliki penalaran atau hukum-hukum yang ter-kandung di dalamnya sesuai dengan akal manusia. Se-mentara untuk memahami al-Qur’an yang merupakan kalamullah secara komprehensif, manusia harus meme-nuhi syarat; tidak boleh ada jarak antara sang pembaca dengan Sang Pencipta. Pembaca harus terus berupaya

mendekat kepada Sang Pemilik Kalam. Proses mendekat inilah yang disebut petunjuk khusus untuk orang-orang bertakwa.

TAFSIR KATA “AL-MUTTAQIN”

Orang yang bertakwa adalah individu yang senantiasa menjaga diri, bukan hanya dari perkara yang dilarang melainkan dari perkara yang dibenci. Akar kata takwa berasal dari kata al-wiqdyah (penjagaan), sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Apabila karakter takwa sudah melekat dalam diri sesorang, maka akan kita dapatkan dalam kehidupannya sehari-hari, seperti berikut.

Pertama, ia akan mudah menampakan syiar-syiar keislaman pada dirinya sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial, sebagaimana dalam firman Allah SWT : “Demikianlah (perintah Allah), dan barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar (perintah dan larangan) Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan (dalam) hati” (Al-Hajj [22]: 32)

Kedua, ia akan senantiasa bersikap adil dalam setiap tindakan dan putusannya, sebagaimana dalam firman Allah SWT surah al-Maidah [5] ayat 8, “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa”

Ketiga, ia senantiasa konsisten dalam berbuat kebaji-kan, sebagaimana firman Allah SWT :

“(Yaitu) orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain” (Ali ‘Imran [3]: 134)

Dari tiga hal yang diuraikan ini, nampak bahwa ketakwaan akan memberikan dampak kemaslahatan ko-lektif, keadilan sosial, dan kearifan bersama. Jika hal ini terwujud, bukan hanya rahmat untuk sebuah bangsa tapi rahmatan lil‘alamin. Dan, hal ini takkan lahir dari orang-orang yang ragu terhadap kebenaran. Allahu a’lam. ♦ OLEH SWASTO IMAM TP Dai dan Praktisi Pendidikan