Satu Kota Tiga Agama: Eratnya Makkah, Madinah, Baitul Maqdis

0
601
www.banggabersarung.com

Peristiwa Isra’ Mi’raj menggabungkan Makkah dan Baitul Maqdis selamanya dalam pemikiran umat Islam.

Sejak awal, kaum Muslimin telah diajari untuk menghargai tiga tempat sebagai pusat suci dunia. Ketiganya akan terus terpatri di dalam hati sepanjang masa.

Pertama, tentu saja Makkah. Semua tempat suci lain di dunia Islam akan memperoleh kesucian mereka dari Makkah dan dapat dilihat sebagai perpanjangan dari pusat kesucian ini. Semua tempat ibadah suci lainnya akan mencerminkan Makkah, sebagai dasar pola simbol kesucian. Visi ini menjadi perwujudan Tauhid, sakralisasi, dan penyatuan alam semesta.

Dengan cara yang sama, semua kota dan negara Islam ikut serta dalam kesucian utama yang kedua, yakni Madinah, tempat tinggal Rasulullah SAW. Semua masjid di masa selanjutnya dibuat dengan model mengacu pada masjid sederhana yang pertama kali dibangun Nabi di Madinah.

Masjid mengungkapkan gagasan mengenai tanah suci secara lebih inklusif dibandingkan apa yang kita lihat pada ajaran Yudaisme dan Kristiani. Tidak ada pemisahan kesucian dari hal profan, spiritual dari seksual, atau agama dari politik. Nabi Muhammad dan istri-istrinya tinggal di ruang-ruang kecil di sekitar halaman masjid, yang juga menjadi pertemuan publik untuk membahas masalah sosial, politik, militer, serta agama.

Dalam ajaran Islam, seluruh kehidupan harus dibawa dalam naungan kesucian sebagai ekspresi Tauhid. Karena seluruh ruang adalah sakral, maka masjid tidak boleh diasingkan dari sekitarnya. Pepohonan –yang dilarang dalam Kuil Sulaiman Yahudi– justru dianjurkan dalam tempat ibadah Muslim. Masjid-masjid pun dipenuhi cahaya, burung-burung bisa terbang berkeliling selama shalat Jum’at. Dunia luar justru diundang ke dalam masjid, bukan ditinggalkan.

Prinsip-prinsip dari Makkah dan Madinah itu kemudian muncul di Baitul Maqdis atau Jerusalem, tempat ketiga tersuci di dunia Islam. Meskipun pasukan Muslim belum menaklukkan wilayah ini hingga tahun 638 –sekitar enam tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW—Baitul Maqdis telah menjadi kota suci bagi umat Islam sejak awal. Kawasan inilah yang menjadi kiblat pertama kaum Muslimin.

Ketika Muhammad SAW mulai berdakwah di Makkah, salah satu yang diajarkan kepada pengikutnya adalah untuk beribadah menghadap ke Baitul Maqdis. Ini adalah orientasi baru, sebab orang Islam harus membelakangi tradisi pagan Arab kuno, kemudian menghadap ke arah Tuhan orang Yahudi dan Kristen. Dengan demikian, Jerusalem menandai tahap simbolis penting dalam perjalanan yang mengharuskan umat Islam memutuskan hubungan dengan tradisi yang dicintai sejak masa lalu.

Lebih jauh lagi, umat Islam dipaksa untuk menolak ikatan darah ketika harus meninggalkan suku dalam peristiwa hijrah ke Madinah untuk membangun sebuah komunitas baru berbasis ideologi. Di kemudian hari, orang-orang Muslim beribadah menghadap Makkah lagi, tetapi tidak akan pernah melupakan peran Jerusalem dalam perjuangan bergabung ke keluarga monoteisme.

Isra’ Mi’raj

Sungguh perjuangan luar biasa. Dalam sejarahnya, kaum Muslim dianiaya oleh penganut pagan di Makkah. Kemudian selama delapan tahun di Madinah, umat Islam mengalami ancaman perang dan pembantaian.

Lebih jauh lagi, Nabi Muhammad SAW bekerja nyaris sendiri, tanpa dukungan dari siapapun. Akan tetapi, dalam pengasingan ia berjuang hingga ke inti dari pengalaman monoteisme dan teologi selama 23 tahun. Itu adalah pencapaian yang fenomenal.

Kisah dan pengalaman luar biasa antara lain tergambar dalam biografi Muhammad bin Ishaq, ditulis pada pertengahan abad ke-8, meski tentu saja itu didasarkan pada Surat al-Isra’ dalam al-Qur’an. Kisah ini menceritakan bagaimana Muhammad secara ajaib diperjalankan dari Makkah ke Jerusalem dengan Jibril –malaikat penyampai wahyu– pada tahun 620, sekitar dua tahun sebelum hijrah ke Madinah.

Ketika Rasulullah SAW tiba Jerusalem, beliau disambut oleh semua nabi besar di masa lalu. Nabi Muhammad kemudian mendakwahi atau menyampaikan wahyu kepada mereka.

Nabi Muhammad kemudian memulai perjalanan ke atas menuju hadirat Ilahi melalui tujuh lapis langit. Di setiap tahap, ia bertemu dan berbicara dengan beberapa nabi, misalnya: ‘Isa, Yahya, Musa, Harun, Idris. Di ambang lingkup Ilahi, ia bertemu Ibrahim AS.

Pada saat Ibnu Ishaq menulis biografi tersebut –abad kedua setelah hijrah– umat Islam mulai melihat Nabi mereka sebagai manusia yang sempurna. Dia tidak kudus, tentu saja, tetapi kedudukannya kudus dan ayah, simbol aktivitas Tuhan di dunia dan penyerahan sempurna manusia kepada Allah SWT.

Perjalanan mistiknya dari Makkah ke Baitul Maqdis, menyampaikan kesucian utama dari Makkah menuju masjid yang jauh di Jerusalem; menggabungkan kedua kawasan itu selamanya dalam pemikiran umat Islam. Kejadian ini akan terus muncul dalam refleksi kaum Muslimin terhadap Baitul Maqdis sampai kapanpun.

*Diolah dari tulisan Karen Armstrong dalam Buku Emas Baitul Maqdis yang diterbitkan oleh Institut al-Aqsha untuk Riset Perdamaian (ISA), IslamicJerusalem Research Academy (ISRA), dan Sahabat al-Aqsha/Suara Hidayatullah

Tulisan ini terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi April 2022