Satu Kota Tiga Agama: Baitul Maqdis Kota Persatuan yang Inklusif

0
329
sumber gambar: phinemo.com

Masyarakat lokal Palestina percaya bahwa dua kota, Makkah dan Baitul Maqdis (Jerusalem), telah terhubung tidak saja secara spiritual, tetapi juga secara fisik.

Selama musim haji ke Makkah, ketika para jamaah haji berdiri di Arafah, dipercaya bahwa air dari sumur suci Zamzam dekat Ka’bah mengalir di bawah tanah menuju kolam siloam di Jerusalem. Pada malam itu, Muslim di Jerusalem mengadakan festival khusus.

Kisah tersebut adalah cara indah mengekspresikan kepercayaan bahwa kesucian Baitul Maqdis diturunkan dari kesucian utama Makkah. Penduduk lokal (Palestina) sangat merasakan bahwa Makkah dan Baitul Maqdis berbagi kesucian yang sama.

Pada abad ke-11, orang orang Muslim yang tidak bisa berangkat menunaikan haji ke Makkah akan berkumpul di Baitul Maqdis selama musim haji. Di malam kala jamaah haji berwukuf di Arafah, tepat di bagian luar Makkah, penduduk desa dan penduduk Baitul Maqdis akan berkumpul di podium Haram ash-Sharif di Jerusalem, seolah-olah mereka berada di Makkah.

Sebagian jamaah haji juga suka menggabungkan haji mereka dengan kunjungan religius ke Baitul Maqdis. Mereka pun menggenakan jubah putih khusus yang biasa dikenakan saat haji dan memasuki tahapan ritual penyucian.

Sebagian orang (termasuk di saat ini) keberatan dan berpendapat bahwa Baitul Maqdis tidak sesuci Makkah. Sesungguhnya mereka tidak paham poin utamanya. Kedua kota suci itu disatukan sangat dalam di imajinasi kaum Muslimin, karena konsep kesatuan dalam Islam menegaskan tidak mungkin ada dua atau tiga kekudusan, tetapi hanya satu kekudusan utama yang terekspresikan di beberapa kota.

Isra’ Mi’raj

Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW adalah hal yang mencengangkan bagi pembaca modern. Kisah naiknya Nabi ke langit menunjukkan keragaman (pluralitas) yang luar biasa luas. Muhammad tidak tiba di Kuil Sulaiman lalu beribadah sendirian, tetapi disambut dengan hangat oleh seluruh Nabi pendahulu.

Berbeda dengan pengalaman Yahudi dan Kristen mengenai tanah suci, pandangan Islam tentang Baitul Maqdis tidaklah eksklusif dan terpecah belah. Justru, itu adalah pengukuhan yang hangat terhadap tradisi-tradisi lain, sebagaimana al-Qur’an yang menyatakan bahwa wahyu kepada Nabi Muhammad SAW tidak membatalkan wahyu nabi-nabi sebelumnya, tetapi merupakan kelanjutan dari perjalanan agama universal.

Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW adalah satu visi keharmonian. Dia dan rekan-rekan sesama Nabi saling meneguhkan wawasan satu sama lain.

Kisah dramatis perjalanan Rasulullah SAW dari Makkah ke Jerusalem juga menunjukkan kerinduan Muhammad untuk membawa orang-orang Arab hingga jauh ke luar daratan Arabi –yang selama ini seolah berada di luar peta turunnya wahyu– hingga ke jantung tradisi monoteisme. Ini adalah kerinduan yang sama yang dinyatakan dalam pilihannya tentang Baitul Maqdis sebagai kiblat pertama.

Sebelum kedatangan Islam, orang-orang Yahudi dan Kristen biasa mengejek orang-orang Arab, sebab Tuhan tidak mengirim seorang nabi atau kitab suci dalam bahasa mereka sendiri. Orang Arab dianggap tak dimasukkan ke dalam “rencana Tuhan”.

Dengan menjangkau kawasan Baitul Maqdis, maka Nabi Muhammad SAW dan umat Islam berusaha mengakhiri kesendirian dan kesepian, lantas bergabung ke keluarga monoteisme. Dan umat Islam yakin bahwa akan menerima sambutan.

Sungguh ironis ketika mencermati penjelasan di atas kemudian melihat situasi hari ini. Alih-alih menjadi kota persatuan dan inklusivitas, Jerusalem saat ini sedang menjadi kota yang paling berdarah dan berpecah-belah.

Kebijakan Umar

Ketika Khalifah Umar bin Khaththab RA membebaskan Baitul Maqdis dari penjajah Byzantium pada tahun 638, ia setia pada pada visi inklusivitas tersebut. Tidak seperti kaum Yahudi dan Kristen, orang-orang Muslim tidak berusaha menyingkirkan orang lain dari Baitul Maqdis.

Tindakan Umar amat berhati-hati. Hal ini untuk memastikan bahwa tempat-tempat suci orang Kristen tetap berada di tangan mereka.

Misalnya ketika Umar berada di Gereja Makam Suci pada hari penaklukan, waktu beribadah umat Muslim tiba. Pendeta Sophronius mengundangnya untuk beribadah di samping makam Yesus. Ternyata Umar menolak dan pergi keluar gereja untuk beribadah di jalan raya.

Apabila Umar tidak melakukan hal tersebut, bisa jadi umat Islam akan mendirikan sebuah masjid di gereja tersebut, karena di sanalah shalat pertama didirikan di Baitul Maqdis setelah penaklukan. Padahal, penting bagi kaum Kristen untuk mempertahankan kepemilikan yang aman atas gereja agung mereka.

Umar kemudian juga mengundang orang-orang Yahudi, yang dilarang tinggal secara permanen di Baitul Maqdis selama lebih 500 tahun. Mereka diminta kembali ke kota suci.

Hasilnya, 70 keluarga Yahudi datang dari Tiberias. Mereka mendirikan sebuah wilayah di tepi Kuil Sulaiman, yang sekarang menjadi Haram ash-Sharif, tempat yang paling dimuliakan. Adapun orang Kristen tetap dibiarkan di Bukit Barat, wilayah terkaya di kota. Juga tidak ada upaya pembangunan masjid oleh umat Islam di wilayah orang Kristen di Baitul Maqdis.

Kaum Muslimin pun tidak menunjukkan keinginan untuk mengubah situasi di lapangan. Situasi berjalan harmonis dan inklusif. Hingga akhirnya Perang Salib merusak secara permanen hubungan ketiga agama Ibrahim di Baitul Maqdis.

Diolah dari tulisan Karen Armstrong dalam Buku Emas Baitul Maqdis yang diterbitkan oleh Institut al-Aqsha untuk Riset Perdamaian (ISA), Islamic Jerusalem Research Academy (ISRA), dan Sahabat al-Aqsha/Suara Hidayatullah.

Tulisan ini terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi Mei 2022.