Sahaja di Dunia, Bahagia di Surga

0
197

Hatinya gundah saat menatap jari-jari lentik istrinya lincah berselancar di atas layar handphone (baca: hp). Entah apa lagi yang akan diminta sang istri setelah ini. Hp yang ada di genggaman istri itu juga baru saja dibelinya beberapa pekan lalu, setelah hp keluaran terbaru “tak bertahan lama” di tangan istrinya. Belum lagi, model gamis dan jilbab yang harus selalu update.

Meskipun apa saja yang dikenakan sang istri selalu terlihat mengagumkan, tapi justru di situlah persoalannya. Sang istri selalu ingin tampil lebih, dan lebih lagi.

Kan buat Ayah juga. Aku seperti ini untuk membuat Ayah dipuji orang sebagai suami yang perhatian kepada istri,” begitu pembelaannya. Namun, tak jarang, istrinya merajuk hebat manakala apa yang diinginkannya tak terpenuhi. Itulah yang seringkali meresahkan hatinya. Terutama ketika kondisi keuangan sedang tidak baik-baik saja.

Mungkin suami-suami lain juga gundah ketika dihadapkan kepada istri seperti ini. Materialistis, tidak tahan melihat barang baru, lapar mata. Mungkin itulah sebutan yang seringkali terucap. Walau tak sepenuhnya benar, tetapi sebutan materialistis pada perempuan sebenarnya bilah pisau di tangan suami. Ia bisa melukai tapi juga bisa membantu proses menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

Rambu Allah dan RasulNya

Sejatinya, Allah telah memberikan rambu utama bagi seorang istri dalam surat al-Ahzab ayat 28-29. Ini adalah ayat al-Qur’an yang turun manakala Rasulullah SAW bersama para Sahabat memenangkan perang Khandaq.

Rampasan perang yang mereka peroleh dari perang tersebut sangatlah banyak. Para istri Rasulullah SAW yang mendengar tentu saja gembira serta berinisiatif meminta “bonus” pada Rasulullah SAW. Meski sebelumnya, mereka tak pernah minta sesuatu ataupun menerima apa saja pemberian dari Rasulullah SAW.

Namun, Allah Ta’ala dan Rasul-Nya lebih ingin menjaga para Ummul Mukminin ini dari sifat tamak serta materialistis. Sehingga mereka dapat menjadi teladan sepanjang zaman bagi para istri shalihah. Ayat ini pun turun untuk menegur dan menjaga mereka.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Aisyah berkata, ‘Maka Rasulullah SAW bergembira karenanya. Beliau juga menyampaikan tawaran yang sama pada istri-istrinya yang lain. Mereka juga tetap memilih Allah dan Rasul-Nya.”

Rasulullah SAW pun sangat gembira dengan apa yang dipilih oleh istri-istrinya setelah sebelumnya bersedih karena merasa tidak mungkin dapat memenuhi keinginan istri-istrinya. Beliau juga tidak mampu membayangkan, bagaimana kehidupannya kelak bersama istri yang lebih mementingkan keinginan dunia, dibandingkan Allah dan kehidupan yang diridhai-Nya.

Dampak Materialisme

Sifat materialistik ini telah melukai hati Rasulullah SAW. Tetapi dengan hatinya yang lembut dan firman Allah yang diturunkan, beliau kemudian mendidik istri-istrinya. Tujuannya supaya menjadi contoh bagi istri-istri kaum Muslimin untuk waspada pada kecenderungan dunia.

Selain itu, agar para istri dan terutama suami bisa menjaga diri dari luka pisau materialisme. Sebab, kalau tidak, luka yang menganga tak hanya diderita oleh suami. Namun, kelak juga melukai istri karena terobsesi untuk memiliki semua yang diinginkan.

Sejarah mencatat bagaimana akhir hidup seorang Ratu Prancis (terakhir) yang merupakan ikon kecantikan perempuan di saat itu, Marie Antoinette. Tekanan sosial yang mengharuskannya selalu tampil mewah dan berkelas membuatnya lupa diri. Ditambah kurangnya perhatian dari suami, bermetamorfosa menjadi seorang ratu yang gemar berpesta, boros, dan tak peduli pada keadaan rakyat yang ekonominya terhimpit.

Saat pecah revolusi Prancis, rakyat yang muak dengan gaya hidup itu, akhirnya mengaraknya beramai-ramai ke tiang pancung hingga menjadi akhir hidupnya, setelah sang suami juga dipancung di tempat yang sama 10 bulan sebelumnya. Inilah akhir dari seorang ratu yang tidak mampu mengendalikan diri. Tak hanya berimbas pada suami, tetapi juga meluas pada kehidupan rakyatnya.

Meski demikian, kecenderungan wanita pada hal yang bersifat materi sejatinya adalah naluri. Islam tidak pernah melarang umatnya untuk menikmati sesuatu yang halal. Karena itu, ketika Ummul Mukminin berkeinginan mendapat sedikit bonus dari harta rampasan perang yang juga dinikmati seluruh kaum Muslimin saat itu, juga merupakan hal yang wajar. Tapi, alangkah lebih baik dikendalikan dan didorong untuk mencapai posisi yang lebih mulia.

Modal ke Surga

Bila seorang istri menginginkan sesuatu yang lebih, alangkah baiknya jika suami memberikan istri kelonggaran untuk mengolah kepandaian yang dimiliki hingga menghasilkan harta yang halal. Proses ini akan membuat istri lebih mensyukuri setiap pemberian, sekaligus memperdalam rasa hormatnya kepada suami.

Ajari istri pendidikan finansial untuk membuat istri pandai mengolah apa yang ada, sekaligus lihai mencari jalan keluar masalah finansial. Sehingga suami tak hanya menuntut istri untuk menerima apa adanya dan berlapang dada, tetapi juga menuntun istri untuk melihat hal lebih baik yang mungkin bisa dilakukan. Seraya menemaninya berjalan dan mengingatkan kala niatnya mulai berbelok.

Tuntunan lembut suami akan membuat seorang istri tetap berada di jalan yang seharusnya, mengendalikan keinginannya serta membuat segala sesuatu stabil sesuai dengan koridor yang semestinya.

Bila segala sesuatunya telah terpenuhi, maka ingatkan istri untuk bersedekah. Sungguh tak akan optimal untuk memberi, bila kita sendiri tak berpunya. Inilah pisau yang ada di tangan suami untuk menjadikan rumah tangga lebih berkah dan bermanfaat.

Genggam tangan istri untuk mengingatkan bahwa apa yang ada di genggaman tidak mesti dimasukkan dalam hati. Hingga apa yang didapatkan kelak menjadi bekal untuk beribadah dan bersedekah. Hal ini akan mendorong istri maksimal untuk mendapatkan sesuatu dan beribadah lebih baik, dibandingkan menahan laju keinginannya tanpa mau memberikan jalan keluar, apalagi menjaganya.

Penulis: Kartika Trimurti (Ibu rumah tangga tinggal di Bekasi, Jawa Barat)

Tulisan ini terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi Februari 2022.