Safari ke Empat Kampung Muallaf di Kepulauan Riau

0
115

Siapa yang tak kenal Kepri? Ya.., provinsi dengan jumlah pulau terbanyak kedua di Indonesia (2.025 pulau). Di balik keindahan gugusan pulaunya, tersembunyi fakta yang membahagiakan sekaligus memprihatinkan. Beberapa pulau di sana, dihuni oleh penduduk lokal yang kebanyakan telah menjadi muallaf. Tapi sayang kondisi geografis membuat mereka nyaris tak tersentuh oleh dakwah.

Anggota Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kepri, Mujahid Manshur Salbu bersama rombongan dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) berkesempatan untuk safari ke gugusan pulau yang dihuni para muallaf tersebut. Berikut adalah kisah perjalanan selengkapnya:

Cahaya fajar di langit Daik, Kabupaten Lingga menyambut rombongan kami. Kala itu, kami ingin mengunjungi kampung muallaf selat Kongki. Bebatuan yang seolah terbentuk dari pahatan alam dengan struktur lanset di sepanjang perjalanan, pun menjadi pemandangan yang menakjubkan.

Dari Daik ke selat Kongki harus menggunakan speedboat atau kapal carter, sebab, selat Kongki tak terkoneksi dengan moda transportasi reguler dari pulau ke pulau.

Kebahagiaan terukir di lubuk hati, saat kapal tiba, dan berlabuh di bibir kampung mualaf selat Kongki. Apalagi ketika menyaksikan saudara seiman menyeruak dari bilik-bilik rumah kayu mereka, menuju mushola untuk menunaikan shalat fardhu. Derit kayu pun terdengar riuh, tatkala para da’i Hidayatullah menapakkan kaki di perkampungan di atas air yang dihuni sekira 14 Kepala Keluarga (KK) atau 60 jiwa.

Sejak masyarakat mengikrarkan dua kalimat syahadat secara bersama pada 1996 silam, tak ada lagi pembinaan di kampung itu. Mereka terabaikan. Tak ada ustadz yang membimbing. Pun tak ada musholla. Islam hanya tengiang di telinga mereka, dan terpampang sebagai bayangan semu di mata.

Karena itulah, Hidayatullah hadir, dengan menempatkan da’i serta da’iyah untuk melakukan pembinaan di sana. Tak cuma di selat Kongki, tapi juga di pulau Kojong serta pulau-pulau lain yang senasib di sekitar Kabupaten Lingga.

Sejak kehadiran para da’I Hidayatullah, muallaf dari suku Laut itu tidak lagi hanya mendengar debur ombak, kicau burung, atau desau angin. Tapi, juga kumandang azan yang menembus dinding-dinding rumah setiap waktu shalat tiba. Sementara tiap sore, terdengar suara anak-anak dan orangtua sedang terbata-bata mengeja huruf hijaiyah—dibimbing ustadz Sabrian dan ustadzah Juli dari pulau tetangga.

Saat berkunjung, seorang warga, Abdullah (46 th), mendekati salah satu di antara kami. Dengan raut wajah bahagia, ia mengatakan sudah bisa membaca al-Qur’an. Kami pun bahagia bercampur haru mendengarnya dan berharap kemuliaan kitab suci ini senantiasa menaungi kehidupan mereka.

Menjelang senja kami pamitan. Sebagian warga kampung selat Kongki berbaris di dermaga mengantar kepulangan kami. Kapal kami melaju meninggalkan mereka untuk kembali ke Daik. Jarak kami pun semakin jauh, namun hati serta jiwa masih tetap menyatu dalam ikatan ukhuwah yang kukuh.

Kampung Muallaf Pulau Caros

Berikutnya, selang beberapa pekan kemudian, kami mengunjungi warga kampung muallaf Pulau Caros, Batam. Karena air sedang surut, pompong berukuran sedang yang kami tumpangi tak bisa berlabuh di dermaga kampung ini. Kami menggulung celana sampai selutut dan melepas sandal, lalu menyusuri pantai yang berlumpur.

Pulau yang terletak di sebelah timur kota Batam ini dihuni oleh sekitar 14 KK atau 80 jiwa. Tidak mudah bagi mereka menjalani kehidupan sehari-hari. Saat bertemu mereka, mengalirlah ragam cerita memilukan. Misalnya, sulitnya mendapatkan air bersih karena tak ada sumur. Mereka hanya mengandalkan air hujan yang ditadah dengan ember ataupun drum.

Secara ekonomi mereka juga mengalami kekurangan, sebab hanya mengandalkan hasil laut dengan peralatan seadanya. Hasil melaut pun tak mereka jual melainkan ditukar dengan beras, telur, dan bahan pokok lainnya di pulau tetangga.

“Jika musim angin kencang, kami tak bisa melaut, kadang berhari-hari kami makan tanpa lauk,” papar Awang Sabtu, salah satu sesepuh kampung mualaf pulau Caros dengan nada lirih.

Awang dan sesepuh lainnya sempat khawatir dengan kondisi seperti ini sebab bisa menjadi pintu masuk pihak lain untuk memengaruhi keyakinan warganya. Apalagi, selama ini tidak tersentuh pembinaan. Ada musholla tapi tidak ada yang bisa azan dan menjadi imam. Termasuk tidak ada guru yang dapat mengajari anak-anak dan warga baca tulis al-Qur’an.

Meski hidup di tengah kesulitan ekonomi, Awang tidak pernah berharap hadirnya bantuan apalagi hanya bersifat konsumtif. Baginya yang lebih penting bagaimana mempertahankan aqidah masyarakat setempat.

“Kami tidak berharap bantuan makanan atau sejenisnya. Meski sering kelaparan, kami hanya minta tempat shalat dan belajar yang layak dan guru untuk membina warga di sini,” tegasnya.

Kampung Muallaf Pulau Setengar

Setali tiga uang dengan kondisi pulau Caros, warga kampung muallaf yang ada di pulau Setengar juga menghadapi problematika yang sama. Selain kondisi tempat ibadah yang hampir roboh, mereka juga tak pernah memperoleh pembinaan.

“Kami ingin ada juga musholla untuk shalat serta belajar al-Qur’an buat anak-anak kami seperti di kampung-kampung lainnya,” tutur sesepuh yang dijuluki pak Imam dengan suara pelan.

Kampung muallaf ini dihuni sebanyak 15 KK. Jika malam hari, kondisi gelap gulita karena belum dialiri listrik. Untuk mendapat air bersih, warga harus mendayung sampan ke pulau-pulau sekitar yang tak berpenghuni. Fasilitas belajar juga belum ada, sehingga anak-anak setiap hari mendayung sampan ke Batam untuk sekolah.

Kehadiran kami disambut sumringah oleh warga salah satunya Mak Emin. Dengan dialek Melayu yang kental, wanita (60thn) kelahiran kampung ini mengungkapkan isi hatinya. Katanya, baru kali ini ada yang datang dan serius memperhatikan nasib warga setempat. Ia sangat berterimakasih atas perhatian yang diberikan tim BMH.

Kampung Muallaf Pulau Kojong

Perjalanan ke pulau Kojong ini memakan waktu sekira 6 jam dari kota Batam. Dari Batam kami naik kapal Feri menuju dermaga di kabupaten Lingga. Lalu perjalanan dilanjutkan menggunakan kapal carter dari Lingga menuju pulau Kojong.

Ada kisah menarik yang terekam saat kami bercengkerama dengan warga. Sekira 3 tahun silam, ada rombongan da’i dari Lingga ke kampung mereka. Kedatangan para da’i ini bersamaan dengan waktu shalat Zhuhur. Karena tidak ada musholla, rombongan da’i menunaikan shalat di atas hamparan pasir pantai.

Menurut pengakuan warga, untuk pertama kalinya, kumandang azan terdengar di pulau Kojong. Warga kemudian keluar dari rumah masing-masing, lalu bergabung sambil memperhatikan dan mengikuti gerakan shalat para da’i.

Sejak saat itulah dilakukan pembinaan. Namun, karena jaraknya yang cukup jauh dari kabupaten Lingga, pembinaan terputus. Warga pun berinisiatif membangun musholla secara swadaya. Shalat pun mulai dilaksanakan secara berjamaah.

Warga muallaf di pulau Kojong menghadapi kendala yang sama seperti sulitnya air bersih hingga tidak adanya fasilitas listrik. Pembinaan dari para da’i juga tidak ada lagi. Padahal, itu yang menjadi harapan terbesar mereka, yakni hadirnya para da’i yang bisa membersamai dan membina mereka.

Tantangan dakwah yang dihadapi para da’i di Kepri pun selaras dengan tantangan kehidupan para muallaf di gugusan pulau di tanah Melayu. Ada puluhan pulau lain yang penghuninya tak hanya mengalami kesulitan ekonomi tapi juga keterbatasan pemahaman keislaman. Isu pemurtadan pun selalu berembus tiap kali membahas kondisi para muallaf tersebut.

Hidayatullah melalui BMH bersinergi dengan DPW maupun DPD-DPD sekitar telah menyalurkan bantuan ke kampung-kampung muallaf tersebut baik sarana dan pra sarana seperti sumur bor, mendirikan rumah Qur’an, dan mushola. Selain itu, juga menempatkan para da’i atau guru untuk membimbing warganya.

Secara rutin (setiap tahun) pemerintah provinsi Kepri juga mengirim da’i ke pulau-pulau Hinterland (pulau penyangga) serta Mindland (pulau utama), dalam rangka memberikan bimbingan dan pembinaan. Menurut gubernur Kepri, Ansar Ahmad, yang ditemui oleh penulis usai Tabligh Akbar memperingati Isra’ Mi’raj di Batu 10, Tanjung Pinang, medio Februari lalu, tahun ini Pemrov Kepri menyebar 50 da’i ke pulau-pulau.

“Nanti akan kita evaluasi, jika berjalan baik, maka tahun depan jumlahnya akan ditambah,” jelas pria yang juga seorang da’i tersebut.*

Tulisan ini terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi Mei 2022