17.6 C
New York
Sabtu, Mei 18, 2024

Buy now

spot_img

Rumah, Tempat Nyaman Anak Bermain

Suatu ketika, salah seorang pegawai Khalifah Umar bin Khaththab bertamu ke rumahnya. Ia lantas masuk ke dalam rumah Umar. Pegawai itu heran melihat sang khalifah tiduran terlentang, sedang anak-anaknya bermain di sekitarnya. Raut mukanya memperlihatkan ketidaksenangannya terhadap anak-anak Umar yang sedang asyik bermain.

Melihat gelagat pegawainya, Khalifah Umar lantas bertanya, “Bagaimana Anda bersama keluarga di rumah?”

Ia menjawab, “Kalau aku masuk rumah, mereka semua langsung diam.”

Umar marah seraya berkata, “Keluarlah dari pekerjaan Anda! Sesungguhnya Anda tidak punya rasa kasih sayang terhadap keluarga Anda. Bagaimana Anda akan bisa memberikan kasih sayang terhadap umat Muhammad?” (Muhammad ‘Athiyyah al-Abrasi,  al-Tarbiyyah al-Islamiyyah wa Falsafatuha,  hal.37).

Kisah di atas memberikan pelajaran kepada para orangtua di rumah harus bersikap seperti apa kepada anak-anaknya. Keberadaan orangtua di rumah seyogyanya membuat anak-anaknya tetap nyaman bermain. Bahkan setidaknya, seperti dilakukan Umar, menemani anak-anaknya bermain.

Menurut ahli psikologi,  berbagi momen bersama anak menjadi hal yang penting, terutama di masa perkembangannya. Bermain dengan anak dapat mempererat ikatan emosional yang lebih dalam antara orangtua dan anak. Ikatan ini dapat menjadikan anak lebih nyaman dengan lingkungannya dan juga menjadi modal bagi anak untuk melatih kemampuan sosial dan emosi ketika besar nanti.

Sehat Sekaligus Menyenangkan

Bermain dapat membantu anak tumbuh menjadi sehat secara fisik dan psikis. Saat anak aktif bergerak, fungsi-fungsi organ tubuhnya juga ikut bekerja. Tubuh dapat membakar lemak, mengeluarkan racun lewat keringat, serta melatih otot-ototnya jadi lebih lentur dan kuat Ketika ditemani orang tua, anak akan merasa lebih aman untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat meningkatkan keberanian dan kepercayaan dirinya.

Adapun keuntungan bagi orangtua, ia dapat mengetahui tahap perkembangan anaknya lewat bermain bersama, baik dari sisi kognitif, motorik, sosial, dan bahasanya. Orangtua juga dapat merangsang tumbuh kembangnya melalui aktivitas keseharian yang bisa dilakukan bersama.

Berbagi momen bersama, terutama di masa-masa perkembangan anak sangat penting. Bermain bersama dapat mempererat ikatan emosional yang lebih dalam antara orang tua dan anak. Ikatan tersebut dapat menjadikan anak lebih nyaman dengan lingkungannya, sekaligus merasa mendapatkan dukungan terbaik dari orang tuanya.

Selain itu, pendampingan orangtua juga bisa membuat hubungan dengan anak menjadi lebih erat dan hangat. Ikatan yang baik di rumah dapat menjadi modal bagi anak untuk melatih kemampuan sosial dan emosi saat besar nanti.

Bermain bersama anak juga bisa mengurangi stres yang dialami oleh orangtua atau anak. Tak hanya orang tua, anak pun bisa merasakan stres. Dengan bermain bersama orang tua, rasa khawatir tersebut itu bisa berkurang banyak sehingga mencegah terjadinya stres pada anak. Karenanya, jadikan sesi bermain bersama lebih menyenangkan dengan tetap menjaga kesehatan dengan tidak berlebihan dalam bermain.

Sebagai orangtua, dengan meluangkan waktu bercanda bersama anak-anaknya, setidaknya mereka merasa lebih dekat dan merasa bahwa orangtuanya paham siapa mereka sebenarnya. Anak akan berani lebih terbuka bercerita apa pun yang dirasakan. Dan, validasi pertama yang ia dapatkan bukanlah dari orang lain.

Memang, meluangkan waktu bersama anak untuk ikut mendengarkan cerita mereka dan bercanda bersama memang tidaklah mudah. Apalagi untuk orangtua yang memiliki pekerjaan di kehidupan sehari-hari. Namun meluangkan waktu sebentar sekadar bercanda dengan anak merupakan perbuatan yang dianjurkan dalam Islam.

Salah seorang sahabat Rasulullah bernama Hadndzolah bercerita ketika bertemu dengan Abu Bakar. Ia bertanya, “Bagaimana keadaanmu duhai, Handzolah?”

Aku menjawab,  “Handzolah seorang munafik.”

Abu Bakar berkata, “Subhanallah, apa yang kau katakan?”

Aku berkata, “Dulu kami bersama Rasulullah, beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga seolah-olah kami mengingatnya, ketika kami keluar dari Rasulullah kami masih bermain dengan istri dan anak maka kami melupakan segalanya.”

Abu Bakar berkata, “Demi Allah, sesungguhnya kami juga menemui hal itu.”

Handzolah berkata, “Maka aku pergi bersama Abu Bakar menemui Rasulullah.”

Kemudian, aku berkata, “Handzolah telah menjadi orang munafik, ya Rasulullah.”

Maka Rasulullah bersabda: “Apakah yang dimaksud itu?”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu kami bersamamu dan engkau mengingatkan kami tentang surga dan neraka seolah olah kami melihatnya, setelah kami keluar dari mu, kami bermain dengan anak dan istri kami hingga kami banyak lupa (tentang surga dan neraka).”

Rasulullah bersabda: “Demi Dzat yang diriku ada pada genggamannya, andai kata kalian terus menerus di dekatku dan terus menerus berdzikir, niscaya para Malaikat akan berjabat tangan dengan kalian di kasur dan di jalan-jalan kalian.  Akan tetapi wahai Handzolah ada waktunya masing masing (kalimat ini di ulangi 3 kali).” (al Hadits).

Dalam sanad lain, Kemudian aku (Handzolah)  pulang ke rumah, lalu aku tertawa bersama anak-anak dan bersenang-senang dengan istri.”(Riwayat Shahih Muslim).

Dari Hadits di atas kita bisa memahami bahwa Rasulullah menganjurkan Abu Bakar dan Handzolah juga untuk meluangkan waktu bercanda dan bermain bersama keluarga dan istri dengan bersikap lembut dan menyenangkan hati mereka.

Penulis: Aba Faiz/Suara Hidayatullah

Tulisan ini terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi Agustus 2022

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles