Beranda Oase Raja Narkoba

Raja Narkoba

178

Lebih baik memiliki sedikit teman yang mengajak kepada kebaikan daripada memiliki banyak teman, tapi mengajak kepada keburukan

Adzan subuh berkumandang pertanda fajar mulai datang, aku segera bangun dan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Setiba di masjid, ramainya jamaah menjadi pemandangan indah bagiku. Meski banyak yang menatap aneh padaku karena sekujur badanku penuh tato hingga wajah, tapi tak lama kemudian mereka tersenyum dan menjabat tanganku. Lekas aku mengambil dua rakaat shalat sunnah.

Seusai itu, sambil menunggu iqamah, aku berusaha sekuat tenaga untuk bisa membaca Al-Qur’an. Sungguh saat ini aku merasa diselimuti kenikmatan-kenikmatan. Benar-benar  itu hadiah dari Allah SWT.

Dua Tahun Lalu

Menjadi bandar  di tiga daerah merupakan suatu kebanggaan yang luar biasa bagi pengedar narkoba. Mendapatkan julukan itu pasti akan dihormati orang-orang yang bergelut dengan narkoba. Inilah yang aku alami, raja narkoba di tiga daerah (Karanganyar, Sragen dan Wonogiri). Berpindah dari kabupaten ke kabupaten lainnya adalah aktivitasku. Apalagi kalau bukan mengedarkan narkoba kepada pelanggan, baik yang tetap maupun sekali beli.

Bergelut dengan narkoba tentu membuatku mengenal banyak orang, tidak sedikit dari mereka yang menjadi teman dekatku. Aku yakin mereka percaya kepadaku.

Karena aku bandar, rumahku pun menjadi salah satu markas. Aku lebih menyebut multifungsi, mulai tempat berkumpul, tempat kami memakai narkoba sampai pada tempat menginap teman-temanku. Satu hari, dua hari dan tak jarang sampai berbulan-bulan.

Waktu demi waktu terhabiskan bersama narkoba. Sampai pada akhirnya “bencana” menimpaku. Penggebrekan. Lima teman yang merupakan satu jaringan denganku tertangkap oleh polisi. Dan aku salah satunya yang tak tertangkap. Mereka mendekap di jeruji besi. Akupun mencari tempat bersembunyi, di manapun itu.

Hingga pada puncaknya aku mendengar kabar bahwa salah satu temanku yang di penjara meninggal dunia. Aku mulai panik, gelisah. Dan aku putuskan untuk meninggalkan kabupaten di mana selama ini menjadi tempatku bernafas. Aku lari ke Jakarta. Di sana aku semakin mengingat temanku yang meninggal. Dan itu membuat aku semakin gelisah, sekaligus membuatku ingat kematian.

Kejadian itu membuatku berpikir bahwa kematian itu pasti adanya. Apa aku akan seperti temanku? Dengan itu aku berniat ingin berhijrah. Di Jakarta aku mencari-cari komunitas hijrah. Namun, itu tak semudah membalik telapak tangan. Gagal tentu membuat aku semakin bingung. Beberapa waktu kemudian saya kembali ke kampung halaman. Aku menjadi orang rumahan, menetap di rumah selama tiga bulan. Meskipun sudah memiliki niat hijrah, saya masih kecanduan dengan barang-barang haram itu.

Tiga bulan di rumah tentu membuatku bosan. Aku kemudian berjalan-jalan lalu berhenti di sebuah warkop dan memesan kopi. Selama menikmati kopi jalan hijrahku mulai terbuka. Ternyata yang membuat kopi adalah salah satu komunitas hijrah. Allah akbar, tentu aku sangat bersyukur. Semangat hijrahku kembali menyala, aku diajak ngobrol-ngobrol. Aku beri tahu niatku bahwa aku ingin belajar.

Pertemuan dengan orang yang membuat kopi merupakan sebagian dari curahan kasih sayang Allah kepadaku. Sebelum curahan yang lebih besar lagi. Alhamdulillah, setelah pertemuan itu, jalan hijrahku semakin terbuka lebar. Aku diarahkan ke sebuah komunitas hijrah di Karanganyar. Salah seorang di komunitas ini namanya Mas Agus.

Belajar tentu membutuhkan kesabaran dan waktu yang panjang. Apalagi, aku yang masih sulit meninggalkan narkoba. Pernah sebelum menuju masjid untuk melaksanakan shalat, aku memakai narkoba.

Tantangan demi tantangan mulai menyerangku: sulitnya meninggalkan benda candu, mendapat hinaan dari teman, dan lain sebagainya. Itu semua menghalangi hijrahku. Aku down. Aku kembali menjadi rumahan, selama 2 bulan aku tak bekomunikasi dengan Mas Agus. Dia lalu datang ke rumahku mengajak kembali di jalan Allah. Alhamdulillah, Allah masih memberikan hidayah-Nya padaku. Aku mulai berjalan kembali, belajar semakin giat dengan Mas Agus.

Kasih sayang Allah lewat perantara Mas Agus sangat aku rasakan. Nikmatnya berjalan di jalan-Nya, shalat berjamaah, mendengarkan kajian, membaca al-Qur’an dan lain sebagainya. Tak merasa sendiri, walau hampir seluruh temanku yang dulu menjauhiku. Aku pun bersyukur, sebagian dari temanku ingin ikut denganku berhijrah. Dari itu aku membuat kesimpulan: lebih baik memiliki sedikit teman namun mengajak kepada kebaikan daripada memiliki banyak teman, namun mengajak kepada keburukan.

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (Riwayat Bukhari 5534 dan Muslim 2628).

*Penulis: Muhammad Aras

* Artikel ini terbit di rubrik Oase Majalah Suara Hidayatullah Edisi Januari 2020