Beranda Mutiara Quran Racun Sekularisme

Racun Sekularisme

210

Katakanlah (Muhammad): “Aku ini hanyaiah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, karena itu tetaplah kamu (beribadah) kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Dan celakalah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya. (Yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka ingkar terhadap (kehidupan) akhirat” (Fushshilat [41]: 6-7)racun sekularisme

MUQADDIMAH

Ciri khas dakwah tauhid, setiap nabi selalu memberi penegasan akan positioning dirinya sebagai hamba pe-suruh semata. Mereka hanyalah penyampai risalah dan pendakwah. Sedang asal mereka adalah manusia biasa seperti kebanyakan manusia lain.

Konsep tawassuth (pertengahan) ini patut selalu di-segarkan sebab umat Islam seringkali dijejali dengan syubhat segelintir manusia yang juga mengaku nabi dan punya ajaran baru setelah kenabian Muhammad Hg. Bahkan, tak jarang ada yang menjadikan manusia sebagai Tuhan yang disembah dan diibadahi.

Olehnya sebagai syariat penutup, ajaran Islam kem-bali menegaskan beberapa hak yang harus dipenuhi da-lam kehidupan manusia. Yang tertinggi adalah hak ke-tuhanan yang dipunyai oleh Allah semata. Kedua, hak kenabian bagi orang-orang mulia utusan Allah tersebut. Sedang yang terakhir, hak kemanusiaan buat seorang nabi dan keluarganya.

MAKNA AYAT

Penafsiran ayat dengan memakai ayat yang lain adalah cara yang dikenal dalam metode tafsir al-ayat bi al-ayat. Yaitu, yang dimaksud dengan orang-orang musyrik yang celaka pada ayat keenam tak lain mereka yang eng-gan menunaikan zakat dan ingkar terhadap Hari Ke-bangkitan nanti (ayat yang ketujuh).

Mufassir ternama, Imam al-Qurtubhi lalu menghim-pun pendapat mengenai ciri orang-orang yang terjangkiti virus syirik tersebut. Ibnu Abbas berkata, orang-orang musyrik disebut tidak menunaikan zakat dikarenakan tak pernah mengucapkan dua kalimat syahadat “La Ilaha Illallah” sebagai implikasi zakat (pembersih) atas jiwa mereka.

Senada dengan itu, berkata Qatadah, mereka meng-imani sebagian syariat Islam dan mengingkari sebagian lainnya. Sedang adh-Dhahhak dan Muqatil menyepakati, kelompok ini tak pernah bersedekah dan berinfak untune sebuah ketaatan di jalan Allah Hg.

Lebih jauh Imam az-Zamakhsyari pernah ditanya, apa hikmah Allah menggandengkan kekufuran se-seorang dengan keengganan membayar zakat? Ia ke-mudian menjawab, harta adalah sesuatu yang paling dicintai manusia. Ia belahan yang memenuhi hidup se-seorang selain ruh yang dimiliki. Sekiranya ia sanggup membelanjakan hartanya di jalan Allah $||, cukuplah itu sebagai bukti keimanan yang teguh serta kejujuran aga-ma pada dirinya.

Sebaliknya, orang-orang yang mengingkari perintah zakat adalah mereka yang patut dipertanyakan keimanannya.

Baca juga: Mudahnya Mengundang Berkah

BAHAYA SEKULARISME

Ayat di awal mengingatkan tentang pertarungan tanpa batas antara dua ideologi yang berseberangan dalam kehidupan manusia. Karena itu, cahaya tauhid itu tak pernah dibiarkan memendar begitu saja oleh pelaku syirik. Sebagai biang dari seluruh kegelapan dan kezaliman di dunia, perbuatan syirik itu akan selalu ditiupkan oleh orang-orang yang hatinya telah gulita bahkan mati.

Seiring zaman yang terus bergulir, kini umat Islam tak hanya dihadapkan kepada syirik sebagai the most enemy. Tapi berbagai pola pikir dan pola sikap yang sena-da juga mulai bermunculan atas nama aliran yang sesat dan pemahaman menyimpang. Mulai dari doktrin sesat Syiah hingga ragam pemikiran nyeleneh lainnya. Antara lain misalnya, paham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.

Parahnya, ide-ide itu seolah sudah “janjian” dan “se-jodoh” dengan budaya-budaya Barat yang tak kalah merusak. Mulai dari budaya hedonisme, materialisme, kapitalisme, dan lain sebagainya. Akibatnya mudah ditebak, yang jadi korban -sekali lagi- adalah umat Islam sebagai mayoritas penduduk di negeri ini.

Ayat di atas secara tersirat mengungkap kesamaan orang-orang musyrik dan mereka yang mengusung paham sekularisme, yaitu kesamaan semangat anti Tuhan dan anti hukum Tuhan. Tak sedikit di antara mereka berpikir picik, urusan Allah sudah selesai sejak pen-ciptaan bumi dan langit serta seisinya itu. Layaknya se-buah jam yang telah selesai dibuat, selebihnya biarkan jarum jam itu berputar dengan sendirinya. Tanpa perlu ada campur tangan lagi dari si tukang jam sebelumnya.

Sebab realitasnya, mereka yang berhaluan sekular acap tak ingin kehidupannya diatur agama. Seolah mereka berkata, urusan agama cocoknya kalau hari Jumat saat khatib naik mimbar. Atau setidaknya agama hanya mengurus shalat lima waktu atau tadarusan di masjid saja.

Ujung-ujungnya orang-orang sekulari itu berangga-pan, sebagian perintah dan larangan agama sudah tak lagi relevan dengan era modern sekarang. Secara sengaja, mereka terus menghembuskan syubhat dengan membenturkan Islam dengan konteks kekinian.

Ajaran yang sudah usang, demikian sanggah mereka selalu. Atau yang lebih “halus” mereka berdalih, jilbab adalah budaya bangsa Arab dan hanya cocok di masyarakat Arab. Alhasil, kewajiban berhijab bagi Muslimah hanya menjadi bahan canda dan cemoohan mereka. Zakat diganti dengan kewajiban pajak dan penarikan re-tribusi lainnya, itu celotehan mereka di berbagai media sosial.

BANGUN KESADARAN

Sejalan dengan kondisi internal umat Islam, kini pemikiran sekularisme perlahan mengular ke semua sisi kehidupan umat Islam. Satu demi satu spirit dan motivasi agama tercerabut dari kesadaran umat Islam. Termasuk di dalamnya aspek ilmu dan pendidikan sebagai benteng pertahanan setiap Muslim.

Tanpa sadar semangat menuntut ilmu tak lagi membuat hati seseorang menjadi kian dekat kepada Allah SWT. Orientasi keberhasilan murid hanya diukur dengan angka kognitif semata. Sedang ia lupa untuk meni adikan murid tersebut kian berakhlak bagus dan beradab.

Inilah yang hendaknya menjadi kegelisahan para guru dan orangtua. Sebab mereka sejatinya menjadi orang pertama yang meyakini belajar bagian dari ibadah. Bukan sekadar formalitas mendapatkan ijazah lalu melamar pekerjaan.

Para pendidik hendaknya menjadi barisan terdepan dalam menularkan keyakinan mereka, sekolah ataupun kuliah adalah jalan menuju surga. Bukan sekadar me-muluskan untuk mengais pekerjaan di kantor-kantor ataupun perusahaan bergengsi. Sebab di antara rusak-nya peradaban manusia karena mer eka hebat dengan pengetahuannya tapi jauh dari agamanya. ♦ Oleh Masykur Mahasiswa Pasca Sarja Jurisan Pemikiran Islam, Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor.