Polemik Sesajen

0
197
sumber gambar: sulsel.herald.id

Dalam upacara ritual tradisional, sesajen atau sesaji, adalah jamuan yang terdiri dari makanan, lauk pauk seperti ayam dan telur, nasi putih maupun bubur merah, kembang telon tiga warna, dan dilengkapi dengan dupa atau kemenyan.  Sesajen ini dibuat bertujuan untuk berkomunikasi dengan kekuatan supranatural tertinggi.

Belakangan sesajen menjadi viral setelah seorang relawan bencana erupsi Gunung Semeru Lumajang, melempar dan menendang sesajen ke dasar kawah. Adegan itu lalu diunggah ke media sosial dan memantik reaksi keras dari beberapa kalangan, terutama masyarakat Lumajang.

Polisi bertindak cepat dengan menangkap pelaku penendang sesajen itu. Setelah memeriksa, lalu menetapkannya sebagai tersangka. Ia dikenai pasal menyebarkan permusuhan dan terancam hukuman empat tahun penjara.

Kasus seperti ini memicu perdebatan lama tentang syariat Islam dan tradisi Jawa. Tradisi sesajen sudah menjadi bagian dari budaya Jawa yang mengakar di daerah-daerah pedesaan. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari sekadar telur, rokok kretek ataupun bunga, sampai yang paling mewah seperti kepala kerbau. Semua diyakini memiliki simbol dan makna tersendiri dengan tujuan masing-masing.

Kepercayaan Jawa kuno sebelum kedatangan Islam didominasi oleh animisme dan dinamisme, yang meyakini bahwa benda-benda seperti pohon, batu, gunung, laut, dan hutan punya roh yang menjadi penunggu. Roh-roh itu punya kekuatan untuk memberi keberuntungan dan sebaliknya, bisa mencelakakan.

Masyarakat primitif kemudian berkembang jadi masyarakat yang mempercayai metafisika, bahwa ada kekuatan besar yang mengendalikan dunia. Kemudian muncullah agama Hindu dan Budha yang mempunyai serangkaian kepercayaan dengan unsur mistik yang kuat.

Ketika Islam datang ke pulau Jawa pada abad ke-15, ajaran tauhid yang menjadi intinya secara diametral bertentangan dengan ajaran mistik Hindu. Tetapi, para pendakwah Islam yang dikenal sebagai Wali Songo, mengambil langkah dakwah yang kompromistis dengan banyak mengakomodasi keyakinan Hindu yang sudah menyatu dengan budaya lokal.

Karena itu, kemudian lahirlah Islam Jawa yang sinkretis yang merupakan paduan Islam serta sufisme yang banyak mengadopsi unsur mistik Jawa. Dengan strategi dakwah yang adaptif itu, Islam dapat diterima dengan mudah di Jawa. Islam Jawa lalu punya corak khas karena perpaduannya yang kental dengan mistisisme Jawa.

Prof Simuh pun melakukan studi yang mendalam terhadap praktik Islam mistis ini. Dalam ‘Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa’, Simuh melihat sufisme Jawa sebagai ajaran yang memiliki akar yang sama dengan tasawuf Islam.

Menurut Simuh, tasawuf bisa diartikan sebagai mistik yang tumbuh dalam Islam. Tujuan utama tasawuf untuk bersatu dengan Tuhan secara ma’rifat. Pokok-pokok ajaran tasawuf meliputi distansi ataupun jaga jarak dari nafsu dan urusan duniawi, dan konsentrasi atau memusatkan pikiran untuk berzikir kepada Allah. Puncaknya ialah tercapainya Insan Kamil, manusia sempurna, yang berhasil berhubungan dan menyatu dengan-Nya.

Perkembangan tasawuf lalu ditentang oleh para mujtahid yang lebih menekankan pemahaman Islam murni yang langsung bersumber kepada al-Qur’an serta Hadits. Tasawuf dinilai tidak sesuai dengan syariat dan menodai kemurnian ajaran Islam.

Ulama sufi Husain bin Mansyur atau terkenal sebagai al-Hallaj pun dihukum mati karena dianggap merusak tauhid. Setelah kematian al-Hallaj, pengikut sufi justru semakin militan. Kematian al-Hallaj malah dianggap sebagai jihad dan syahid, dan pertentangan antara syariat dengan tasawuf semakin meruncing.

Lalu muncullah Imam al-Ghazali, ahli syariat dan teolog yang kemudian menyusun landasan yang menyediakan ruang kompromi bagi syariat dan mistisisme. Melalui kitab Ihya’ ‘Ulumuddin Imam al-Ghazali menegaskan Islam dan tasawuf bisa saling mendukung dan menguatkan, bukannya saling menjatuhkan.

Sejak Islam masuk ke Jawa sufisme, Jawa berkembang pesat. Islam masuk melalui wilayah-wilayah pesisir Utara Jawa seperti Gresik, Tuban, serta Jepara. Dari ketiga tempat tersebut, Islam menyebar secara cepat ke seluruh pulau Jawa.

Islam dapat diterima dengan mudah, karena para wali maupun sufi menerapkan ajaran sufisme yang akrab dengan tradisi masyarakat setempat. Para wali dan sufi juga memakai pendekatan kompromistis dan akomodatif dalam kegiatan dakwah. Mereka tidak terlalu mempersoalkan kemurnian Islam serta menggunakan simbol tradisi seperti wayang, gamelan, dan tetembangan sebagai alat dakwah.

Lalu, gerakan pemurnian Islam di Timur Tengah yang dipelopori oleh Muhammad Abduh (1849-1905) di Mesir pun memengaruhi perkembangan Islam di Indonesia. Gerakan pembaruan lewat pendidikan maupun pengorganisasian gerakan secara modern menginspirasi ulama-ulama pembaru di Indonesia.

Sebelum gerakan reformasi Muhammad Abduh, gerakan pemurnian Islam dimulai di jazirah Arab dengan munculnya Muhammad bin Abdul Wahab pada abad ke 18. Abdul Wahab berkoalisi dengan pemimpin suku lokal bernama Muhammad ibnu Saud yang kemudian berhasil menguasai wilayah Arab—disatukan menjadi Saudi Arabia.

Koalisi Abdul Wahab beserta Ibnu Saud ini membawa gelombang baru pemurnian ajaran Islam yang membawa pengaruh ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Keberhasilan Arab Saudi menemukan sumber minyak pada 1970-an menjadikan negara itu sebagai sentra kekuatan baru Islam, bahkan sebagai pemimpin gerakan Islam yang sangat berpengaruh.

Ajaran pemurnian yang kemudian disebut sebagai ‘’Wahabisme’’ itu berkembang di Indonesia. Ajaran Wahabisme ini bersikap tegas terhadap budaya-budaya lokal yang dianggap mencemari kemurnian tauhid. Wahabisme-Salafisme melakukan pemurnian dengan cara kembali ke ajaran ‘’salaf’’ yang dianggap original sesuai dengan al-Qur’an dan Hadits.

Di Indonesia gerakan pemurnian itupun sering berbenturan dengan Sufisme Jawa yang sudah menjadi aliran mainstream dalam masyarakat. Benturan ideologis ini sering mewujud dalam benturan sosial yang berujung kepada kegaduhan bahkan kerusuhan.

Contoh, di Nusa Tenggara Barat (NTB), sebuah masjid dan pesantren dibakar oleh sekelompok warga, yang tersinggung karena seorang pendakwah Salafi dianggap melecehkan tradisi ziarah kubur para wali yang sudah menjadi tradisi lokal.

Lalu, penangkapan pelaku penendang sesajen di Gunung Semeru, adalah bentuk lain dari benturan itu. Dua peristiwa itu hampir pasti bukan insiden yang terakhir. Benturan-benturan baru masih akan terus terjadi, karena ada kepentingan politik yang menunggangi.

Penulis: Dhimam Abror Djuraid (Wartawan Senior)

Tulisan ini terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi Februari 2022.