Pesantren di Tengah Hutan

0
210

Kiprah para da’i muda hingga mampu membangun satu-satunya pesantren di Kepulauan Aru.

Ustadz Sulaiman Ismail sempat bingung ketika pertama kali bertugas di Dobo, Kepulauan Aru. Ia ingin sekali mendirikan pesantren, tapi dari mana harus memulainya?

Modal untuk membeli lahan tak ada. Jangankan untuk membangun pesantren, sekadar biaya keseharian saja masih harus berpikir keras.

Sulaiman sendiri meyakini bahwa pesantren adalah solusi mengatasi persoalan dakwah di kabupaten seratus pulau ini. Pulau-pulaunya sulit dijangkau. Mengapa tidak dicetak saja para da’i muda di sebuah pesantren, lalu kelak mereka disebar ke pulau-pulau tersebut?

Bagi Sulaiman, berdakwah di sejumlah pulau di wilayah Maluku bukanlah hal baru. Ia pernah tinggal dan berdakwah di Kampung Jerukin, Pulau Maikoor, selama 1 tahun. Juga pernah menetap di Bula selama 7 tahun, di Pulau Key Besar selama 1 tahun, serta Key Kecil selama 2 tahun. Tapi, ia belum pernah ditugaskan di Dobo.

Tahun 2018, sebuah SK (Surat Keputusan) diterima Sulaiman dari Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Maluku. Ia harus pindah dari Jerukin ke Dobo.

Dicurigai

Tiba di Dobo, Sulaiman tak punya tempat menginap. Untunglah Allah Ta’ala mempertemukannya dengan seorang pengusaha sayuran bernama Baso Daeng.

Baso mempersilakan Sulaiman tinggal di rumahnya. Ia juga mengajarkan bagaimana caranya bertanam kangkung. Kata Baso, berjualan sayuran di Dobo memang menjanjikan. Harga 150 ikat kangkung saja bisa mencapai Rp 500 ribu.

Langkah pertama yang dilakukan Sulaiman untuk mewujudkan impian adalah memperbanyak silaturrahim. Didatanginya siapa saja yang mau membantu mendirikan pesantren. Alhamdulillah, Allah  mempertemukan dengan Sukahar, pengusaha perikanan asal Pati (Jateng).

“Saya ini tidak banyak paham soal agama. Tapi saya ingin berbuat sesuatu untuk Islam. Saya ingin bermanfaat bagi orang lain,” kata Sukahar kepada Suara Hidayatullah dalam perbincangan selepas Isya’ di rumahnya, Ahad (24/9).

Sulaiman dan Sukahar kemudian mencari lahan yang cocok untuk pesantren. Rupanya tak semudah rencana. Selama beberapa hari berkeliling kota Dobo, mereka belum menemukannya.

Saat rasa frustrasi mulai muncul, Allah pertemukan mereka dengan seorang ibu mualaf. Dia memiliki lahan 2 hektar di Desa Durjela, kira-kira 7 kilometer dari pusat kota Dobo.

Masalahnya, lokasi lahan tersebut tidak berada di pinggir jalan besar, melainkan di tengah hutan belukar. Untuk sampai ke lokasi, perlu berjalan kaki selama setengah jam melewati jalan tanah setapak. Bila hujan turun, jalanan itu becek.

Sulaiman tidak mundur. Tekadnya tetap bulat untuk mendirikan pesantren.

Ujian kembali datang. Sejumlah masyarakat sekitar lahan merasa curiga dan bertanya-tanya, mengapa pesantren harus berdiri di tengah hutan? Jangan-jangan membawa ajaran sesat.

Ketika itu, Sulaiman sendiri juga bingung bagaimana caranya membersihkan semak belukar di lahan seluas 2 hektar? Jika sendiri, jelas tak akan sanggup.

Teringat ia dengan komandan Batalyon Infanteri 734 yang beberapa kali mengundangnya menjadi khatib Jum’at. Pikir Sulaiman, barangkali sang komandan bisa membantu mengatasi persoalan ini.

Tanpa disangka, sang komandan bersedia mengirimkan 20 tentara untuk membersihkan lahan. Hanya butuh waktu dua hari, semak belukar langsung bersih.

Alhamdulillah, Pak Komandan sendiri yang memimpin pembersihan itu,” kenang Sulaiman.

Kecurigaan masyarakat menjadi sirna setelah melihat para tentara ikut membantu membersihkan lahan. Apalagi Kepala Desa Durjela, Markus Kobrua, juga mendukung pembangunan pesantren. “Pak Markus banyak membantu kami mengurus akta tanah,” jelas Sulaiman.

Perahu Dakwah

Lahan pun siap. Selanjutnya dibangun masjid panggung berukuran 8 x 8 meter, di dekat jalan masuk pesantren. Dindingnya terbuat dari papan. Begitu juga lantainya. Masjid itu diberi nama Ibadurrahman.

Berikutnya dibangun asrama santri dan pengasuh, di sisi berseberangan dengan masjid. Di sampingnya ada bak air dan sumur bor, tempat para santri mandi dan berwudhu. Sebuah gazebo berdiri di tengah-tengah antara asrama dan masjid, tempat para santri belajar al-Qur’an.

Jumlah santri baru tujuh 7 orang. Mereka berasal dari pulau-pulau kecil di Kepulauan Aru. Usianya masih belasan tahun, namun sangat antusias belajar. Beberapa di antara sudah hafal beberapa juz al-Qur’an.

Ormas Hidayatullah kemudian mengirim tiga da’i muda. Pertama bernama Jumadil Azhar. Usianya 24 tahun, baru beberapa bulan lalu lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan.

“Awalnya saya ditugaskan ke Ambon. Tapi, DPW Hidayatullah Maluku meminta saya bertugas di Dobo,” akunya.

Jumadil mengaku senang bertugas di Dobo sebab punya banyak pengalaman. Selain mengajar para santri, ia juga sering diminta khutbah di beberapa instansi di kota Dobo, termasuk Kantor Polres Kepulauan Aru.

Da’i muda kedua adalah Evan Alfarisi, baru lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Muhammad Natsir, Jakarta. Usianya 26 tahun.

Sedangkan da’i muda ketiga adalah Ari Tuhutelo, lulusan Ma’had an-Nuaimy, Jakarta. Ia belum diwisuda, namun sudah ditugaskan dan sudah 8 bulan tinggal di Pesantren Hidayatullah Dobo.

Selama menetap di Dobo, ketiganya belum pernah mengunjungi pulau lain. “Transportasi di sini susah,” kata Jumadil.

Padahal, Jumadil ingin sekali mengajak para remaja di berbagai pulau tersebut untuk belajar di Pesantren Hidayatullah Dobo. Namun, belum ada perahu yang bisa digunakan.

Hari Sabtu, 23/9/2021, Allah mengabulkan keinginan Jumadil. Pesantren Hidayatullah Dobo menerima bantuan sebuah perahu dakwah berukuran 11x 2 meter dari beberapa orang muhsinin. Perahu seberat 5 ton tersebut mampu mengangkut sekitar 15 orang.

Kini, Pesantren Hidayatullah menjadi satu-satunya pesantren di kabupaten seratus pulau. Memang kondisinya masih serba terbatas, tapi setidaknya membuka harapan munculnya mutiara-mutiara baru penyeru tauhid di Kepulauan Aru.*

Tulisan ini terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi November 2021.