Beranda Jendela Keluarga Celah Yuk, Perbaiki Kesalahan Dengan Kebaikan, Bukan Dengan Cemohan.

Yuk, Perbaiki Kesalahan Dengan Kebaikan, Bukan Dengan Cemohan.

220

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, sebab kodratnya manusia adalah begitu. Namun, bukan berarti dengan kesalahan membuat manusia harus putus asa dan terlabeli dengan keburukan, sehingga membuatnya susah untuk memperbaiki kesalahan.

Bahkan dari sebuah kesalahan dapat menghantarkan seseorang menjadi lebih baik. Dengan catatan lingkungan mendukung untuk melakukan perbaikan akan kesalahan, serta yang bersangkutan juga terpacu untuk memperbaikinya.

Artikel berikut, sangat istimewa. Sebuah artikel yang ditulis oleh seorang Penulis Buku Serial Catatan Parenting Mendidik Karakter dengan Karakter serta nara sumber acara parenting yang sudah cukup melanglang buana Teh IDA S. WIDAYANTI, dan artikel ini sudah di muat di Majalah Hidayatullah tahun 2015 yang lalu. Semoga bermanfaat dan terus memberikan pencerahan.

Memperbaiki Kesalahan

OLEH IDA S. WIDAYANTI*

Seorang ibu bercerita. Suatu hari suaminya ketinggalan sebuah alat yang akan dipresentasikan, padahal ia sudah tiba di tempat acara. Dalam keadaan bingung si suami menelepon istrinya meminta tolong untuk mengantarkan alat tersebut. Suaminya tahu kalau istrinya tidak mungkin bisa mengantarkan alat tersebut. Yang me-mungkinkan adalah menyuruh anak lelakinya.Memperbaiki Kesalahan

Ketika si ibu memasuki kamar anak suIungnya, ia tampak sedang tertidur lelap. Di meja belajarnya ber-tumpuk kertas dan buku, ia semalaman kurang tidur mengerjakan tugas kuliahnya. Si ibu bimbang dan tidak tega membangunkan anaknya. Terlebih mengingat tempat acara yang cukup jauh. Si anak harus menggunakan ojek ke stasiun kereta api. Lalu ia naik kereta api ke suatu tempat. Jika mau cepat, dari stasiun harus menggunakan ojek lagi ke tempat yang dituju.

Namun karena tugas penting suaminya, akhirnya dengan iba si ibu membangunkan anaknya dengan lembut dan menceritakan apa yang terjadi. Si ibu mengira anaknya akan marah lalu menolaknya. Tapi anaknya bangun dan bergegas mengantar alat tersebut. Melihat hal itu si ibu kaget. “Jika anak saya menolak, saya bisa mengerti karena itu kesalahan ayahnya.”

Menurut si ibu, jika hal seperti itu terjadi pada anaknya, si ayah bisa marah.

Si anak akan dibilang ceroboh dan mungkin tidak akan dibantu dengan alasan shock theraphy dan memberi pelajaran. Betapa seringnya si ayah marah pada anak sulungnya, bahkan untuk hal sepele.

“Saya sangat terharu, betapa ia menerima kesalahan ayahnya, dan mau membantunya walaupun saya tahu ia dalam ke-adaan lelah dan kurang tidur.”

Kisah tersebut mengajak kita untuk belajar pada anak-anak tentang bagaimana merespon kesalahan. Saat anak-anak melakukan kesalahan, seringkali orangtua fokus pada kesalahan si anak dan bukan pada pembelajarannya. Banyak orangtua yang malah memberi label ceroboh atau pemalas.

Jika kita amati lebih jauh, banyak fenomena orangtua yang merespon kesalahan anak dengan cara kontra produktif. Saat seorang anak menjatuhkan atau memecahkan barang kadang mendapat lebel, “Mau bikin repot orangtua, ya!” atau, “Dari tadi kerjaannya bikin pusing orangtua terus!”

Akan lebih baik, dengan tenang kita mendatangi anak dan menanyakan apa yang terjadi agar anak memikirkan sebabnya. Jika anak ditanya tanpa menyalahkan, anak dapat menjawab, misalnya “tadi aku berjalan terburu-buru lalu aku menyenggol meja yang ada gelasnya sehingga gelas terjatuh.” Setelah itu, orangtua mengajak anak menyelesaikan masalahnya dan mengatakan bahwa pecahan gelas yang tajam bisa melukai kakijadi harus segera dibersihkan. Jika anak belum mampu melakukan semua tugasnya, orangtua bisa membantunya. Namun tetap memberi kesempatan pada anak untuk bertanggung jawab. Setelah selesai, anak kita bisa diajak bicara lagi bahwa lain kali jika berjalan harus fokus dan kontrol sehingga tidak menyenggol atau menabrak benda-benda lain.

Dengan tetap fokus pada hal positif dan mengutamakan untuk menyelesaikan masalah, mereka akan menjadi orang-orang yang selalu belajar dari kesalahan dan bijak menghadapinya. Juga mereka akan terhindar dari labelling atau julukan negatif yang menimbulkan perasaan bersalah dan sakit hati. (MUH ABDUS SYAKUR/SUARA HIDAYATULLAH)