Beranda Hikmah Nasihat Pemabuk Kepada Imam Ahmad

Nasihat Pemabuk Kepada Imam Ahmad

232

Nasihat Pemabuk Kepada Imam Ahmad–Peluh darah masih mengucur dari wajah Imam Ahmad bin Hanbal. Kedua tangannya terikat erat dengan rantai besi. Sekujur tubuhnya pe-nuh dengan sayatan luka akibat deraan cemeti. Ia baru saja diseret masuk penjara kembali. Entah ini hari keberapa ia dianiaya seperti itu. Ia sendiri tak ingat lagi. Ingatannya tersangkut hanya ketika diri-nya diseret dan dicambuk oleh sang algojo. Setelah itu, ia pingsan dan tak ingat apa-apa lagi. Tak jarang ia sadar dan mendapati dirinya sudah kembali meringkuk di dalam bui.Nasihat Pemabuk Kepada Imam Ahmad

Hari terus berganti. Suatu ketika seorang rekan “se-penanggungan” Imam Ahmad bertanya. Apa pasal hing-ga ia disiksa sedemikian hebat oleh penguasa zalim kala itu? Usai menyimak penuturan sang imam, orang itu berkata, “Wahai Imam Ahmad, tak sepantasnya engkau mengeluh hanya karena cambuk yang menderamu. Te-guhlah engkau. Sesungguhnya kamu dihukum dera ka-rena (urusan) agama dan kebaikan. Sungguh aku keluar masuk sel dan dicambuk berkali-kali hanya gara-gara minuman keras. Itu pun aku tetap bersabar.”

Sunnatullah kehidupan adalah keniscayaan hidup. Ia harus dilewati oleh setiap manusia yang berjalan mena-paki jejak kehidupan. Ada hidup, ada mati. Ada suka, ada lara. Ada letih, ada semangat. Ada kalah, ada menang. Ada pemenang, ada pecundang, itulah ketetapan Allah bagi manusia sebagai fitrah yang berlaku. Ibarat pa-kaian yang saling melengkapi pasangannya. Seperti itu-lah gemerlap warna dunia. Ia jadi indah dijalani justru ketika tak didominasi oleh satu warna saja. Pelangi itu elok dipandang karena ia dipenuhi oleh ragam warna. Menjadikan mata tak bosan memandangnya.

Sejatinya, itulah skenario Allah Hg dalam mendidik hamba-hamba-Nya. Menjadikan mereka kian kokoh teruji dalam berbagai tempaan hidup. Meski berlabel “makhluk yang paling sempurna” serta dicurahi selaksa nikmat dari Allah Hg, tetap saja di hadapan Sang Khaliq, manusia adalah makhluk yang hina dan lemah. Dengan pijakan seperti itu, niscaya orang beriman senantiasa tegar dalam setiap urusan. Baginya segala persoalan yang dihadapi adalah metode tarbiyah dari Allah SWT. Menjadikan dirinya kian dekat kepada Allah SWT. Allah menetapkan pergiliran itu sebagai bagian dari kuasa-Nya yang mutlak.

Bagi orang beriman, apa yang mereka temui ketika berusaha menegakkan sunnah, sesungguhnya persis sa-ma dengan orang-orang yang sedang mengejar dunia, atau orang yang tenggelam dalam kubang kemaksiatan. Setiap lakon kehidupan butuh usaha dan pengorbanan. Apa pun niat dan tujuannya kelak.

Inilah yang diisyaratkan dalam kisah “pelarian” Nabi Yusuf dan istri pembesar kerajaan Mesir di dalam al-Qur’an. “Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata, ‘Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (Yusuf [12]: 25).

Saat itu, Nabi Yusuf menampik tawaran hasrat maksiat Zulaikha yang sedang dilanda gelora asmara. Meski sudah berada di dalam kamar yang terkunci, Yusuf te-tap berusaha menghindar. Hingga akhirnya ia lari dan disusul oleh Zulaikha yang mengejarnya dari belakang. Ayat ini melukiskan dua orang yang melakukan per-buatan yang sama. Tapi keduanya berbeda dalam nilai dan tujuan. Terkesan semisal, tapi sesungguhnya ia tak serupa. Bak langit dan bumi. Orientasi dan niat suatu pekerjaan itulah yang menjadi patok pembeda kelak di antara keduanya.

Secara kasat mata, ketika Nabi Yusuf dan Zulaikha saling berpacu mendekati pintu. Boleh jadi ada asumsi, keduanya sedang menguras energi dengan pengorbanan sama. Dalam pandangan sederhana, seolah keduanya berpeluh dengan keringat yang sama dalam sprint dadakan tersebut. Atau mungkin ada yang berdalih, toh mereka berdua sudah sama-sama di dalam kamar dan saling berlari menuju pintu. Tapi, sekali lagi, di sisi Allah keduanya memperoleh hasil yang berbeda. Sebab ada nilai yang tak sama ketika perbuatan itu didasari dengan dorongan ilmu dan keimanan kepada Allah

Inilah sesungguhnya spirit yang menguatkan Imam Ahmad. Meski punggungnya dihujani ratusan kali cemeti oleh algojo, ia tetap kokoh bertahan dalam deraan. Sebab ia meyakini tak ada kamus kalah bagi orang beriman, selama ia berada di atas rel keimanan dan ketaatan kepada Allah. Baginya, semua itu lakon yang dipergilirkan bagi setiap hamba-Nya. Ia media tarbiyah yang menjadikan dirinya kian merasakan pertolongan Allah semata.

Sejenak murid kesayangan Imam Syafi’i itu tertegun. Ingatannya menyusuri lorong-lorong panjang perjalanan keimanannya. Ia tersadar, jika seseorang pemabuk saja sanggup bersabar dalam kemaksiatannya, lalu mengapa ia tak mampu bersabar dalam menapak jejak-jejak mu-lia para anbiya (nabi-nabi Allah). Mengapa diri ini ma-sih saja mengeluh sedang ia juga meyakini ada tangan bidadari yang telah melambai di taman-taman surga. “Sejak mendengar nasihat itu, aku tak pernah merasa perih lagi meski harus dicambuk berkali-kali,” ucap Imam Ahmad mengenang ucapan sang pemabuk, sahabat sepenanggungannya di dalam sel kota Baghdad, Iraq.

Baca Juga : Sok Tahu, Bukti Sempitnya Ilmu.

Boleh jadi, inilah rahasia di balik masa gemilang para sahabat yang hidup bersama Nabi Muhammad Sekumpulan manusia biasa yang lalu dikenang sebagai generasi terbaik sepanjang sejarah kehidupan. “Sebaik-baik generasi adalah masa para sahabat yang menyer-taiku” Sabda Nabi SAW mendaulat sahabat-sahabat ter-baiknya. Sebab mereka yakin, imbalan Allah selalu lebih baik daripada apa yang dijanjikan oleh manusia. Mereka punya pendirian, ada nilai yang berbeda jika kehidupan itu disandarkan seutuhnya kepada apa yang dituntunkan oleh Nabi SAW.

Meski di antara mereka kemudian ada yang tersayat sabetan pedang. Terluka oleh lemparan tombak. Bahkan mereka yang gugur terbunuh di medan perang sekalipun. Semuanya punya keyakinan. Inilah harga mahal sebuah perjuangan yang butuh pengorbanan. Inilah satu-satu-nya jalan yang tak bisa ditukar dengan nilai apapun jua. Bahwa harapan itu hanyalah milik orang-orang beriman. Janji surga itu hanya disediakan bagi orang-orang yang bertauhid. Para pejuang dakwah dan agama. Bukan un-tuk mereka yang kufur dan mengingkari nikmat-nikmat Allah SWT.

Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedangkamu mengharap daripada Allah apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa [4]: 104). Wallahu a’lam bish shawab. • OLEH MASYKUR Mahasiswa pasca sarjana Fakultas Pendidikan Islam, Jurusan Pemikiran Islam di Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Bogor.