Beranda Mutiara Hadist Nasihat Nabi, Penyejuk Jiwa!!

Nasihat Nabi, Penyejuk Jiwa!!

493

Dari Abu Ayyub al-Anshari, seorang laki-laki menemui Nabi ^ lalu berkata, “Ya Rasulullah. Berilah aku nasihat yang ringkas” Maka beliau bersabda: “Kalau Engkau mengerjakan shalat maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak meninggalkan (dunia). Jangan berbicara dengan satu kalimat yang esok hari kamu akan meminta uzur karena ucapan itu. Dan perbanyaklah rasa putus asa terhadap apa yang di tangan orang lain” [Dikeluarkan oleh Ahmad (5/412), Ibnu Majah (4171), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (1/462) Al-Mizzi (19/347) dan lihat Ash-Shahihah (401)].

PENGANTAR

Seorang dikatakan mulia bukan karena harta, jabatan atau popularitas. Allah memuliakan hamba karena kesalehan dan ketakwaannya. Tanpa kesalehan seseorang akan dihinakan meski hartanya melimpah, jabatannya mentereng, popularitasnya menjulang.

Sangat tepat jika kesalehan dijadikan target yang selalu dikejar. Inilah yang dilakukan para Sahabat. Silih berganti mereka menemui Nabi SAW bukan untuk meminta bantuan berupa materi. Mereka menemui Nabi SAW untuk bertanya resep menjadi hamba yang saleh.

Alhamdulillah nasihat, wasiat dan petuah Nabi SAW kepada Sahabatnya terdokumentasikan dalam kitab-kitab Hadits. Artinya, meski kita tidak bertemu Nabi kita bisa merasakan tarbiyahnya melalui petuah, nasihat yang tertulis dalam Hadits. Nasihat-nasihat itulah yang mentarbiyah para Sahabat hingga mereka mencapai kesalehan yang menakjubkan.nasihat nabi penyejuk  jiwa

MAKNA HADITS

Hadits di atas berisi pesan Rasulullah kepada seorang Sahabatnya. Meski secara redaksional nasihat itu ditujukan kepada lelaki yang meminta nasihat, namun sejatinya nasihat itu juga ditujukan kepada segenap umatnya.

Ada tiga nasihat dan wasiat Rasulullah dalam Hadits tersebut. Ketiganya merupakan pilar penting dalam mencapai kesalehan.

Namun tidak mudah mengamalkan tiga pesan itu. Tetapi jika ada upaya maksimal dari kita, Allah Hg pasti membantu kita. Karenanya, dalam setiap ikhtiar yang kita lakukan jangan pernah luput untuk meminta pertolongan Allah SWT. Besar kecilnya pertolongan yang kita dapatkan, erat kaitannya dengan usaha dan doa yang kita panjatkan.

SHALAT KHUSYUK

Rasulullah mengawali nasihatnya dengan memerintahkan shalat seolah itu shalat terakhir. Maksudnya, saat menjalankan shalat kita harus menghadirkan dalam jiwa bahwa kematian itu sangat dekat. Perasaan seperti ini akan menjadi pendorong kuat untuk mencapai kekhusyukan. Sebab penghalang utama khusyuk dalam shalat yaitu raibnya dari pikiran kita perasaan bahwa ke-matian itu sangat dekat.

Kita semua tentu tahu betapa dahsyatnya efek shalat yang khusyuk dalam perilaku dan kepribadian seseorang. Shalat yang khusyuk adalah kunci segala kebaikan. Dengan shalat yang khusyuk seorang terhindar dari perilaku keji dan mungkar. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar’.’ (Al-Ankabut [29]: 45).

Dalam al-Qur’an bahkan Allah SWT menjadikan shalat sebagai sebab meraih pertolongan-Nya. Allah berfirman: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” (Al-Baqarah [2]: 45).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut, “Allah Azza wajalla memerintahkan para hamba-Nya untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong dalam hal mencapai kebaikan dunia dan akhirat.’

MENJAGA LISAN

Lisan adalah organ yang paling rawan dan mudah melakukan dosa. Karenanya, ia butuh penjagaan yang ekstra ketat. Abdullah bin Mas’ud pernah berkata, “Tidak ada yang paling mendesak untuk dipenjara dalam waktu yang lama selain daripada lisan.’

Di hadapan Muadz, Rasulullah SAW pernah memegang lidahnya seraya bersabda, “Jagalah ini” Muadz berakta, “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa dengan sebab perkataan kita?” Nabi menjawab: “Semoga ibumu kehilanganmu! (sebuah ungkapan agar perkataan selanjutnya diperhatikan). Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah mereka atau di atas hidung mereka melainkan dengan sebab lisan mereka” (Riwayat At-Tirmizi).

Dengan lisan seorang bisa mengucapkan kata-kata kufur yang menyebabkan ia keluar dari Islam. Seringkali lisan juga menjadi senjata pamungkas untuk melukai hati orang. Intinya, banyak dosa yang bisa dilakukan oleh lisan jika tidak dikawal dengan ketat.

QANA’AH

Sebab utama kegelisahan dalam hidup ini jika pada diri seseorang terdapat sifat tamak. Berapa pun yang Allah berikan tidak pernah cukup. Karena merasa tidak cukup, maka ia berusaha untuk mencukupinya. Namun manusia tidak akan pernah puas. Selama ambisi dan sifat tamak itu dilayani, keinginan tidak akan pernah berhenti. Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat” (Muttafaqun ‘alaih).

Untuk mengatasi masalah yang berat Rasulullah berpesan, “Dan perbanyaklah rasa putus asa terhadap apa yang di tangan orang lain” Syaikh Abdurazzaq al-Badar berkata, “Dalam Hadits ini terdapat seruan untuk memiliki sifat qanaah dan menggantungkan urusan secara sempurna hanya kepada Allah.”

Qanaah memiliki efek yang dahsyat dalam kehidupan seseorang. Dalam kondisi kekurangan sekalipun kita akan merasa berkecukupan jika ada sifat qanaah dalam diri kita. Rasulullah SAW bersabda, “Peliharalah diri dari yang diharamkan, niscaya kamu menjadi manusia yang paling beribadah, ridhalah dengan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau menjadi manusia yang paling kaya.” (Riwayat Ahmad).

Baca Juga : Jadikan Musibah Sebagai Nasihat

SENANG DINASIHATI

Banyak orang yang bisa memberi nasihat. Tapi menerima nasihat dengan lapang dada kadang berat dan mengganjal. Kedua telinga mungkin mendengar tapi hati menggerutu.

Hadits di atas secara tersirat mengajarkan kita untuk senang dinasihati. Dalam Hadits tersebut, Abu Ayyub tidak saja meriwayatkan pesan Nabi SAW tetapi juga menceritakan proses terlontarnya pesan mulia ini.

Inilah ciri khas para Sahabat. Mereka semangat dalam memberi nasihat dan juga senang ketika dinasihati. Bahkan mereka yang proaktif mencari nasihat. Semoga kita diberikan taufik untuk mengikuti jejak mereka. Aamiin. ♦ Oleh Ahmad Rifa’i Pengajar di Pesantren Hidayatullah Balikpapan