Menelisik Nama Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsha

0
510
sumber gambar: www.repunlika.id

Apa arti kata al-quds? Mengapa disebut Baitul Maqdis dan Masjid al-Aqsha?

Pada abad pertama dan ke-2 Hijriyah, belum bisa ditemukan kitab-kitab tertentu yang khusus mengumpulkan tentang keutamaan-keutamaan suatu wilayah atau kota. Tapi, Hasan al-Bashri—wafat tahun 110 H, dari masa pertengahan Tabi’inpernah menulis mengenai keutamaan kota Makkah. Tulisan ini terdiri 8 halaman, kini tersimpan di Perpustakaan Raza Rampur, India, bernomor 3609, dan disimpan oleh The Institute of Arabic Manuscripts Mesir dalam gambar nomor 3032.

Keutamaan Makkah dan Madinah diriwayatkan dalam beberapa Hadits dan kisah-kisah diniyah. Hal ini tercatat di dalam buku-buku sunnah nabawiyah dan lainnya seperti al-Fara’id karya Imam Sufyan ats-Tsauri, wafat tahun 161 H, tercantum di bab Keutamaan Kota Madinah.

Pada abad ke-3 Hijriyah muncul beberapa kitab yang menuliskan soal keutamaan-keutamaan itu. Beberapa di antaranya yang terkenal adalah:

  • Berita Makkah al-Musyarafah oleh Abu Walid al-Azraqi, wafat tahun 222 H. Ini adalah buku tertua yang hanya khusus menuliskan tentang keutamaan-keutamaan itu.
  • Berita Madinah oleh Ibnu Syazan al-Wasiti, wafat tahun 246 H.
  • Para Sahabat yang Menetap di Palestina oleh Musa bin Sahl bin Qadim al-Ramli, wafat tahun 261 H.
  • Berita Madinah, Berita Makkah, dan Berita Ahlul Madinah. Ketiga kitab ini ditulis oleh ‘Umar bin Syabah an-Numairi, wafat tahun 264 H.
  • Berita Makkah oleh al-Fakihi, wafat tahun 272 H.
  • Keutamaan-keutamaan Baghdad dan Beritanya oleh Abu Abbas Ahmad Sarkhasi at-Tayib, wafat tahun 286 H.
  • Keutamaan Makkah dan Keutamaan Madinah, keduanya ditulis oleh Abu Sa’id al-Mufadhal bin Muhammad bin Ibrahim al-Jundi asy-Sya’bi, wafat tahun 308 H.

Setelah itu, banyak bermunculan kitab-kitab dan tulisan tentang sejarah negeri-negeri dan kota-kota.

Baitul Maqdis dan Masjid al-Aqsha

Para ahli bahasa dan yang lainnya mengatakan, bahwa arti al-quds dengan huruf dal yang berharakat sukun atau dhammah, maknanya adalah bersih dan berkah. Sedang at-taqdis artinya membersihkan dan mensucikan Allah Yang Maha Tinggi, Maha Perkasa, lagi Maha Agung dari apa yang tidak pantas bagi-Nya.

Makna Baitul Maqdis dengan harakat fathah pada huruf mim, sukun pada huruf qaf, dan kasrah pada huruf dal atau dhammah pada mim, fathah pada qaf, dan huruf dal tasydid, artinya adalah rumah yang bersih. Yakni bersih dari dosa-dosa.

Makna di atas diuraikan dalam berbagai kitab, misalnya Hadzihil Ma’aany min ash-Shahhah (Ismail bin Hammad al-Jauhari), Lisaanul Arab (Jamaluddin Muhammad bin Makram al-Anshari), Maraashid al-Ithilaa’ ‘alaa Asmaa’ al-Amkinah wa al-Baqaa’ (Shafiyuddin Abdul Mu’min bin Abdul Haq al-Baghdadi), dan Ittihaf al-Akhshaa bi Fadhaail Masjidil Aqsha (Abi Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdul Khaliq Manhaji as-Suyuti).

Asal-usul dari kesucian, keberkahan, kebersihan, dan kedudukan Baitul Maqdis dan Masjid al-Aqsha didasarkan pada fiman Allah SWT di awal Surat al-Isra’:

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. al-Isra’ [17]: 1).

Menurut para ahli tafsir, makna “berkah” pada ayat tersebut adalah keberkahan yang ada di sekitar Masjid al-Aqsha. Ini bersifat sudah seharusnya dan diberkahi dengan kedudukannya yang dilebihkan di atas semua masjid lain.

Sedang makna dari “berkah di sekelilingnya” adalah, berkah atas sungai-sungai, pohon-pohon, tanaman-tanaman, maupun buah-buahannya. Juga berkah karena terdapatnya makam para nabi dan tempat tinggal maupun kiblat mereka, serta tempat turunnya malaikat dan wahyu. Di sana pula nanti tempat dikumpulkannya manusia pada hari kiamat.

Penafsiran seperti di atas bisa dijumpai dalam Tafsir al-Qur’anul Adzim (Ibnu Katsir), Anwar at-Tanzil wa Asraar at-Ta’wil (al-Baghawi), Irsyaadul ‘Aql as-Salim ila Mazaaya al-Qur’anul Karim (Abi as-Sa’ud), al-Anas al-Jalil bi Taarikh al-Quds wal-Khalil (Mujizuddin al-Hanbali), dan lain-lain.

Adapun soal Masjid al-Aqsha, sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa dinamakan demikian karena jaraknya yang jauh dari Masjid al-Haram. Dikatakan pula bahwa, dulu ini adalah masjid terjauh bagi manusia di muka bumi yang sangat dianjurkan untuk didatangi, dan karena masjid ini jauh dari kotoran serta kekejian. Ada juga yang meriwayatkan bahwa Aqsha adalah pusat bumi.

Penjelasan-penjelasan di atas menjadi sebab penamaan Masjid al-Aqsha. Kecuali penjelasan terakhir—pusat bumi—karena diketahui bahwa Makkah dan Masjid al-Haram adalah pusat bumi dan pusat yang selalu berada di tengah. Allahu a’lam.

*Diolah dari tulisan Dr. Ahmad Yusuf Abu Halabiya, Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Islam, Gaza, dalam Buku Emas Baitul Maqdis yang diterbitkan oleh Institut al-Aqsha untuk Riset Perdamaian (ISA) dan Sahabat al-Aqsha

Tulisan ini terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi Agustus 2022