7.5 C
New York
Senin, April 22, 2024

Buy now

spot_img

Membangun Mutu Sekolah

Inilah beberapa indikator yang menggambarkan mutu suatu sekolah.

Apakah sekolah kita bermutu? Seperti apa mutunya? Kalau dibandingkan dengan sekolah lain, lebih bermutu mana?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin sering terdengar di telinga. Bisa jadi hal itu mewakili sekian pertanyaan mengenai mutu sekolah. Padahal, sebetulnya ada pertanyaan yang lebih mendasar dan amat penting buat dijawab. Yakni “Mengapa sekolah kita harus bermutu? Bagaimana caranya agar sekolah menjadi bermutu?”

Indikator Mutu

Menurut Fasli Jalal dan Dedi Supriadi di dalam buku Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah (2001), lebih dari 60% guru SD, 50% guru SMP, dan 20% guru SMA masih under qualified (di bawah kualifikasi). Sedangkan di Kementerian Agama, 60% guru madrasah (MI, MTs, serta MA) belum memiliki kualifikasi yang memadai sebagai guru, 20% guru salah kamar, dan hanya 20% yang layak dari segi kualifikasi pendidikannya.

Sebagian orang menyatakan, bahwa indikator mutu sekolah diukur dengan hasil siswa dalam Ujian Nasional (UN). Sebagian lagi menyatakan, bahwa hasil UN tidak selamanya bisa dijadikan indikator mutu.

Kedua pendapat tersebut bisa dipahami dan diterima, karena UN memang punya beberapa fungsi. Misalnya: 1) Parameter penentuan mutu atau prestasi sekolah, 2) Standar pemetaan mutu pendidikan, 3) Alat ukur diagnostik pendidikan, untuk selanjutnya diberikan problem solving agar lebih terstandar, 4) Evaluasi terhadap pelaksanaan sistem manajemen pendidikan, sekaligus tahapan rekomendasi buat penyusunan program dan sistem manajemen baru yang lebih applicable, 5) Alat penentu ketuntasan belajar, kelulusan siswa di jenjang pendidikan tertentu, serta alat seleksi masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya.

Ironisnya, implementasi di lapangan, UN sering tercederai oleh banyak pihak yang punya kepentingan berbeda. Alhasil, pelaksanaannya menjadi bias, kurang valid, akuntabilitas rendah, dan sulit dipertanggungjawabkan dalam tataran tertentu.

Sebagian lagi menyatakan indikator mutu sekolah bisa dilihat dari seberapa sering sekolah itu meraih juara dalam lomba atau olimpiade. Sebagian lain menyatakan, bahwa bermutu itu banyak peminatnya atau bisa menyeleksi dan menolak calon pendaftar. Dan mungkin masih banyak lagi argumentasi tentang sekolah bermutu.

Standardisasi

Arti dari “bermutu” adalah conformance to requirement atau sesuai dengan yang disyaratkan atau distandarkan (corby: 2010). Pengertian itu mensyaratkan ada 2 hal penting, yaitu:

Pertama, sesuai dengan standar dan memiliki nilai lebih atau tambah. Standarnya tentu harus ditetapkan terlebih dahulu, karena kemampuan menetapkan standar pendidikan yang baik akan berpengaruh terhadap mutu sekolah.

Jika mengacu kepada pelaksanaan pendidikan di Indonesia secara umum, maka standarnya telah dibuat dan ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Ini adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Secara tak langsung, standar tersebut mensyaratkan bagi sekolah untuk mengikuti standar yang dibuat BSNP. Bisa saja beberapa sekolah punya standar pendidikan lain (selain BSNP), tapi sesungguhnya kata kuncinya adalah apabila kinerja sekolah telah sesuai standar.

Kedua, punya nilai lebih atau tambah. Pertanyaannya, nilai lebih apa yang dimiliki oleh sekolah tersebut? Punya keunggulan apa?

Kalau melihat fenomena sekolah saat ini, nilai lebih pada masing-masing sekolah bisa digolongkan menjadi beberapa kategori keunggulan meliputi akademik, non-akademik, dan mental spiritual.

Ada sekolah yang sering menjuarai olimpiade bidang studi (matematika, fisika, biologi, IPS, dan sebagainya), baik itu pada level daerah, nasional, atau bahkan internasional. Beberapa sekolah kerap tampil sebagai juara dalam lomba non-bidang studi (puisi, menyanyi, al-Qur’an, olahraga, menggambar, dan sebagainya).

Ada pula sekolah yang menjadikan nilai tingkah laku (akhlaq) serta kompetensi penguasaan agama (diniyah) sebagai domain pengelolaan sistem pendidikannya. Akhlaq (kebiasaan baik) menjadi tren komunitas sekolah serta ditunjang dengan penguasaan kompetensi agama yang baik.

Bahkan saat ini bermunculan sekolah-sekolah yang menjadikan al-Qur’an sebagai ikon pendidikan, baik terkait kemampuan membaca (tartil) maupun kemampuan menghafal (tahfizh). Ada yang 5, 10, dan bahkan 30 juz dengan tak meninggalkan standar akademik dan lainnya.

Hal tersebut bisa jadi merupakan nilai tambah, karena memang jarang ditemukan pada sekolah-sekolah umumnya. Jika memang demikian, maka hal ini merupakan salah satu diferensisasi keunggulan sekolah.

Mutu sekolah jelas berpengaruh terhadap mutu pendidikan suatu bangsa. Karena itu, evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi sangat penting untuk penjaminan maupun pengendalian mutu pendidikan yang sesuai standar. Juga dapat mengkategorikan sekolah saat ini bermutu atau belum. (Bersambung)

Penulis: Rully Cahyo Nufanto, M.KPd (Pengajar di International Islamic Boarding School ar-Rohmah Putri Pesantren Hidayatullah Malang)

Tulisan ini terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi Agustus 2022

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles