M. Anang Ramli: Pahlawan Muslim Bali Utara

0
217
Sumber gambar: gardaindonesia.id

Salah satu tokoh Muslim Bali yang memiliki kisah heroik di masa kemerdekaan Indonesia adalah, M. Anang Ramli. Pria yang lahir di Kampung Bugis Singaraja, Bali, pada tahun 1924 ini, dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang tangguh. Ketika muda, Ramli tergabung dalam pasukan Pembela Tanah Air (PETA) dan ditempatkan di Daidan (batalyon) Jembrana berpangkat Chudanco (setingkat letnan).

Saat Indonesia merdeka, ia tergabung dalam Pemuda Rakyat Indonesia (PRI). Setelah itu, bergabung di Badan Keamanan Rakyat (BKR). Tetapi kemerdekaan Indonesia tak mendapat pengakuan dari pihak Belanda. Dengan membonceng sekutu, Belanda pun ingin menguasai kembali Indonesia. Apalagi, pada waktu itu, sekutu memerintahkan Jepang menjaga status-quo; keamanan Indonesia.

Ketika sekutu tiba di Indonesia, Ramli bersama rombongan BKR sedang berada di Lombok. Saat kembali ke Bali, situasinya tidak aman. Sehari sebelum mereka tiba, di pelabuhan Buleleng berlabuh motor-motor boat Belanda tipe pemburu. Bendera merah putih yang sudah berkibar satu bulan diganti bendera Belanda.

Tindakan Belanda membuat rakyat Singaraja gelisah, terutama para pemuda. Setelah beristirahat semalam, Ramli diperintahkan oleh komandan BKR, I Made Putu, eks Daidancho Dai-ichi Daidan, menurunkan bendera Belanda bersama para pemuda.

Bendera Belanda dijaga ketat tentara Jepang dengan senjata senapan lengkap, sementara para pemuda hanya berbekal senjata tajam serta bambu runcing. Supaya tak jatuh korban, Ramli bersama temannya menego komandan Jepang agar tidak menghalanginya.

Pukul 18 00, pekan ketiga, pada Oktober 1945, aksi heroik pun dimulai. Ramli berguling-guling, tiarap, mendekati bendera Belanda agar tidak terlihat oleh kapal pasukan Belanda yang terus mengawasi dari laut. Dengan gerakan cepat dan hati-hati, Ramli menurunkan bendera Belanda lalu menggantinya dengan sang saka merah putih.

Tidak lama berselang, Belanda melakukan patroli serta mendapati benderanya sudah berganti. Tak khayal, mereka melepaskan tembakan dari kapal dengan sangat dahsyat. Seorang pemuda, Putu Merta, yang sedang melintas terkena tembakan, gugur. Beberapa hari setelah itu, Belanda tetap berjaga-jaga meski tidak lagi mengibarkan berdera mereka.

Desember 1945, para petinggi TNI Bali yaitu Letkol I Gusti Ngurah Rai, Majoor I Gusti Wisnu, Kapten Anang Ramli, Kapten I Wayan Ledeng, serta Letda Dewa Made Rai ke Jawa melalui pantai utara Celukan Bawang, Buleleng.

Tujuannya guna melaporkan perjuangan di Bali kepada Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) di Yogyakarta. Selain itu, juga minta bantuan dan perlengkapan perang serta membicarakan pemindahan staf Resimen TRI yang berkedudukan Sunda Kecil di Mojoduwur-Banyuwangi, ke Bali.

Selesai tugas itu, rombongan kembali ke Bali dikawal sepasukan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dipimpin oleh Lettu Markadi dengan perahu nelayan. Kapten Ramli sempat menderita sakit Malaria dan berobat ke Banyuwangi.

Sampai di Bali, para pejuang kembali berhadapan dengan NICA. Pebruari 1946,  datang bantuan dari ALRI se-kompi dari Banyuwangi dipimpin Kapten Waroka. Dua hari sebelumnya, Ramli memimpin penghadangan NICA. Namun usaha itu gagal karena kalah persenjataan dengan NICA. Bersamaan itu, di Banjar Jawa Singaraja Kapten I Gede Muka dikepung tentara NICA, hingga menewaskannya.

Saat pasukan Kapten Waroka mendarat dengan selamat, pada malam harinya, mereka bersama Ramli menuju Seririt. Esoknya, sudah berhadapan dengan patroli NICA yang datang dari arah selatan. Beberapa waktu bertempur, para pejuang mundur ke barat karena salah seorang anggota gugur dan senjatanya dirampas NICA.

Kapten Waroka dan sebagian pasukan kembali ke Jawa. Ramli dan sisa pasukan menyusul. Setelah beberapa hari di Jawa, Ramli bersama puluhan tentara ALRI kembali ke Bali melalui pantai Candikusuma, Jembrana. Pagi harinya, mereka berhadapan dengan NICA yang datang dari kota Negara.

Di Buleleng, Bali, terjadi beberapa kali pertempuran melawan Belanda. Dua kali pertempuran di Km 17 (saat ini Tugu Gitgit). Pertama dipimpin Wayan Mudana eks Sudancho Dai-ichi Daidan. Kedua, dipimpin Ramli. Ramli serta pasukannya berhasil menghancurkan sebuah truck yang berisi senjata Belanda.

Atas keberhasilan itu, Ramli ditunjuk untuk melindungi serta mengawal induk pasukan yang langsung dipimpin Kol. Ngurah Rai sewaktu menuju arah timur.

Sebelumnya pasukan induk dikawal oleh pasukan bersenjata lengkap pimpinan Nyoman Pegeg. Namun, Nyoman Pegeg menyerahkan diri kepada Raja Badung yang berada di bawah kekuasaan NICA. Akibatnya, pasukan induk Ngurah Rai kehilangan banyak senjata penting. Di saat genting itulah, Ngurah Rai dengan cepat menugaskan Ramli mengambil alih tugas Nyoman Pegeg.

Pasukan di bawah pimpinan Ramli diberi nama Pasukan lstimewa karena dikenal berani, lincah, serta dilengkapi senjata lengkap dan otomatis. Pasukan ini berhasil melakukan serangan mendadak ke pos-pos musuh. Mereka sering berhasil menghancurkan pos musuh dan merampas senjata dan amunisi NICA.

Saat pertempuran berkecamuk, Komandan Res. Sunda Kecil, Kol I Gusti Ngurah Rai serta perwira Iainnya gugur di medan Puputan Margarana. Para pimpinan perjuangan yang masih ada berkoordinasi dengan MBAD di Yogyakarta.

Sayangnya di tengah dinamika perjuangan itu banyak pejuang menyerah tanpa syarat pada Belanda. Hanya sebagian kecil yang tetap bertahan di hutan-hutan dengan komando dari Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di bawah pimpinan IB Tantera.

Ramli beserta pasukannya termasuk bertahan dan tidak mau menyerah kepada NICA. Mereka melakukan perang gerilya demi mempertahankan kemerdekaan yang diproklamirkan beberapa bulan sebelumnya.

Kala Indonesia lepas dari penjajahan, Ramli mengabdikan diri sebagai anggota DPRD Tingkat II Buleleng (1950-1957) dan anggota DPRD Tingkat I Bali mewakili Masyumi. Pria keturunan dari Kuningan, Jawa Barat ini wafat pada 15 Februari 1999 saat masih aktif sebagai Ketua Takmir Masjid Taqwa Singaraja.

Penulis: Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah

Tulisan ini terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi April 2022