Beranda Khazanah Kitab Hadits Syiah, Bermasalah dalam Periwayatan

Kitab Hadits Syiah, Bermasalah dalam Periwayatan

80

Sebagai sebuah firqah dalam Islam, Syiah memiliki metodologi tersendiri dalam menerima dan meriwayatkan Hadits. Mereka tidak mau menerima Hadits dari selain jalur Ahlul Bait dan Sahabat tertentu. Alasannya, setelah Rasulullah SAW wafat, para Sahabat telah murtad, kecuali beberapa saja seperti Ali bin Abi Thalib, al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghiffâri, dan Salman al Fârisi.

Karena pemahaman tersebut kemudian Syiah membuat kitab Hadits sendiri dengan jalur yang mereka pilih. Di antara kitab Hadits yang mereka buat antara lain: al-Kafi, Man la Yaduruhu al-Faqih, Tahdib al-Ahkam, dan al-Istibshar. Kitab-kitab tersebut dianggap memiliki kedudukan sama dengan kitab Hadits Sunni seperti Bukhari, Muslim, Nasai, Tirmudizi dan lain-lain.

Namun pada faktanya, metodologi kitab-kitab Hadits Syiah sangat bermasalah.  Berikut nama-nama kitab Hadits Syiah bersama permasalahannya.

 AlKafi

Yang dimaksud kitab al-Kafi  di sini adalah kitab karya al-Kulaini, yang memiliki nama lengkap Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq al-Kulaini al-Razi (w. 328 H./939 M.). Sebab Sunni juga mempunyai kitab yang sama namanya, yaitu hasil karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam bidang fikih.

AlKafi  merupakan kitab Hadits pertama yang disusun di kalangan Syiah selama 20 tahun. Diakui keshahihannya oleh ulama Syiah kontemporer seperti Ayatullah Muhammad Mahdi al-Aşifi dalam Tarikh Fiqh Ahl al-Bayt.

Meski demikian, ternyata ada sebagian ulama Syiah yang menolak pendapat tersebut. Mereka berpendapat, isi kitab al-Kafi tidak semuanya sahih. Di antara ulama yang menyatakan hal ini yaitu al-Sayyid Muhammad al-Mujahid al-Tabataba’i (1242H) dan Ayatullah Husain Ali al-Muntazari.  Ali al-Muntazai menolak hal itu karena menurutnya kepercayaan al-Kulaini akan kesahihan kitabnya tidak termasuk dalam hujah syariah karena dia bukan orang ma’sum.

Man La Yahdurhu Al-Faqih

Penyusun kitab ini adalah Syaikh Muhammad ibn Ali ibn Al-Husein ibn Musa ibn Babawaih Al-Qummi, yang lebih dikenal dengan julukan Syaikh ash-Shaduq atau “maha guru yang jujur”.

Ibn Babawaih menyebutkan dalam muqaddimah kitab ini  bahwa dia mengumpulkan riwayat-riwayat tersebut atas permintaan ulama Syiah pada zamannya, Sharafuddin Ni’ma. Ulama tersebut menginginkan dia menulis karya yang  menjelaskan fiqih, undang-undang Islam, perkara halal dan haram.

Banyak ulama setelahnya yang juga mengakui apa yang dikatakan oleh al-Qummi. Selain itu, mereka juga meyakini seperti yang diyakini oleh pandahulunya tersebut. Namun anehnya, penulisan kitab ini tidak mencantumkan sanad-sanadnya.

Tahdzib Al-Ahkam dan Al-Istibsar

Kedua kitab ini ditulis Syeikh Abu Ja’far Muhammad Ibnu Hasan al-Thusi atau yang lebih dikenal dengan sebutan al-Thusi (385-469 H).

Al-Thusi termasuk ulama Syiah yang sangat produktif menulis. Bagi kalangan Syiah, dua kitab ini merupakan karya terbesar dalam bidang Hadits yang sejajar dengan kitab Man La Yadurhu al-Faqih.

Al-Tusi sebagaimana al-Kulaini dan al-Qummi, juga membenarkan kesahihan kitabnya  ini. Banyak ulama kontemporer yang membela pengakuan al-Thusi, sebagaimana yang diyakini oleh ulama mutaqadimin lainnya.

Yang membedakan karya al-Thusi dengan kitab Syiah serupa, disamping periwayatan Hadits-hadits ahkam, kedua kitab ini penuh dengan analisis fiqih dan visi-visi argumentasi, serta isyarat-isyarat tentang kaidah ushul al-fiqh dan rijal. Disamping itu, dalam kedua kitab  ini, ath-Thusi juga dianggap berhasil menggabungkan Hadits-hadits yang saling bertentangan.

Berkaitan dengan kitab Hadits di atas, terdapat  dua kelompok yang berbeda di kalangan kaum Syiah yaitu Ahbariyyun dan Ushuliyyun. Ahbariyyun  menganggap keseluruhan Hadits yang ditulis oleh para ulama mutaqadimin Syiah sahih semunya. Sedang Ushuliyyun menganggap tidak semua Hadits dalam kitab-kitab Hadits tersebut sahih.

Dengan menggunakan metode yang mereka contoh dari ulama Sunni dalam menilai sebuah Hadits, kelompok Ushuliyyun menemukan banyak kecacatan dalam Hadits-hadits mereka, terutama dalam masalah periwayatan.  Metode tashhih dan tadh’if yang dilakukan oleh kelompok ini yang dipelopori oleh ulama Syiah kontemporer Muhammad Husein alHurr al-`Amili,, ternyata menjatuhkan sebagian besar kredibilitas Hadits mereka, dan hanya menyisakan sedikit saja. Ini artinya kitab Hadits Syiah sangat tidak ilmiah dan tidak sebanding dengan kitab-kitab Hadits Sunni yang sangat ilmiah.

Penulis: Bahrul Ulum

*Tulisan ini telah terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi Januari 2020