Kisah Dakwah Pasutri di Tanah Kobi

0
295

Tak seperti saat ingin berangkat, keduanya begitu bersemangat untuk dakwah. Tapi setiba di lokasi, mereka harus menghadapi berbagai kenyataan pahit.

Ustadz Hasnan Hanif beserta istri, Ustadzah Nusaibah Haryati merasa goncang ketika tiba di Kota Terpadu Mandiri (KTM), Desa Kobi, Kecamatan Seram Utara Timur Kobi, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

KTM itu milik pemerintah, sudah berdiri tiga bangunan. Hanya saja sudah lama terbengkalai. Lokasinya ada di tengah hutan, serta jauh dari pemukiman warga. Belum ada listrik maupun pasokan air bersih.

Jika malam tiba, gelap gulita, dan sepi seperti kampung mati. Oleh pemerintah, dengan status hak guna—KTM diserahkan kepada Hidayatullah supaya dikelola jadi pesantren. Di situlah keduanya memulai perjalanan dakwah. Dan ternyata, cukup berhasil. Lantas apa kuncinya?

Saling Menguatkan

Bagi pasutri da’i yang sebelumnya tinggal di Kota Batam serba metropolitan ini, tentu terasa berat buat beradaptasi. Ditambah mereka memiliki dua anak yang masih kecil, dan belum punya kenalan sama sekali.

Untuk kebutuhan air harus mengambil dari sumur yang warna airnya kemerah-merahan karena lama tak terpakai. Akibatnya, tiap malam, satu keluarga harus tidur sambil menahan gatal di sekujur tubuh.

“Susah sinyal, tidak ada listrik, tidak ada pasar, ATM sangat jauh, susah air, dan jauh dari warga. Saat itu kami tidak tahu bagaimana harus memulai dakwah ini, jadi goncang terus setiap hari. Rasanya ingin pulang saja,” jelas Hasnan, sapaan akrabnya, kepada Suara Hidayatullah beberapa waktu lalu.

Magister dari Universitas Ibnu Khaldun Bogor yang juga mahir berbahasa Arab dan Inggris seperti Hasnan ini, sebetulnya memiliki banyak peluang berkarir di tempat lain. Tetapi ia lebih memilih untuk berdakwah di KTM. Ia bersama istri pun saling menguatkan satu sama lain, serta terus berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar senantiasa diberikan kemudahan.

Ditolak Mengisi Ceramah

Titik terang itu mulai terlihat setelah beberapa pekan kemudian. Ada seorang bapak berkunjung ke KTM untuk menemui keduanya. Seteleh berkenalan dan berbincang, bapak itu meminta mereka untuk mengajari ngaji kedua anaknya.

“Beliau juga mengajak beberapa anak lain untuk mengaji di tempat kami. Jadi, saat itu kami mulai membuka TPQ dengan murid 6 anak,” kata Haryati, sapaan akrab istri Hasnan.

Hasnan juga mulai menggencarkan silaturahmi ke warga dan mengisi ceramah di beberapa masjid. Setiap berceramah, ia selalu menyampaikan niatnya ingin membangun sebuah pesantren di KTM.

Awalnya, warga yang kebanyakan transmigran tidak percaya kalau Hasnan dan istri mampu mendirikan pesantren di tempat itu. Pasalnya, warga sekitar kerap memplesetkan KTM sebagai Kota Tempat Maksiat. Sebelum kehadiran mereka, KTM memang kerap dijadikan sebagai tempat bermabuk ria anak-anak muda.

Hasnan juga pernah ditolak mengisi ceramah di sebuah masjid sebab dianggap “berbeda”. Para penolak itu hanya ingin mendengar ceramah dari ustadz yang mereka anggap “segolongan”.

“Beruntung di antara jamaah ada yang mendukung. Akhirnya win-win solution, kami ceramah bergantian,” kisahnya sambil terkekeh. Salah satu jamaah yang mendukung itu, ternyata sudah lama mengenal Hidayatullah lewat majalah ini sebelum kehadiran Hasnan di KTM.

Kehabisan Beras

Silaturahmi ke warga yang mereka lakukan akhirnya membuahkan hasil. TPQ yang muridnya semula hanya 6 anak, pada bulan ketiga sudah mencapai lebih dari 60 anak.

Dari situ mereka mulai menerima santri mukim dan membuka sekolah formal setingkat SMP. Waktu itu jumlah santrinya ada sekitar 20 orang.

“Kami tidak memungut biaya dari para santri karena melihat kondisi ekonomi keluarga mereka masing-masing. Beberapa kali kami harus berhutang beras di warung. Lauknya? Kangkung liar yang mudah didapati di sini,” kenang Hasnan.

Suatu ketika mereka pernah kehabisan beras. Untuk pinjam pun sudah tak bisa karena utang sebelumnya belum terbayar. Siapa lagi yang dapat mereka mintai pertolongan selain Allah Ta’ala.

“Kami hanya dapat mengadu kepada Allah. Benar saja, tak di sangka, beberapa saat kemudian ada sebuah mobil masuk. Dan ternyata, membawa beras untuk pondok,” timpal Haryati.

Tak Dikenal Oleh Mayarakat

Pesantren yang dirintis Hasnan sama Haryati kian dikenal masyarakat setelah santri mereka menjuarai lomba baris berbaris se-kecamatan. Padahal, waktu itu para santri tak semangat ikut sebab tak punya seragam dan perlengkapan seperti sekolah lainnya.

“Kami kumpulkan seluruh santri. Kami beri motivasi agar ikut berpartisipasi dengan perlengkapan seadanya. Seragamnya baju koko putih, celana hitam, dan songkok nasional. Itupun hasil dari pinjam ke sana ke mari,” ujar Haryati.

Tak pernah disangka, ternyata santrinya menyabet juara utama meski dengan seragam seadanya. Kekompakan dan variasi yel-yel mereka jadi pertimbangan juri. Dan terpenting, saat azan berkumandang mereka langsung meninggalkan lapangan untuk menuju masjid.

Dari situ muridnya juga semakin bertambah. Hasnan kemudian memberanikan diri untuk menerima santri berbayar.

“Saat itu saya tentang. Mana mungkin ada yang bisa bayar, sementara kondisi ekonomi para santri seperti ini. Lagi-lagi pertolongan Allah datang. Justru sejak berbayar itu, ratusan santri mendaftar. Namun, yang tidak mampu tetap kami terima dan gratiskan,” ungkap putri dari (alm) Ustadz Abdul Haris Amin ini.

Sejak itu, santri sering mengikuti berbagai perlombaan, dari pembuatan video, MTQ, hingga tahfihz al-Qur’an. Dan berhasil meraih berbagai prestasi. Bahkan, sekolah memperoleh akreditasi A.

Meski telah banyak berkiprah, uniknya masyarakat di sana banyak yang tidak mengenal keduanya. Masyarakat lebih mengenal Pesantren Hidayatullah Kobi yang santrinya selalu berprestasi daripada pasutri da’i ini.

“Saat mendengar kami ingin membebaskan lahan buat sekolah tahfizh. Warga sekitar juga ikut urunan. Karena mereka semakin percaya kepada pondok ini,” tutupnya.*Sirajuddin Muslim/Suara Hidayatullah

Tulisan ini terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi Februari 2022.