Kisah Conten Creator Menjadi Mualaf

0
182

Banyak orang mengira bahwa kebahagiaan bisa dibeli dengan harta, tahta, dan ketenaran. Bahkan, mereka rela banting tulang, siang dan malam, hanya untuk bisa membeli kebahagiaan tersebut dengan uang.

Tetapi, itu semua tidak terbukti dalam hidupku. Uang tak berarti apapun untuk sebuah kebahagiaan. Aku malah merasa gelisah setiap malam. Mencari sesuatu yang dapat mengisi kekosongan hati, yang tak pernah aku dapatkan dari dunia.

Aku adalah seorang conten creator dari salah satu kota di Jawa Tengah. Tahun 2019 aku memutuskan memeluk Islam. Pada dasarnya, Islam bukanlah agama yang asing bagiku. Lingkungan pertemanan, bahkan bisnisku semua dilingkupi dengan orang-orang Islam.

Aku mulai tertarik dengan Islam untuk pertama kalinya pada tahun 2015 akhir, dimana waktu itu aku merasa tak ada satu hal pun yang kuyakini di dalam hati.

Saat itu, aku menjalankan bisnis di bidang tour dan travel. Salah satu pelayanan yang kubuka, yaitu mengantar para jamaah dari Indonesia untuk melaksanakan ibadah umrah di Kota Suci Makkah. Meski bukanlah seorang Muslim, tetapi aku seringkali ikut dalam rombongan karena tentu bertanggung jawab atas mereka.

Dari momen-momen itu aku pun mulai tertarik dengan Islam. Aku perhatikan bagaimana orang-orang Muslim dari seluruh dunia berkumpul di Makkah dan beribadah bersama. Bahkan, aku seringkali melakukan manasik bersama para jamaah lainnya.

Rasa ketertarikan itu menuntun aku untuk belajar tentang Islam sedikit demi sedikit. Aku pun merasa dihadapkan dengan berbagai tanda oleh Allah selama empat tahun terkahir sebelum akhirnya memutuskan menjadi seorang Muslim.

Rindu Kehadiran Tuhan

Suatu hari, aku merasa sangat merindukan kehadiran Tuhan dalam hati. Maha Besar yang mampu menenangkan suasana hatiku yang penuh kagalauan waktu itu. Aku merasa sudah mendapatkan segalanya dalam hidupku. Harta, keluarga, semua yang aku inginkan. Bahkan, ketenaran sudah ada di tangan. Namun, aku merasa masih ada kekosongan dalam hati, hal yang membuat aku menangis gelisah setiap malam.

Saat malam datang, aku selalu merasa ketakutan dan menangis tanpa alasan. Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku pun berusaha untuk menelepon teman-temanku. Namun, nyatanya aku tak bisa mengandalkan mereka yang mungkin saja pada saat itu sedang beristirahat.

Kejadian itu menyadarkan diriku bahwa bukan manusia-lah yang aku butuhkan. Tetapi sosok Allah yang selalu hadir kapanpun hamba-Nya butuh.

Meskipun begitu, aku masih menafikkan kebenaran dan lebih memilih untuk melupakannya. Aku pun seringkali dihadapkan pada pertanda lain yang Allah berikan, tapi egoku masih sangat besar dan aku mengaku menjadi orang yang munafik pada saat itu.

Adzan Shubuh Menjadi Penenang

Suatu malam, aku merasa ketakutan serta sulit untuk memejamkan mata. Di tengah ketakutan itu, aku mendengar adzan Shubuh berkumandang. Seketika, hatiku merasa bergetar dan tentram, dan tak sadar air mataku pun mengalir.

Lalu di benakku, aku membayangkan sedang shalat. Saat itu aku belum Muslim tapi sambal rebahan dengan membayangkan sedang shalat, aku dapat tertidur. Itu terjadi selama tiga kali sebelum aku memutuskan untuk menjadi mualaf.

Padahal, aku pernah bilang pada orang-orang, “Pegang kata-kataku, aku nggak akan pernah masuk Islam. Islam itu agama yang salah, agama yang sesat, nggak akan pernah aku masuk Islam.”

Setelah menjadi mualaf, aku pun baru sadar bahwa ucapan manusia di hadapan Allah tak berarti apapun. Aku sadar bahwa Allah Sang Maha Pembolak-balikkan hati manusia. Ketika manusia berkata, maka tak ada kekuatan di dalamnya. Kini aku sadar bahwa Allah yang memiliki kekuatan atas segalanya.

Berada di Puncak Ketakutan

Selama setengah tahun, aku selalu diingatkan oleh kematian. Muncul banyak pertanyan dalam benakku. Kalau saja nanti aku mati, bagaimana? Jika memang benar, saat aku mati dan sudah terlambat untuk bertaubat, bagaimana?

Di puncak ketakutan akan kematian itu rasa rindu akan sosok Allah pun kembali menghampiri. Kali ini, aku tak mau lagi menafikkannya, karena sadar bahwa aku bisa mati kapan saja. Aku amat takut jika mati dalam keadaan belum bertaubat.

Tanpa berpikir panjang, malam itu aku langsung menyampaikan niatku kepada mama. Mamaku pun menangis dan belum bisa menerima keputusanku untuk memeluk Islam. Tapi aku tetap mengukuhkan niatku dan segera menghubungi salah satu teman dekat yang aku anggap cukup memiliki pengetahuan agama Islam untuk datang menuntunku bersyahadat dan mengajariku shalat.

Malam itu juga ia langsung ke rumah. Ia menuntunku untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Juga mengajariku shalat meskipun hanya berupa gerakan.

Kasih Sayang Allah

Dalam shalat pertama itu, aku merasakan kasih sayang Allah sangat mendalam, meski aku merasa telah banyak melakukan dosa. Malam itu, aku akhirnya bisa merasakan ketenangan dan getaran dalam shalat yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Sebuah nikmat yang tak terhingga.

Setelah memutuskan untuk menjadi seorang Muslim, aku pun mencoba untuk belajar dasar-dasar agama Islam secara perlahan. Aku juga memutuskan untuk mengucapkan syahadat kedua kalinya dengan disaksikan banyak jamaah kajian dan juga teman-teman sesama Muslim.

Bagiku, menjadi seorang Muslim, bukan sekedar sebuah ikrar atau pergantian status agama. Tapi menjadi Muslim berarti siap menjalankan semua kewajiban ajaran Islam.

Alhamdulillah, hal yang dahulu aku takutkan—merasa berat menjalankan shalat lima waktu setiap hari—ketika dijalankan dengan penuh ikhlas bukannya terasa berat, tetapi justru jadi sebuah keharusan karena terus merasakan ketenangan.

Kasih sayang Allah tak berhenti sampai di situ. Akhir 2020, aku mempersunting seorang gadis dengan cara Islami, maka bertambah-lah kebahagiaanku. Rezeki dari Allah terus mengalir. Di sisi lain, kasih sayang-Nya tidak akan pernah putus.

*Seperti yang dikisahkan Fano kepada Suara Hidayatullah

Tulisan ini terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi Februari 2022.