Ketika Anak Bertanya

0
247

Pembelajaran dengan satu gambar, setara dengan seribu kata-kata, dan nilai satu pertanyaan setara dengan seribu gambar

“Umi, kenapa orang itu kok meminta-minta di jalan?”

“Abi, siapakah malaikat itu?”

“Papa, Allah itu ada dimana ya? Kenapa tidak kelihatan?”

“Mama, lebih kuat mana Naruto sama Rasulullah?”

“Pa, kenapa kalau orang meninggal dikubur?”

“Kenapa aku harus berdoa sebelum dan sesudah makan?”

“Kenapa aku tidak boleh main sama anak itu?”

Ini beberapa contoh pertanyaan yang sering kita dengar dan ditanyakan anak-anak kita. Mungkin masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh anak-anak kita dan terkadang tidak terduga terucap begitu saja. Bahkan ada penggalan lagu yang sudah sangat popular ditelinga kita, yang secara khusus mendedikasikan syairnya pada anak yang gemar bertanya kepada orangtuanya, “Ada anak bertanya pada bapaknya, buat apa berlapar–lapar puasa?

Pertanyaan–pertanyaan yang dikemukakan oleh anak-anak, menunjukan betapa luar biasanya rasa keingintahuan anak terhadap sesuatu. Dan orang yang harusnya paling dekat dengan anak adalah orangtua. Al-Qur’an menyatakan“…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (An-Nahl: 43). Artinya,  kondisi seperti ini mengharuskan orangtua punya pengetahuan tentang anak, termasuk merespon dan menjelaskan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan anak kita. Proses bertanya merupakan fitrah dalam kehidupan seorang anak. Pada masa pertumbuhannya, sel-sel neuron otak anak tidak begitu saja menelan setiap informasi. Anak selalu mempertanyakan semua informasi yang didapat sebelum disimpan dalam file memorinya.

Respon Pertanyaan

Ketika anak-anak sedang bertanya tentang sesuatu, banyak sekali ragam respon yang ditunjukkan oleh orangtua. Ada di antara orangtua yang mungkin menjawab dengan menjelaskan panjang lebar kepada anak, seperti “Mas, kalau Naruto itu tokoh khayalan (tidak ada), sedangkan Rasulullah adalah tokoh yang nyata. Rasulullah bukan hanya bisa mengalahkan yang jahat (penjahat), tetapi beliau mampu mengajak yang jahat menjadi baik dan berakhlaq mulia, serta saling menyayangi, sedangkan Naruto bisa nggak? Makanya Rasulullah nggak bisa dibandingkan dengan Naruto, karena beliau jauh lebih hebat dan mulia.”

Ada juga orangtua yang merespon dengan jawaban yang normatif sekali, “Ya pokoknya seperti itu, tidak bisa dibanding-bandingkan.” Bahkan ada orangtua yang menjawab dengan jawaban kurang bijaksana dan mungkin dengan ekspresi marah, “Huss…nggak boleh tanya seperti itu.” Mungkin karena orangtua ini tidak bisa menjelaskan pertanyaan anak. Ragam respon orangtua terhadap pertanyaan anak, bisa jadi menunjukan kesiapan orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Tentu respon orangtua yang tepat, kedepan akan sangat berpengaruh terhadap cara berpikir anak dalam melihat lingkungan secara baik. Dan saat terbaik untuk memberi pengetahuan kepada anak adalah disaat mereka bertanya.

Pertanyaan Lanjutan

Apapun pertanyaan anak kepada orang tua, sebaiknya orangtua memberikan respon jawaban yang membuat anak merasakan pembelajaran atau pendidikan (positif), walaupun kadang-kadang orang tua belum bisa menjelaskan secara jelas dan membuat anak bisa mengerti. Dan akan lebih baik lagi ketika orangtua melanjutkan jawabannya dengan pertanyaan balik kepada anak, karena bisa jadi akan membuat anak semakin paham dan mengerti dengan yang ditanyakan, serta proses pendidikan kepada anak itu semakin terasa.

“Bagaimana Mas, sudah paham? Siapa yang lebih hebat Rasulullah atau Naruto? Lalu teladan kita sekarang sebaiknya  Rasulullah atau Naruto?” Insya Allah anak kita akan menjawab dengan lantang Rasulullah. Kemudian kalau anak terlihat masih antusias dan orangtua ada kesempatan bisa dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih memahamkan permasalahannya, karena sesungguhnya secara tidak langsung orangtua juga telah melakukan pembelajaran melalui ketrampilan bertanya kepada anak. Bahkan salah satu strategi mengubah kalimat perintah yang biasa dilakukan orangtua kepada anak, adalah mengganti dengan kalimat bertanya, karena sesungguhnya anak biasanya kurang “enjoy” ketika harus terus menerus diperintah.

Kemampuan Bertanya

Dalam proses pendidikan, bertanya memegang peranan yang sangat penting. Pertanyaan merupakan salah satu rangsangan berpikir yang baik untuk membelajarkan anak. Ahli pendidikan banyak yang mengakui pentingnya bertanya dalam pendidikan. Di katakan bahwa, pembelajaran dengan satu gambar, setara dengan seribu kata-kata, dan nilai satu pertanyaan setara dengan seribu gambar. Disamping berguna untuk merangsang berpikir anak, pertanyaan juga berguna untuk menilai efektifitas pembelajaran dan efektifitas kemajuan belajar anak. Melalui bertanya, orangtua dapat melihat apakah pembelajaran yang dilakukan sudah efektif atau belum. Benar tidaknya jawaban anak atas pertanyaan yang disampaikan, dapat digunakan untuk menilai keefektifan pembelajaran atau pendidikan selama ini. Demikian pula dengan jawaban anak atas pertanyaan, dapat dipakai sebagai pedoman untuk menentukan indeks kemajuan belajar anak.

Bukankah pembelajaran yang baik ditandai dengan penggunaan pertanyaan-pertanyaan yang baik pula. Bertanya yang baik dapat merangsang keingintahuan anak, menstimulasi imajinasi anak, dan memotivasi anak untuk memperoleh pengetahuan yang baru. Pertanyaan dapat menantang anak untuk berpikir, membantu anak untuk mengklarifikasi konsep dan problem yang berhubungan dengan pengetahuan. Bertanya sebenarnya mempunyai banyak fungsi, antara lain: (1) menguji kemampuankognitif anak, (2) membantu anak mengaitkan pengalaman-pengalamannya yang tepat dengan pelajaran yang  akan ajarkan, (3)   menstimulasi minat anak, (4) mendorong berpikir karena pertanyaan yang baik membantu anak menemukan jawaban yang baik pula, (5) mengarahkan anak pada unsur-unsur penting yang harus dipelajari.

Mengajukan pertanyaan kepada anak dengan baik adalah mengajar yang baik, karena itu ketika orangtua dalam bertanya adalah orangtua dalam proses membimbing anak. Ketrampilan bertanya menjadi penting jika dihubungkan dengan pendapat yang mengatakan “berpikir sendiri itu adalah bertanya”.

Kemampuan orangtua dalam merespon pertanyaan anak dengan jawaban yang baik, sama pentingnya dengan kemampuan bertanya orangtua dalam memberikan pertanyaan balikan kepada anak. Oleh karena itu sangat relevan dan bijaksana, jika sebagai orangtua harus belajar bagaimana membuat pertanyaan yang baik kepada anak, terdapat proses pembelajaran dan pendidikan didalamnya, serta membuat anak semakin paham dengan agama. Kemampuan ini tentunya sebagai bentuk nyata tanggung jawab orangtua untuk menjalankan amanah Allah SWT dalam mendidik anak menjadi generasi yang kuat (dzuriyatan qowiyyan). Semoga Allah memberikan kemudahan pada kita semua. Wallahu’alambiishawab

* Rully Cahyo Nufanto (Guru Ar-Rohmah Putri Pesantren Hidayatullah Malang)

*Tulisan ini telah terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi Januari 2020