Beranda Mutiara Hadist Kesalehanmu Terlihat Pada Kecintaanmu Kepada Ulama.

Kesalehanmu Terlihat Pada Kecintaanmu Kepada Ulama.

245

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Tirmizi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud).

MUQADDIMAH

Meski berstatus sebagai pewaris nabi, keberadaan para ulama tak serta merta jadi dambaan. Tak jarang para ulama justru menjadi sasaran buruk sangka. Fatwa-fatwanya dicurigai, bahkan dituduh sebagai pesanan pihak tertentu. Situasi ini ikut mengikis martabat dan wibawa ulama. Akibatnya, peran ulama di tengah umat semakin terpinggirkan.

Realitas ini sangat menyedihkan sekaligus mengkhawatirkan. Pasalnya, jika umat jauh dari ulama apalagi membencinya, maka transformasi ilmu akan mandek. Padahal menyebarnya ilmu adalah kunci kebangkitan dan kejayaaan. Berangkat dari sini penting untuk disegarkan kembali petuah-petuah nabawi yang menjelaskan kedudukan para ulama.Kesalehanmu Terlihat Pada Kecintaanmu Kepada UlamaMutia

MAKNA HADITS

Para ulama memang manusia biasa. Mereka bisa salah sebagaimana umumnya manusia. Tapi ilmu yang dimilikinya mengantarkan mereka pada posisi yang mulia. Dalam Hadits di awal, Rasulullah menyemat-kan predikat yang begitu terhormat kepada mereka, yaitu pewaris para nabi. Ibnu Qayyim berkata, “Ini termasuk di antara keistimewaan paling agung yang dimiliki oleh para ulama.

Sebab para nabi adalah sebaik-baik ciptaan Allah, maka para pewarisnya adalah sebaik ciptaan Allah setelah para nabi” (Miftah Darissa’adah, Ibnu Qayyim al-Jauziah, h. 73).

Allah telah memuliakan para ulama, demikian pula rasul-Nya. Tak ada kemuliaan yang melebihi kemu-liaan yang datangnya dari Allah SWT dan rasul-Nya. Sebagai insan beriman, kita pun dituntut menghormati dan memuliakan para ulama.

Sebaliknya, membenci ulama adalah tanda keter-gelinciran seseorang dari jalan lurus. Ketika seorang membenci ulama, sejatinya ia juga membenci warisan para nabi. Asy-Syaikh Shalih Fauzan mengatakan, “Kita wajib memuliakan ulama karena mereka adalah pewaris para nabi. Meremehkan mereka termasuk meremehkan kedudukan dan warisan yang mereka ambil dari Rasulullah serta meremehkan ilmu yang mereka bawa” (Al-Ajwibah Al-Mufidah, h. 140).

Pada zaman salafussaleh, kesalehan seseorang bisa dideteksi pada kecintaannya kepada ulama. Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata, “Jika engkau melihat seseorang mencela Hammad bin Salamah dan Ikrimah Maula Ibnu Abbas, maka ragukanlah keislamannya. (Syarah Ushul ‘Itiqad ahlissunnah, I/ 514). Senada dengan Yahya bin Ma’in, Al-Imam Ibnu Mubarak rahimahullah juga berkata, “Keharusan bagi seorang yang berakal untuk tidak meremehkan tiga orang; ulama, penguasa dan saudara. Siapa yang meremehkan ulama hancurlah akhiratnya, siapa meremehkan penguasa hancurlah dunianya, dan siapa yang meremehkan saudara hilanglah muru’ahnya.” (Siyar A’lam an-Nubala, 17/ 251).

Perkataan ulama tersebut menunjukkan betapa be-sar hak para ulama. Wajar jika mencelanya adalah perbuatan yang berisiko tinggi. Ibnu Asakir dalam nasihatnya, “Ketahuilah, sesungguhnya daging ulama itu beracun. Dan kebiasaan Allah adalah menyingkap aib atau aurat orang yang biasa membongkar aibnya para ulama. Barang siapa melepaskan ucapannya terhadap para ulama dengan mencelanya, Allah akan timpakan sebelum kematiannya dengan matinya hati”

UMAT BUTUH BIMBINGAN ULAMA

Umat ini sering digambarkan sedang berada dalam keterpurukan. Tetapi, kita tidak boleh pesimis dan putus asa. Sebab peluang untuk bangkit dan jaya selalu terbuka setiap saat. Caranya dengan melihat kembali sejarah ke-jayaan umat Muslim di masa lampau. Salah satu kunci dari kejayaan dan kebangkitan itu adalah ilmu agama. Ilmu yang diambil dari al-Qur’an dan Sunnah.

Ketika umat paham isi ajaran agamanya, sangat sulit bagi bangsa lain mempecundanginya. Hal itu nampak pada generasi Sahabat. Karenanya, kebutuhan umat yang paling mendasar saat ini adalah ilmu tentang ajaran Islam. Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Kebutuhan kepada ilmu di atas kebutuhan kepada makanan, bahkan di atas kebutuhan kepada nafas. Keadaan paling buruk yang dialami orang yang tidak bisa bernafas adalah ke-hil angan kehidupan jasadnya.

Adapun lenyapnya ilmu menyebabkan hilangnya kehidupan hati dan ruh. Karena itu, setiap hamba tidak bisa terlepas darinya sekejap mata sekalipun. Apabila seseorang kehilangan ilmu akan mengakibatkan dirinya jauh lebih jelek daripada keledai. Bahkan, jauh lebih buruk daripada binatang di sisi Allah, sehingga tidak ada makhluk apa pun yang lebih rendah daripada dirinya ketika itu (Al-’Ilmu, Syarafuhu wa Fadhluhu, hal.96)

Ketika seorang butuh ilmu, otomatis butuh ulama. Karena melalui ulama ilmu itu sampai kepada kita. Ke-tika ada yang mencoba menodai ilmu dengan pikiran, pendapat dan hawa nafsunya, para ulama pula yang terdepan menjelaskan hakikat dari itu semua.

Tarbiyah yang dikembangkan oleh Rasulullah SAW adalah tarbiyah yang melahirkan para ulama. Para Sahabat adalah buktinya. Mereka generasi yang gigih dalam mencari ilmu dan menyebarkannya. Mereka merekam dengan sangat jeli setiap ucapan Rasulullah SAW. Mereka memotret dengan teliti perbuatan dan tingkah laku Rasulullah SAW. Sebab, semua itu ilmu yang akan mendatangkan kejayaan.

Setelah mendengar dan merekam, para Sahabat berlomba menyebarkannya melalui dakwah. Jika upaya penyebaran ilmu dihambat, mereka pun siap mengor-bankan segalanya termasuk nyawanya. Spirit menimba ilmu dan menyebarkannya terwarisi turun temurun hingga beberapa abad. Spirit inilah yang menjadi salah satu faktor penting bertahannya kejayaan Islam selama beberapa abad.

Kini, saatnya kita kembali mengeksiskan model tarbiyah yang dirintis oleh Rasulullah SAW Tarbiyah yang melahirkan orang-orang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Untuk meraih itu, modal utamanya adalah mencintai ilmu dan para ulama. Ibnu Jauzi berkata, “Siapa saja yang ingin menjadi pewaris para nabi hendaklah mempelajari ilmu yang bermanfaat dan menghadiri mejelis para ulama. Karena sesungguhnya mejelis itu adalah kebun surga dan siapa yang ingin mengetahui berapa besar bagiannya dari pertolongan Allah, hendaklah melihat bagiannya pada fiqih. (Attazkirah Fil Wa’zi, h. 55).

Semoga kita dikaruniai kecintaan kepada ilmu dan para ulama. ♦ OLEH AHMAD RIFAI Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan