Jerukin Memanggil

0
300

“Kapan kita mulai shalat Jum’at, Ustadz?”

Jerukin artinya cemara. Namun, bukan sebuah pohon, melainkan sebuah kampung kecil yang terletak di Pulau Maikoor, Kabupaten Kepulauan Aru.

Di kampung ini tinggal sekitar 60 kepala keluarga. Setengah di antara mereka beragama Islam. Setengahnya lagi Kristen.

Rumah-rumah penduduknya kebanyakan berdinding papan. Sebagian rumah beratap daun rumbia, sebagian lagi seng.

Jalan yang menghubungkan satu rumah dengan rumah yang lain hanya setapak. Sebagian sudah disemen, sebagian lagi masih tanah bercampur pasir. Tak terlihat mobil atau sepeda motor di kampung ini.

Sekolah hanya ada satu, yakni SD Negeri Jerukin. Cuma ada tiga guru yang mengajar. Semua beragama Kristen. Sebuah gereja berdiri di dekat sekolah itu.

Hampir semua penduduk berprofesi sebagai nelayan dan pencari kepiting bakau. Dalam satu malam, mereka bisa menemukan 5 ekor kepiting bakau yang besar. Beratnya bisa lebih dari 1 kg.

Shalat Jum’at

Sabtu menjelang Ashar (25/9/2021), kami berlayar dari Dobo menuju Jerukin. Perlu waktu 3,5 jam terombang-ambing di Laut Arafuru untuk sampai ke kampung ini.

Saat Maghrib, perahu kecil yang kami tumpangi merapat ke pantai Jerukin. Kami langsung menuju masjid kecil berukuran 4×6 meter yang terletak tak jauh dari bibir pantai. Itulah satu-satunya masjid di Jerukin.

Sebagian masyarakat baru saja selesai menunaikan shalat Maghrib berjamaah. Mereka belum beranjak keluar dan masih melantunkan doa dan dzikir.

Pakaian mereka rapi: kemeja lengan panjang dipadu dengan sarung dan peci. Sebagian di antara mereka adalah anak-anak. Ada pula jamaah wanita yang shalat di bagian belakang, dipisahkan oleh kain hijab berwarna putih.

Menurut Ahmad Djamiri, imam masjid, jumlah penduduk yang shalat pada Maghrib itu terbilang banyak. “Biasanya tidak sampai seperti ini,” jelasnya.

Ahmad belum lama menjadi imam di masjid tersebut. Sebelumnya, ia tak pandai membaca al-Qur’an. Masjid tersebut juga masih sepi. Bahkan shalat Jum’at tak pernah ada. Apalagi shalat Idul Fitri atau Idul Adha.

Sekitar tahun 2017, datanglah Ustadz Sulaiman Ismail, da’i muda Hidayatullah. Sulaiman tak sekadar mampir, namun menetap di kampung itu. Dialah yang mengajar Ahmad mengaji dan menjadi imam shalat berjamaah. Sekarang, di masjid tersebut sudah digelar shalat Jum’at.

“Saya bertugas di Jerukin selama satu tahun,” cerita Sulaiman.

Ketika tiba di kampung ini, shalat Jum’at belum pernah diadakan. Sulaiman lalu mengajak masyarakat Muslim untuk menunaikan shalat Jum’at. Mereka menyambut antusias. “Kapan kita mulai, Ustadz?” tanya mereka.

“Pekan ini juga,” jawab Sulaiman dengan yakin.

Sejak saat itu, masyarakat mulai ramai mengunjungi masjid. Sulaiman juga mengajarkan tata cara ibadah Jum’at. Lama-kelamaan, mereka bisa menunaikan shalat Jum’at sendiri ketika Sulaiman sedang berdakwah ke luar kampung.

Di Jerukin, Sulaiman kerap disapa “Pak Ustadz” oleh masyarakat, baik mereka yang beragama Islam maupun Kristen. Sedang anak-anak menyapanya dengan panggilan “Abi”.

Hubungan antar pemeluk agama di kampung tersebut memang berjalan baik. Sulaiman berupaya menjaga keharmonisan tersebut.

Pernah suatu ketika, Sulaiman diundang menghadiri pemakaman salah seorang pengurus gereja. Ia berdiri di barisan paling belakang, karena khawatir ada ibadah yang tidak tepat untuk diikuti.

Saat acara tabur bunga, semua pemuka kampung dipanggil untuk memberikan semacam penghormatan terakhir. Nama Sulaiman juga disebut. “Silakan, Pak Ustadz,” kata pendeta yang memimpin acara.

Sulaiman tak punya pilihan lain. “Saya maju sambil terus beristighfar,” cerita Sulaiman.

Sering pula Sulaiman diajak mencari kepiting bersama-sama. Saat tiba waktu shalat, ia pun pamit kepada warga non-Muslim untuk menunaikan shalat, serta mengajak yang Muslim untuk shalat berjamaah. “Mereka tak pernah keberatan,” jelas Sulaiman.

Bahkan saat masyarakat berencana membangun masjid yang baru dan lebih luas, beberapa panitia pembangunan adalah warga beragama Kristen.

Sayangnya, cerita La Ganti, salah seorang pengurus masjid, kendala biaya dan ketiadaan tukang menyebabkan proses pembangunan tersendat-sendat. “Tukangnya sering pergi ke luar kampung dalam waktu lama,” katanya.

Akibatnya, masjid berukuran 7×10 meter persegi itu belum selesai juga. Padahal sudah lebih satu tahun proses pembangunannya. Sebagian dinding dan atap sudah berdiri, namun belum bisa difungsikan.

Tidak Ada Da’i

Pada tahun 2018, Ustadz Sulaiman Ismail pindah tugas dakwah ke Dobo. Masyarakat Jerukin pun merasa kehilangan.

“Sudah lebih dari 2 tahun kampung kami tidak memiliki ustadz,” keluh Ahmad, sang imam masjid.

Padahal, jelas Ahmad lagi, kebanyakan warga belum lancar mengaji. Ibu-ibu juga belum bisa membaca al-Qur’an. Ahmad sendiri baru mampu mengajari anak-anak. Sementara jika mengajar warga dewasa, ia merasa belum mampu.

“Kampung ini sangat membutuhkan kehadiran ustadz. Tolong kirimkan (ustadz) kepada kami,” pinta Ahmad.

Sebenarnya, di Dusun Bangsal yang berseberangan dengan Jerukin, ada seorang da’i muda bernama Nasri. Tapi, jarak Jerukin dan Bangsal lumayan jauh bila ditempuh lewat darat. Jika ditempuh lewat laut, butuh perahu untuk menyeberang.

PosDai Hidayatullah sempat menawarkan kepada mereka untuk mengirimkan beberapa remaja agar dididik di Pesantren Hidayatullah Dobo, atau belajar di Sekolah Dai Hidayatullah di Ciomas, Bogor (Jabar). Namun menurut Ahmad, hal itu sulit dilakukan.

“Kebanyakan orang tua di sini tak mengizinkan anaknya pergi merantau,” ujarnya. Mereka lebih suka bila anak-anaknya belajar menangkap ikan atau mencari kepiting.

Padahal, anak-anak yang dididik di Sekolah Dai Hidayatullah kelak akan dikembalikan ke kampungnya. Masa belajar tidak lama, gratis pula.

Sulaiman berjanji akan berupaya memenuhi permintaan masyarakat Jerukin. “Insya Allah, jika nanti jumlah da’i sudah cukup, akan kita kirim da’i ke kampung ini.”

Begitu langka da’i di kepulauan ini. Sama seperti mutiara alami yang sekarang nyaris tak lagi bisa ditemui.*

Tulisan ini terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi November 2021.