Imam az-Zabidi: Peringkas Kitab Hadits Bukhari

0
219

Dikenal sebagai ulama Hadits yang mumpuni. Ia membuka jalan kemudahan bagi umat Islam yang ingin mendalami kitab Hadits Bukhari.

Banyak orang yang kesulitan ketika mengkaji kitab karya Imam Bukhari. Maklum, dalam kitab tersebut masih terdapat beberapa Hadits yang berulang-ulang serta temanya belum jelas.

Namun kesulitan itu akhirnya dapat dijawab oleh Imam az-Zabidi dalam karyanya al-Tajrid al-Sharih Li Ahadith al-Jami’ al-Sahih (Mukhtasar az-Zabidi). Dalam kitab ini, az-Zabidi mengumpulkan Hadits-hadits yang kelihatan bertaburan di berbagai bab, lalu meletakkannya di tempat yang sesuai sehingga tidak ada pengulangan.

Demikian pula ia hanya mengambil Hadits yang mempunyai sanad muttasil (rantai periwayatan bersambung dan tidak terputus). Sebaliknya, jika Haditsnya terputus (maqtu’ atau muallaq), maka ia tidak mencantumkannya.

Bagi Az-Zabidi jika ada Haditst yang disebut secara ringkas di tempat yang pertama, dan di dalam riwayat yang lain Hadits tersebut disebut secara lebih lengkap dan memiliki tambahan makna, dia akan memilih yang kedua dan meninggalkan yang pertama. Hal ini karena yang kedua ia nilai memiliki faedah yang lain.

Begitu juga jika Hadits itu datang dari Sahabat serta ulama setelah mereka, tidak akan ia cantumkan. Ia hanya mencantumkan nama Sahabat yang meriwayatkan Hadits dari Nabi Muhammad SAW agar diketahui siapa yang meriwayatkannya.

Metodologi yang digunakan az-Zabidi dalam kitabnya telah memberi nilai tambah bagi khazanah keilmuan Islam. Karenanya, dalam sejarah disebutkan bahwa kitab az-Zabidi termasuk kitab terpenting ketika membicarakan kitab Shahih al-Bukhari. Kitab itu diakui sebagai karya paling lengkap isinya serta sederhana penyajiannya.

Karena itu, tak salah jika berbagai universitas di seluruh dunia merekomendasikan kitab ini sebagai salah satu referensi terpenting. Bahkan sengaja diterjemahkan ke berbagai bahasa untuk memudahkan mempelajarinya.

Karya az-Zabidi lainnya yang cukup dikenal yaitu Ithaf as-Sadah al-Muttaqin, sarah  kitab Ihya` Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Ia menjelaskan lafazh atau makna yang banyak disalahpahami dalam kitab itu. Ia juga menjelaskan mengenai status Hadits.

Menurutnya, meski kitab Ihya’ banyak memuat Hadits dhaif, namun memiliki jalur yang banyak sehingga derajatnya naik menjadi hasan lighoirihi. Sedangkan Hadits maudhu’ dalam kitab tersebut, menurut hasil penelitiannya, sangatlah kecil. Kitab Ithaf as-Sadah ini terdiri dari sepuluh jilid.

Selain itu ia juga mengarang sebuah kamus berjudul Tajul ‘Arus Syarah al-Qomus berjumlah 10 jilid. Ketika menyelesaikan kitab ini, ia menggelar sebuah walimah yang mewah dan megah dengan mengundang para pelajar serta ulama masa itu, serta menyodorkan kitab karangannya tersebut untuk diperiksa.

Semua hadirin mengakui keutamaan az-Zabidi dalam menguasai ilmu Bahasa, dan mereka pun menulis kata sambutan, entah berbentuk gubahan syair atau lainnya. Ulama terakhir yang menulis sambutan adalah Syaikh Muhammad Said al-Bagdadi dengan mengucapkan secara spontan pada pertengahan Jumadi Tsani (1194 H).

Kitab ini diakui sebagai kamus yang cukup lengkap. Syaikh Abu Fatah Abu Ghudah, seorang ulama dari Mesir, sampai “tidak habis pikir” bagaimana az-Zabidi mampu menyusun kitab sebesar ini. Selain karya di atas, masih banyak lagi karya lainnya.

Kuasai Banyak Bahasa

Nama lengkap az-Zabidi, yaitu as-Sayyid al-Imam al-Mujaddid al-Mutafaqqih Abul Faidh Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Abdur Razzaq dan dikenal dengan panggilan Murtadho al-Husaini az-Zabidi al-Hanafi. Nasabnya sampai pada as-Sayyid al-Imam Ahmad bin Isa bin al-Imam Zeid bin ‘Ali bin al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib. Beliau berasal dari kota “Wasith” sebuah kota di Bagdad, Irak.

Beliau adalah seorang ulama yang bermadzhab Hanafi. Ia dikenal sebagai seorang pakar Hadits pada zamannya. Sejarawan terkemuka asal Yaman, Muhammad ibn Zabaroh al-Hasani berkata dalam Nasyr al-‘Arf li Nubala’ al-Yaman ba’da al-Alf, az-Zabidi mempelajari ilmu Hadits dari Muhammad Fakhir bin Yahya al-Lahabadi dan Syah Waliyullah ad-Dahlawi serta meminta ijazah kepadanya.

Selain ilmu tersebut, ia juga diakui sebagai seorang yang faqih, sastrawan maupun penyair. Ilmu itu dipelajarinya dari kota Zabid, Yaman, dari seorang guru bernama ‘Abdul Kholiq bin Abu Bakar al-Mizjaji. Kepadanya az-Zabidi juga membaca Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan Sunan an-Nasa’i dari awal hingga akhir.

Disamping itu, ia juga membaca kitab al-Kanz serta al-Manar sebuah karya Imam an-Nasafi al-Hanafi dan Musalsalat Ibn ‘Uqailah yang berjumlah empat puluh lima musalsal. Begitu juga al-Musalsal bi Yaum al-‘Id.

Abdurrahman al-Jabroti al-Mishri, salah satu muridnya, menyebutkan biografinya dalam kitab tarikhnya, “Guru kami ialah panji semua panji. Beliau pergi merantau menimba ilmu serta beberapa kali menunaikan ibadah haji. Ia berjumpa as-Sayyid Abdurrahman al-‘Idrus di Makkah tahun 1163 H. Ia bermukim di Thoif sepeninggal Sayyid Abdurrahman yang pulang kembali ke Yaman tahun 1166 H.”

Az-Zabidi selalu bersama gurunya dan mengikuti semua pengajiannya, baik umum ataupun khusus. Gurunya mencapai tiga ratus orang.

Selain bahasa Arab, beliau juga menguasai bahasa Turki, Persia, dan Karaj. Ia pun senantiasa mengabdikan hidupnya dalam ilmu serta memilki himmah yang besar di dalam memahami permasalahan yang dilalaikan para ulama seperti ilmu nasab, ilmu sanad, dan takhrij Hadits.

KH Maimun Zubair Rembang, Jawa Tengah, yang punya sanad sampai kepadanya menyebut az-Zabidi sebagai seorang Mujadid. Sedang orang pertama dari pulau Jawa yang langsung mulazama kepada az-Zabidi, adalah KH. Abdul Manan, kakek KH. Mahfud Tremas dari Pacitan, Jawa Timur.

Imam az-Zabidi wafat pada hari Ahad bulan Sya’ban tahun 1205 H genap umur 60 tahun. Adapun asbab kematiannya adalah penyakit Tha’un. Beliau dikebumikan di pemakaman Sayyidah Ruqoyyah di Kairo, Mesir.*Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah

Tulisan ini terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi Februari 2022.