7.5 C
New York
Senin, April 22, 2024

Buy now

spot_img

Ilmu Dapat Menjadi Preventif Terjadinya Perceraian

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sebanyak 447.743 kasus perceraian terjadi pada tahun 2021. Angka itu menunjukkan, kasus perceraian di Indonesia mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya.  Padahal data BPS ini hanya mencakup perceraian untuk agama Islam saja.

Banyak yang beranggapan pernikahan di usia dini menjadi biang kerok penyebab tingginya angka perceraian. Para pasangan muda dituding belum optimal mengelola emosi, kematangan menyelesaikan konflik, apalagi kemapanan finansial.

Walau Pemerintah sudah menaikkan level usia pernikahan menjadi 19 tahun, nyatanya setiap tahun pertumbuhan nikah dini tetap meningkat.

Pola pengasuhan anak yang keliru juga disebut sebagai dasar dari banyaknya perceraian. Lantas, apakah ada korelasi antara perceraian, pernikahan dini, dan kesalahan pola pengasuhan menyebabkan perceraian? Tentu selalu menjadi perdebatan dan menyisakan tanda tanya.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, wartawan Suara Hidayatullah, Azim Arrasyid menjumpai Ustadz Bendri Jaisyurrahman, konselor keluarga dan pernikahan. Pria yang aktif mengisi seminar dan kajian parenting ini mengurai permasalahan dan memberikan jalan keluar atas fenomena perceraian.

Simak wawancara selengkapnya.*

Angka perceraian setiap tahun selalu naik, Anda memandang hal ini seperti apa?

Dalam Surat Az-Zumar ayat 9 terdapat firman Allah Ta’ala: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Pelajaran dari ayat ini secara umum, isyarat bahwa apakah sama rumah tangga yang sejak awal dibangun dengan ilmu, dengan rumah tangga yang tidak punya ilmu.

Di antara nasihat Umar bin Khaththab pada anak muda, pelajarilah ilmunya sebelum kamu jadi seorang pemimpin. Maka, kepemimpinan yang utama dalam rumah tangga itu harus dibekali dengan ilmu.

Sayangnya, sebelum menikah tidak dibekali ilmu, walhasil kekacauan-kekacauan terjadi.

Artinya, menurut Anda ilmu menjadi solusi atas masalah ini?

Ya, salah satunya. Mengapa seminar pranikah, seminar rumah tangga itu harusnya digalakkan, karena ini bagian dari preventif (mencegah-red) terjadinya perceraian di masa depan. Kalau dilihat akarnya inilah yang harus diselesaikan dulu.

Seorang suami itu kelak menjadi pemimpin yang dihisab di akhirat. Perempuan juga jadi pemimpin, yakni kepala bagi rumah suaminya. Jadi sama-sama punya peran kepemimpinan.

Pernikahan dini dituding picu angka perceraian. Bagaimana menurut Anda melihat ini?

Periset menyebutkan anak-anak di zaman sekarang ini kualitas psikisnya menurun, dibandingkan zaman dahulu. Sehingga anak itu lebih dulu baligh, namun tidak akil (berakal). Ini menandakan ada pola salah asuh.

Diknas Dikti pernah melakukan riset yang menyatakan, bahwa usia psikis anak itu setengah dari usia biologisnya. Ini menandakan bahwa mereka siap kawin tapi tidak siap nikah. Kawin dalam pengertian aspek biologis bersetubuh, tapi nikah berkaitan dengan bentuk tanggung jawab.

Namun ada alasan bahwa seorang cepat menikah demi terhindari dari pornografi dan pergaulan bebas?

Ada kaidah fiqih “menikah mencegah dari berbuat zina.” Tapi itu tidak selesai, nyatanya beberapa kasus perselingkuhan bahkan berzina dengan istri orang lain itu muncul ketika orang sudah menikah.

Begitu pun pornografi tidak selesai dengan pernikahan. Salah satu klien kami, sudah menikah pornografi tetap jalan. Jadi jangan dipandang setelah nikah beres tidak ada pornografi.

Mari kita lihatnya dari kacamata makro. Tidak sekadar melihat satu sisi,  banyaknya pornografi, maka harus menikah segera. Padahal di dalam pernikahan ada ujian, yang kalau kita tidak siap malah akan berujung pada kehancuran.

Pandanglah dulu, masalahnya apa? Kalau masalahnya karena pornografi, maka selesaikan dahulu undang-undangnya (UU). Bagaimana UU pornografi dijelaskan, diberikan hukuman yang berat, kedua prevensi, ketiga edukasi, dan keempat, bagaimana pendidikan dari orangtua. Karena anak-anak yang terjebak pornografi salah satu akibat salah pengasuhan.

Ketika pemerintah menaikkan level umur pernikahan, itu juga bukan solusi. Hanya memandangnya dari sisi banyaknya perceraian, ketidakmatangan, dari sisi umur anak-anak yang nikah. Umur dinaikkan, tapi tidak memberikan edukasi, hal itu jadi tamparan keras bagi Pemerintah.

Makanya duduk berembuk, tidak bisa hanya satu pintu saja. Harus disinergikan, misalnya bagi aktivis anti pornografi mengedukasi berkaitan mencegah anak-anak terlibat dalam pornografi. Pemerintah memberikan edukasi pranikah, pencegahan penceraian.

Dengan begitu kegelisahan orangtua, akan maraknya pornografi yang khawatirnya jadi perzinaan itu tidak melulu diselesaikan dengan pernikahan.

Apakah juga ada korelasi dengan persoalan pengasuhan, serta bagaimana mengatasinya?

Pola pengasuhan, misalnya, seringkali perempuan mencari rezeki untuk menopang suami, tapi cara cari rezekinya sama kayak laki-laki. Itu saja sudah melanggar fitrahnya. Dalam al-Quran surat Ali Imron ayat 36 dijelaskan, laki-laki tidak sama dengan perempuan. Karena tidak sama,  maka cara cari rezekinya beda antara laki-laki dan perempuan.

Itulah kenapa kami menggagas platfrom Fatherman untuk sosialisasi khususnya para ayah agar bisa memahami tanggung jawab sebagai ayah di tengah kesibukannya. Bahwa ayah itu pada hakikatnya mahluk Allah yang sibuk.

Kalau kita lihat Surat At-Tahrim ayat 6 dapat dipahami, bahwa Ayah itu mendidik anak-anak dan keluarganya. Meski sibuk, harus dipikirkan bagaimana membagi waktu untuk belajar.

Terpikirlah kami untuk membuat kelas online. Ayah di tengah kesibukannya bisa mengakses kelas parenting di mana pun dan kapan pun. Tapi ilmu ini bukan saja untuk Ayah. Para ibu yang ingin meningkatkan skill dan kualitasnya, bisa ikutan juga dalam kelas ini. Kelas ini tidak tersedia secara offline.

Intinya fatherman.id ini kelas pembelajaran online dan diberikan sesi live Q&A (tanya jawab) dengan narasumber di akhir sesi. Video-video pembelajaran ini durasinya sekitar 15-20 menit, bisa diakses seumur hidup.

Bicara soal pengasuhan, saat ini ada istilah Toxic Parenting yang sedang marak di kalangan muda. Maksudnya seperti apa?

Toxic parenting harusnya adalah nasihat buat kita orangtua. Saya selalu sampaikan dalam pengantar kajian tema ini, karena istilah Toxic Parenting sering disematkan oleh anak muda untuk menyalahkan orangtua mereka. Betapa banyak orang ikut kajian parenting kesalahan mendasarnya mereka ingin mengevaluasi pola pengasuhan orangtuanya.

Anak muda ini merasa dapat pembenaran, akhirnya punya kesimpulan, orangtuanya salah didik. Justru itu kesalahan fatal. Toxic parenting itu, tentang kita menjadi orangtua.

Setiap anak harus menyadari bahwa, apapun yang dilakukan orangtua, tidak membuat diri kita berbuat kurang ajar, karena itu dosa besar. Rumus dalam Islam itu, berbakti pada orangtua dasarnya kewajiban bukan balas jasa. Dijelaskan dalam surat Al-Isra ayat 23.

Banyak sekali toxic di masyarakat. Di antaranya; tidak mendidik adab juga toxic, anak dibiarkan makan tidak pakai tangan kanan, kencing sembarangan yang akan menjadi kebiasaan tidak baik.*

Bendri Jaisyurrahman (Konselor Keluarga dan Pernikahan)

Tulisan ini terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi Desember 2022

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles