Beranda Jendela Keluarga Tarbiyah Dahsyatnya Doa Orang Tua Dalam Mendidik Anak

Dahsyatnya Doa Orang Tua Dalam Mendidik Anak

481

Doa Orang Tua–Anak durhaka kepada orangtuanya, bisa jadi bermula dari orangtua yang tidak pernah mendoakannya.

Suatu hari datanglah seorang laki-laki kepada Abdullah Ibnu Mubarak, yang hendak mengadukan perihal kedurhakaan anaknya. Mendapat pengaduan macam itu, beliau bertanya kepada sang tamu, “Pernahkah engkau mendoakan keburukkan baginya?” selidik Abdullah Ibnu Mubarak.doa orang tua

“lya,” jawab laki-laki itu singkat. Mendengar jawaban demikian, ulama kharismatik itu langsung menimpali, “Sungguh engkau telah menghanc urkan nya!”

Doa adalah inti dari ibadah. Doa merupakan senjata utama bagi kaum Muslimin dalam menghadapi segala kondisi. Selain itu, doa merupakan pengakuan kita sebagai hamba yang tidak memiliki kuasa apapun terhadap Allah. Kepada-Nya kita adukan segala persoalan. Dan hanya atas kehendak-Nya semata segala hal akan terjadi. Karenanya, doa menjadi ibadah yang harus senantiasa dilaksanakan.

Ibnu Qayyim berkata, “Doa adalah obat penawar yang paling bermanfaat. la juga merupakan penolak bala (malapetaka) yang paling ampuh, sebab ia dapat menolak, menepis dan menahan kedatangannya. Jika malapetaka telah terjadi dan tak dapat ditolak, maka doa dapat menghilangkan atau meringankannya. Di samping itu, doa juga merupakan senjata bagi orang yang beriman.”

Dari sini kita dapati titik temu antara pentingnya mengiringi proses pendidikkan anak dengan doa. Doa bisa menjadi jembatan yang akan mengantarkan anak-anak kita menjadi sosok yang didambakan. Maka jangan sampai orangtua berhenti berdoa untuk kebaikkan atau keberkahan mereka, karena cepat atau lambat Allah pasti akan mengabulkannya.

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’.” (Al-Mu’min [40]: 60).

ENYAHKAN DOA KEBURUKAN

Tak dipungkiri, terkadang sebagian orangtua lepas kontrol dalam menyikapi perilaku anak yang dianggap nakal. Tak ayal karena emosi, terlontarlah ucapan (baca; doa-doa) buruk bagi anak-anak, persis yang dilakukan oleh laki-laki dalam kisah di awal.

Sebagai orangtua tentu mengharapkan anaknya menjadi sosok yang saleh-salehah. Untuk itu,
menjaga lisan menjadi keniscayaan. Kalau yang terjadi justru sebaliknya, itu tanda bahaya bagi masa depan anak kita. Mereka bisa saja terjerumus ke dalam jurang kehancuran akibat kalimat-kalimat negatif yang kita ucapkan. Sumpah serapah sebagai reaksi menghadapi perilaku buruk anak bukanlah solusi. Bahkan, boleh jadi justru akan menjadi bumerang bagi orangtua sendiri di masa mendatang.

Kalau ini terjadi tentu kita akan merugi baik di dunia maupun di akhirat kelak. Anak bagi orangtua adalah amanah. Kelak sebagai orangtua akan mempertanggungjawabkan keberadaan mereka di hadapan Allah. Tidak ada pilihan bagi kita untuk selamat terkecuali mengantarkan mereka menjadi pribadi-pribadi yang saleh-salehah.

Terkait bahaya mendoakan keburukan untuk anak, simaklah larangan Rasulullah Beliau bersabda, “Janganlah kalian mendoakan keburukan kepada diri kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan kepada anak-anak kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan kepada pelayan-pelayan kalian, dan janganlah kalian mendoakan keburukan kepada harta kalian. Janganlah kalian mendoakan keburukan sebab jika waktu doa kalian bertepatan dengan saat-saat dikabulkannya doa maka Allah akan mengabulkan doa kalian (yang buruk itu)” (Riwayat Abu Daud).

Hal inilah yang harus menjadi ke-khawatiran orangtua dalam berucap; khawatir kalau ucapan ataupun doa buruk tersebut terijabah oleh Allah

Jangan sampai karena tidak mampu mengontrol lisan, kita menjadi kunci kehancuran anak-anak kita. Karenanya, kita harus hati-hati dalam berucap ataupun berdoa untuk putra-putri kita.

Doa Orang Tua dan Teladan Agung

Rasulullah SAW adalah suri teladan terbaik sepanjang masa. Dari proses pendidikan yang beliau praktikkan telah lahir generasi-generasi unggul yang tiada duanya (khairu al-qarni). Dan doa menjadi salah satu kunci metode pendidikkannya. Dalam banyak riwayat kita temukan betapa Rasulullah SAW sangat gemar mendoakan kebaikkan bagi putra-putri beliau sendiri, juga para sahabat.

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, misalnya, dikisahkan bahwa pada suatu hari Rasulullah jj§| meminta putri beliau, Fatimah, untuk memanggil kedua cucunya; Hasan dan Husen serta Ali. Setibanya di rumah, Nabi ^ mengambil kain Khaibar dari Ummu

“Ya Allah inilah keluargaku, jauh-kanlah kotoran (dosa, kekufuran) dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya!”

Salamah yang memang tengah berada di tempat tersebut. Setelah itu, beliau melingkupkan kain tersebut kepada mereka semua, memegang kedua ujung kain dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan berisyarat memohon kepada Robb-nya seraya berdoa;

“Ya Allah inilah keluargaku, jauhkanlah kotoran (dosa, kekufuran) dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya!” Beliau mengulangi doa ini hingga tiga kali.

Kemudian, terhadap anak-anak para sahabat, Rasulullah pun senantiasa mendoakan kebaikkan untuk mereka. Abdullah bin Jafar, Usamah bin Zaid, dan Ibnu Abas adalah di antara mereka mendapat keberkahan itu. Untuk nama yang terakhir, Rasulullah mendoakan beliau agar menjadi sosok yang fakih dalam urusan pemahaman al-Qur’an.

Ibnu Abas berkisah, “Rasulullah memelukku di dadanya, seraya berdoa, ‘Ya Allah, ajarkanlah kepadanya hikmah.” (Riwayat Bukhari).

Terkait dengan doa kebaikan Rasulullah kepada mereka yang membangkang, bisa kita dapati dalam perjalanan hijrah pertama beliau ke Thaif. Saat itu beliau tidak hanya ditolak dan ditantang oleh warga Thaif, tapi juga dilecehkan oleh mereka.

Warga berduyun-duyun melempari beliau dengan berbagai macam benda; mulai dari batu hingga kotoran. Tidak hanya orang dewasa, mereka yang masih anak-anak pun ikut menistakan beliau. Namun apa jawaban beliau, ketika datang tawaran dari malaikat, atas izin Allah, hendak membumihanguskan warga Thaif, Rasulullah menahannya, bahkan mendoakan kebaikkan bagi mereka. “Jangan kau lakukan. Mudah-mudahan dari keturunan mereka kelak, akan lahir generasi yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,” tegas beliau, seraya berucap doa; “Ya Allah berilah petunjuk kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui,” panjat beliau. Tidak butuh waktu lama, sejarah pun mencatat daerah Thaif akhirnya diterangi oleh cahaya Islam.

Untuk itu, marilah kita bertekad untuk senantiasa mendoakan kebaikkan bagi buah hati kita sekaligus berazam tidak akan pernah mendoakan keburukkan bagi mereka, mengingat besarnya peluang konsekuensi buruk yang akan diterima. Wallahu a’lamu bish shawab. (Khairul Hibri, pengasuh di Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al-Hakim (STAIL) Surabaya.)