Berkunjung ke Rumah Kelahiran Mohammad Natsir

0
268

Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) memang tidak bisa dipisahkan dari destinasi wisata religinya. Belum lama ini Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah kembali meresmikan Rumah Kelahiran Mohammad Natsir sebagai Cagar Budaya. Koresponden Suara Hidayatullah di Padang, Dodi Nurja, mengeksplorasi tempat tersebut usai diresmikan. Berikut kisah perjalanannya.

Gubernur Mahyeldi menandatangani prasasti Rumah Kelahiran Mohammad Natsir pada pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dan Haflah ke-55 Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di Istana Gubernur, Kota Padang, akhir bulan Februari lalu.

Hadirnya Rumah Kelahiran Mohammad Natsir menambah daftar destinasi wisata religi di daerah Sumatera Barat yang harus dikunjungi. Sebelumnya, wisatawan dari dalam dan luar negeri ramai berkunjung ke Museum dan Rumah Kelahiran Buya Hamka, Masjid Tuo Pincuran Gadang, Kampung Kelahiran Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi yang semuanya berada di Kabupaten Agam. Ada juga Masjid Raya Sumatera Barat di Kecamatan Padang Utara, Kota Padang

Belum Populer

Rumah Kelahiran Mohammad Natsir belum sepopuler objek wisata religi lainnya yang ada di Sumbar. Padahal Rumah Kelahiran salah satu pahlawan Nasional ini tidaklah sulit untuk didapati kendati berjarak sekira 120 KM dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang. Beralamat di jalan Jembatan Baukia, Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Jalan yang dilalui menuju Alahan Panjang merupakan bagian dari ruas jalan raya Padang-Solok yang cukup lebar dan beraspal.

Berkunjung ke Rumah Kelahiran Mohammad Natsir, kita juga akan disajikan panorama alam yang indah dengan udara sejuk menyegarkan khas dataran tinggi Lembah Gumanti (1.400 mdpl).

Mulanya kita akan disambut perkebunan teh  yang terhampar hijau sayup mata memandang. Perkebunan teh milik PTPN VI ini persis berada di kaki Gunung Talang sehingga sering diabadikan dalam foto dan video wisatawan.

Usai menikmati hamparan kebun teh dan Gunung Talang, kita akan disambut hamparan dua buah danau yang membiru, masing-masing Danau Diatas dan Danau Dibawah, kedua danau yang berdekatan ini juga dikenal sebagai Danau Kembar.

Namun di lokasinya yang bernama  Danau Diatas itu adalah danau yang terletak di sebelah bawah bukit, sedangkan Danau Dibawah yang berlokasi di sebelah atasnya. Kawasan danau tersebut sudah masuk dalam wilayah Alahan Panjang, dan itu artinya sudah amat dekat dengan lokasi yang akan kita tuju yakni Rumah Kelahiran Mohammad Natsir.

Di rumah tepi sungai nan sederhana yang berlokasi di pinggir jalan raya Jembatan Baukia, Alahan Panjang inilah Mohammad Natsir dilahirkan pada 17 Juli 1908. Di sini pula Natsir bersama tiga saudara kandungnya, masing-masing bernama Yukinan, Rubiah, dan Yohanusun dibesarkan oleh ayahnya Muhammad Idris Sutan Saripado dan ibunya, Khadidjah.

Namun, rumah bercat kuning dengan tipe khas Bungkuih Nasi yang cukup besar dan cukup mewah untuk ukuran masa itu, bukanlah milik orang tua Natsir. Rumah keluarga Mohammad Natsir ada di Maninjau, Kabupaten Agam.

Ada pun rumah di mana Mohammad Natsir dilahirkan ini adalah rumah milik Kamal Sutan Rajo Ameh, saudagar kopi yang kaya raya masa itu. Rumah bersejarah itu kini dikelola Tuti Murniati, salah satu cucu dan keturunan Kamal Sutan Rajo Ameh.

Alhamdulillah, dengan seizin keturunan pemilik rumah ini, kita sudah pasang plang nama di rumah ini dan secara bertahap kita inisiasi pembangunan perpustakaan tempat menampung sejarah pemikiran, buku-buku, maupun dokumen lain seputar perjuangan Pak Natsir,” ujar Jimmy Syah Puyra Ginting, Ketua Panitia Lokal Rakornas Dewan Da’wah kepada Suara Hidayatullah.

Karakter Natsir Dibentuk

Menurut, Tuti Murniati, rumah saat ini bukankah rumah asli Mohammad Natsir dilahirkan.  Rumah yang asli, sudah hancur di bom pesawat agresor Belanda. Rumah saat ini merupakan rumah yang dibangun kembali pada tahun 1957 dengan tipe, ruangan, dan warna yang sama dengan bentuk aslinya. Namun ukurannya lebih kecil.

Kakeknya, Kamal Sutan Rajo Ameh merupakan kawan dekat Ayah Mohammad Natsir, Idris Sutan Saripado yang di masa kekuasaan Belanda itu bekerja sebagai juru tulis. Karena belum punya rumah, ayah Mohammad Natsir diajak Kamal Sutan Rajo Ameh untuk tinggal di rumahnya yang cukup besar itu. Rumah itu kemudian dibagi dua, sebelah kanan dihuni Idris dan keluarganya, dan sebelah kiri dihuni Kamal.

Karena Belanda kian mengganas, dua keluarga penghuni rumah yang sudah seperti saudara ini akhirnya harus berpisah. Ayah Mohammad Natsir memboyong keluarga kembali ke kempung halaman di Maninjau. Sementara, Kakek Tuti Murniati membawa keluarganya mengungsi ke kaki Gunung Talang.

Sejak perpisahan itu, Mohammad Natsir tidak pernah kembali lagi. Namun, rumah sederhana dan kesejukan hawa Lembah Gumanti tentu sangat berarti bagi perjalanan kehidupan tokoh bangsa ini di kemudian hari.

Selama ini tak banyak yang mengenali, apa lagi pernah mengunjunginya. Pemerintah pun terkesan terlambat dalam merawat rumah kelahiran tokoh pemersatu NKRI yang terkenal dengan mosi integral.

Di sini, di rumah inilah karakter mulai dibentuk. Di sini awal Mohammad Natsir belajar baca tulis, di sini pula awal ia mengenal pendidikan surau.*

Tulisan ini terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi Agustus 2022