Beranda Hikmah Berkat Ilmu, Orang Biasa Bisa Berjaya

Berkat Ilmu, Orang Biasa Bisa Berjaya

281

Berkat Ilmu, Orang Biasa Bisa Berjaya–Pada tahun 97 H, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik melakukan tawaf di Baitul Atiq. Usai tawaf, ia menghampiri orang kepercayaannya dan bertanya, “Di manakah temanmu itu?” Sambil menunjuk ke sudut barat Masji-dil Haram dia menjawab, “Di sana, beliau sedang berdiri untuk shalat” Dengan diiringi kedua putranya khalifah bertandang menuju laki-laki yang dimaksud. Beliau dapatkan ia dalam keadaan shalat, hanyut dalam rukuk dan sujudnya. Sementara orang-orang duduk di bel a-kang, di kanan dan kirinya. Maka duduklah khalifah di penghabisan majelis itu. Begitu pula dengan kedua anaknya.Berkat Ilmu, Orang Biasa Bisa Berjaya

Kedua putra mahkota itu mengamati dengan sek-sama, seperti apa gerangan laki-laki yang dimaksud oleh khalifah. Ternyata dia seorang tua dari Habsyi dan berkulit hitam, rambutnya keriting, dan pesek hi-dungnya. Usai shalat, Khalifah Sulaiman segera me-ngucapkan salam dan orang tua itu membalasnya. Lalu sang khalifah menghadap kepadanya dan bertanya ten-tang manasik haji, rukun demi rukunnya. Orang tua itu menjawab setiap pertanyaan dengan rinci dan dia san-darkan pendapatnya kepada Hadits Rasulullah SAW.

Setelah cukup dengan pertanyaannya, sang khalifah beranjak menuju tempat sa’i. Di tengah perjalanan sa’i antara Shafa dan Marwa, kedua pemuda itu mendengar seruan para penyeru, “Wahai kaum Muslimin, tiada yang berhak berfatwa di tempat ini kecuali Atha’ bin Rabbah. Jika tidak bertemu dengannya hendaknya menemui Abdullah bin Abi Najih” Seorang pemuda itu langsung me-noleh kepada ayahnya sembari berkata, ’’Petugas Amirul Mukminin menyuruh manusia agar tidak meminta fatwa kepada seorang pun selain Atha’ bin Rabah dan temannya, namun mengapa kita tadi justru datang dan meminta fatwa kepada seorang laki-laki yang tidak memberikan prioritas kepada khalifah dan tidak pula memberi hak penghormatan khusus kepada khalifah?”

Sulaiman berkata kepada putranya, “Wahai anakku, pria yang kamu lihat dan engkau melihat kami berlaku

hormat di hadapannya tadilah yang bernama Atha’ bin Rabbah, orang yang berhak berfatwa di Masjid al-Haram. Beliau mewarisi ilmu Abdullah bin Abbas dengan bagian yang banyak” Kemudian melanjudcan, “Wahai anakku, carilah ilmu, karena dengan ilmu rakyat bawahan bisa menjadi terhormat, para budak bisa melampaui derajat para raja” (Disadur dari kitab Shuwaru min Hayati at-Tabi’in karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya).

ILMU, PELITA KEMULIAAN

Sesungguhnya kemuliaan bukan hanya milik orang yang bertahta atau berharta. Bukan pula milik para rupawan dan memiliki popularitas. Tetapi, kemuliaan bisa diraih oleh setiap hamba. Ia bisa diraih oleh orang bawahan, rakyat jelata, bahkan oleh budak sekalipun. Kisah di atas merupajan bukti nyata bahwa kemuliaan bisa diraih oleh siapa saja. Betapa uniknya seorang hamba bersahaja seperti Atha’ bin Rabbah, yang dalam status sosial dia termasuk orang rendahan bahkan pernah berstatus sebagai budak, tapi kemuliaannya menjulang tinggi. Apa sesungguhnya yang istimewa pada diri Atha’ bin Rabbah? Sementara di masa kecilnya, dia hanyalah seorang budak milik seorang wanita penduduk Makkah. Dia juga bukan sosok yang rupawan.

Yang istimewa pada diri Atha’ adalah ilmu yang dimilikinya. Berkat ilmunya itu dia disegani dan dinanti fatwa-fatwanya. Itulah istimewanya ilmu. Dengannya orang biasa bisa berjaya. Rakyat bawahan menjadi ber-martabat. Seorang bekas budak menjadi terhormat me-lampaui derajat para raja. Dan apa yang diraih Atha’ bin Rabbah merupakan bukti kebenaran janji Allah dalam firman-Nya, ‘1 niscaya Allah akan meninggikan orang-orangyang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Al-Mujaadilah [58]: 11).

SPIRIT BERILMU

Kisah Atha’ bin Rabbah tersebut bisa menjadi motivasi bagi kita. Kemuliaan adalah hak setiap hamba, maka janganlah berkecil hati bila kita bukan termasuk orang yang bertahta dan berharta. Bukan pula rupawan atau memiliki popularitas. Sebab, bukan itu yang me-muliakan seorang hamba. Betapa banyak orang yang bertahta, berharta, rupawan dan memiliki popularitas, justru dia terhina di akhir hayatnya. Sejarah hidupnya tidak ditulis dengan tinta emas, tapi justru ditulis dengan tinta makian dan kutukan dari manusia yang hidup seza-mannya dan setelahnya.

Sesungguhnya, salah satu yang akan memuliakan seorang hamba adalah ilmu yang dimiliki. Kita semestinya berusaha sekuat daya untuk menjadi orang yang berilmu. Adapun jalan yang mesti ditempuh dengan bersungguh-sungguh dalam belajar. Semua nikmat Allah yang ada pada diri kita, baik kesempatan, kesehatan, maupun finansial kita berdayakan untune menambah ilmu.

Yahya bin Abi Katsir berkata, “Ilmu tidak akan di-dapat dengan bersantai-santai” (Lihat: Tadribur Rawi, II, h. 141). Imam Syafi’i (wafat 204 H) juga menasihat-kan, “Ketahuilah, ilmu itu tidak akan didapat dari se-orang yang cita-cita hidupnya hanya demi makanan dan pakaian. Maka jadikanlah dirimu sebagai orang yang memiliki peranan tinggi. Dan tinggalkanlah pola hidup san-tai dan sikap acuh tak acuh.”

Baca Juga: Sok Tahu, Bukti Sempitnya Ilmu.

Dalam usia berapa pun kita, aktivitas menambah ilmu harus terus berjalan. Sebab, kewajiban menuntut ilmu bagi orang beriman itu berlangsung seumur hidup. Baik yang terkait dengan ulumuddiin (ilmu agama) maupun ilmu keduniaan. Karena itu, kita patut mengambil spirit dari nasihat seorang tabi’in, Urwah bin Zubair ketika memotivasi putranya untuk menuntut ilmu, “Wahai putra-putriku, tuntutlah ilmu dan curahkan seluruh te-nagamu untuknya. Karena, kalaupun hari ini kalian men-jadi kaum yang kerdil, kelak dengan ilmu tersebut Allah menjadikan kalian sebagai pembesar kaum.” (Lihat Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Shuwaru min Hayati at-Tabi’in, h. 49).

Kita sebagai orang beriman patut bermuhasabah ketika belum meraih puncak kemuliaan dalam perca-turan kehidupan, karena ada ketidaksamaan antara aja-ran idealitas Islam dengan realitas sosial pemeluknya. Semestinya kita menjadi umat terbaik, penentu arah ke-hidupan semesta alam, namun justru seringkali tersisih-kan. Jika demikian realitanya, maka setiap hamba ber-iman mesti bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Sebab, sangat mungkin yang menyebabkan umat ini tersisihkan karena dalam hal ilmu masih kalah dengan umat agama lain.

Marilah kita suntikkan motivasi untuk diri, keluarga, anak-anak, maupun orang-orang di sekitar kita agar tiada jemu dalam mengejar ilmu. Karena dengan menguasai ilmu umat akan bisa tampil sebagai penentu bagi arah kehidupan. Wallahu a’lamu bish shawab. • OLEH MASROKAN Pengasuh Pesantren Hidayatullah Kendari, Sulawesi Tenggara