Beranda Mutiara Quran Ajarilah Keluarga Adab dan Ilmu

Ajarilah Keluarga Adab dan Ilmu

206
“Wahai orang-orang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (At-Tahrim [66]: 6).
Muqoddimah
Entah dari mana bermula, saat ini berkembang pe-mahaman bahwa orang yang berpendidikan itu identik dengan bersekolah formal. Sebaliknya, yang tak mampu bersekolah dianggap tak berilmu.
Tentu saja hal itu tidak benar. Pandangan tersebut keliru jika seseorang lalu membatasi pendidikan dan me-nuntut ilmu itu hanya sebatas lingkup institusi formal saja. Seolah di luar itu dianggap tidak bisa belajar dan menuntut ilmu. Padahal, proses pendidikan atau proses bel ajar itu bukan hanya urusan di sekolah saja, tapi di rumah atau di tempat lain.
Tak masalah jika mampu menempuh pendidikan formal setinggi-tingginya. Sebab itu merupakan pintu ke-baikan bagi seseorang. Diharapkan, semakin tinggi pen-didikannya semakin bertambah pula ilmunya, dan kian besar pula harapan agar ia bisa berbagi dan bermanfaat sebanyak mungkin di masyarakat.ajari keluarga adab dan ilmu
Makna Ayat
Ayat di awal menerangkan fungsi utama keluarga yaitu saling menjaga diri dari jilatan api neraka. Secara khusus Allah menyebut hal itu sebagai perintah se-kaligus kewajiban bagi setiap orangtua. Mufassir Imam ath-Thabari menghimpun beberapa pendapat ulama tentang perintah “menjaga keluarga” tersebut. Berkata Ali bin Abi Thalib: “Ajarilah anak-anak kalian adab dan ilmu. Ibnu Abbas berkata, “Perbanyaklah amalan di atas ket aatan kepada Allah.
Takutlah dari berbuat maksiat kepada Allah. Sebagaimana suruhlah keluargamu untuk memperbanyak zikir. Niscaya perbuatan itu bisa menyelamatkan kalian dari jilatan api neraka” Adapun Mujahid berkata: “Bertakwalah kepada Allah dan perintahkan keluargamu untuk takut kepada-Nya” Qatadah menambahkan, hendaknya seorang Muslim menyuruh keluarganya kepada ketaatan dan melarang mereka bermaksiat. Lebih jauh lagi, seorang pemimpin kel uarga wajib mengayomi keluarga dan membimbing mereka dalam menjalani ketaatan tersebut.
Seorang pe-mimpin keluarga pula yang harus bertanggung jawab untuk menghindarkan keluarganya dari segala maksiat yang ada. Sedangkan ad-Dhahhak dan Muqatil menga-takan, seorang Muslim punya kewajiban mengajarkan keluarganya, baik itu istri, anak, kerabat, dan hamba sa-hayanya sekalipun. Pengajaran itu meliputi perkara yang telah diwajibkan oleh Allah kepada mereka dan apa-apa yang menjadi larangan-Nya selama ini (Tafsir Jami al-Bayanfi Ta’wil al-Qur’an).
Senada dengan itu, ahli tafsir lainnya, Imam al-Qur-thubi mengutip sebuah pendapat yang menyatakan, “Maka kami wajib mengajari istri dan anak-anak kami dengan agama dan kebaikan. Serta mencukupi mereka dengan pengajaran adab.”
Dengan uraian para ulama tafsir tersebut, tampak terang bahwa keluarga memiliki peran penting sebagai pondasi awal di dalam meraih kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat kelak. Bagi seorang Muslim, ke-luarga tak hanya bicara urusan rumah tangga dan segala pernak-pernik permasalahannya. Ia tak hanya mengurus hubungan antara suami dan istri atau orangtua dengan anak-anaknya serta anak dengan saudaranya. Tapi juga mencakup upaya nyata setiap anggota keluarga agar saling menjaga dan mengingatkan dalam menggapai keselamatan.
Layaknya sebuah institusi pendidikan, sebuah keluar-ga Muslim harus selalu mengacu kepada visi-misi yang telah digariskan sebelumnya. Perintah menuntut ilmu itu tiada berbatas. Ini kewajiban yang telah dipikul sejak ia pertama kali lahir dalam buaian hingga tiba masanya ke liang lahat. Ini berlaku bagi siapa saja, tentu beban itu lebih berat kepada kedua orangtua sebagai pemimpin dal am sebuah keluarga. Setiap yang terlahir dalam ke-adaan fitrah, hingga orangtua yang mengubahnya menjadi Nashrani atau Majusi, demikian Nabi mengingat-kan.

Pendidikan Adab

Muhammad Syed Naquib al-Attas, seorang tokoh pendidikan Melayu menggariskan tujuan suatu pendi-dikan. Ia berkata, dalam Islam pendidikan yang dimak-sud untune menciptakan manusia yang baik (a good man). Kriteria manusia yang baik adalah manusia yang mampu memadukan antara adab dan ilmu yang dimiliki. Orang dikatakan beradab ketika ia menempatkan segala sesua-tu sesuai dengan tempat dan kedudukannya secara be-nar. Puncaknya, dengan ilmu yang dipunyai, orang itu bisa menempatkan dirinya sebagai hamba yang patuh di hadapan Sang Pencipta.
Tak heran, Ali bin Abi Thalib ketika menafsirkan perintah “menjaga keluarga’, ia berkata, “Ajarilah anak-anak kalian adab dan ilmu” Sebab terkadang bencana dan kerusakan yang terjadi bukan berasal dari kebodohan atau ketidaktahuan sekelompok orang. Tapi justru ber-sumber dari kecerdasan dan keluasan ilmu yang tidak ditopang dengan adab serta akhlak yang mulia. Ketika adab tercerabut dari ilmu maka yang tampak adalah kerusakan dan kebinasaan. Alih-alih memberi manfaat kepada orang lain, yang ada justru keresahan dan keru-sakan yang menyebar di tengah masyarakat.
Sekarang kita dipaksa mengelus dada ketika men-dapati yang melanggar hukum itu ternyata orang yang sangat pandai dan paham merumuskan hukum. Yang mencoreng kemuliaan agama ini ternyata mereka lulusan dari pendidikan sekolah agama.
Karena itu, Imam az-Zarnuji mengurai pentingnya pendidikan adab dalam karangannya, kitab Taklim al-Muta’allim. Ia mengatakan, betapa banyak para penuntut ilmu yang telah berkorban semasa menuntut ilmu. Sayangnya, ia sendiri belum merasakan manisnya buah ilmu itu. Hal ini disebabkan karena mereka melupakan adab dalam menuntut ilmu. Tanpa adab, menurut az-Zarnuji, ilmu itu berjalan tanpa ruh dan makna.
Ibnu al-Jauzi menambahkan, ilmu yang diiringi dengan adab niscaya mengantar seorang hamba kian takut (khasyah) kepada Rabb-nya. Ia kian sadar diri be-tapa Allah Mahamulia sedang seluruh makhluk adal ah hina. Ia kian meyakini, semakin ia belajar justru ke-bodohan itu makin nyata dalam dirinya. Alhasil, persolannya bukan pada seberapa tinggi pendidikan se-seorang, tapi seberapa adab itu menghiasi ilmu yang kita punyai. ♦ Mahasiswa S2 Jurusan Pendidikan dan Pemikiran Islam Universitas Ibn Khaldun, Bogor JANUARI 2015/RABIUL AWAL 1436