Abdul Khalik: Suluh di Pedalaman Maros

0
184

Meski honornya kecil dan harus jalan kaki 5 kilometer lebih tapi tetap semangat mengajar di kampung terpencil. Apa motivasinya?

Sejak Shubuh, langit Maros terlihat mendung pertanda akan turun hujan. Tetapi hal itu tak menyurutkan tekad Abdul Khalik untuk tetap melakukan rutinitasnya yang mulia. Ia tampak berpakaian rapi, bahkan menyiapkan bekal untuk bersiap meninggalkan rumah sederhananya.

Ia juga tak lupa untuk menyiapkan sebuah jas hujan. Dengan motor bututnya, ia pun melaju menerobos kabut tipis dan udara pagi yang dingin kala itu.

Pemuda itu hendak menuju Madrasah Ibtidaiyah DDI Hidayatullah di kawasan terpencil Kampung Bara-baraya, Desa Tanete Bulu, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Jarak sekolah itu dari rumahnya lebih dari 30 kilometer, karena itu ia harus berangkat pagi-pagi sekali.

Sejak 2014, Khalik—sapaan akrabnya—telah mengabdikan diri menjadi seorang guru di sekolah pedalaman itu. Ia sudah hafal betul jalan mana saja yang rusak sehingga memilih jalur aman, agar bisa tiba lebih cepat di suatu perkampungan.

Sampai? Belum. Di kampung itu ia hanya menitipkan sepeda motornya di salah satu rumah warga. Selanjutnya, ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki lebih dari lima kilometer untuk bisa menjangkau tempat tujuannya.

Akses jalan ke sekolah itu memang belum sepenuhnya dapat dilewati kendaran karena kondisi yang tak memungkinkan; melintasi hutan, jalanan curam, hingga menyebrang sungai yang cukup deras arusnya.

Di tengah perjalanan hujan turun dengan derasnya. Namun beruntung ia sudah menyiapkan jas hujan sebelum berangkat. Ia pun tetap melanjutkan perjalanan demi bisa cepat bertemu murid-muridnya. Tak ada rasa kesal di raut wajahnya, karena sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu. Ia justru amat menikmatinya.

Tiba di tujuan, ia disambut murid-muridnya serta masyarakat setempat seperti keluarga sendiri. Seolah hilang semua lelah di perjalanan. Kampung Bara-baraya sudah seperti rumah keduanya. Karena kondisi jalan yang seperti itu, ia tak bisa bolak-balik setiap hari. Solusinya ia pun harus menetap selama beberapa pekan di kampung tersebut. Dengan begitu, ia justru bisa mengajar serta berinteraksi lebih intens dengan murid-muridnya.

Mengabdi Tanpa Pamrih

Pria kelahiran tahun 1991 itu tidak pernah lelah mendidik puluhan murid yang ada di kampung terpencil tersebut. Alumnus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yapnas Jeneponto ini harus menetap selama beberapa pekan di sekolah, tanpa ada sinyal telekomunikasi dan aliran listrik. Ia biasanya kembali ke rumah kalau perbekalannya telah habis.

Niat tulusnya untuk terus mengabdi itu tidak pernah goyah meski dirinya hanya menerima honor sebesar Rp 250 ribu rupiah per bulan. Gaji itu diterima Khalik setiap tiga bulan sekali dari pihak yayasan. Baginya, membuat anak-anak dapat terus mengenyam pendidikan itu jauh lebih penting dari sekadar imbalan.

Kalau dilihat dari penghasilannya itu, kebutuhan Khalik memang jauh dari kata cukup. Untuk menambah pendapatan, ia pun kerap membawa madu asli dari kampung tempatnya mengajar untuk ia jual di rumahnya. Uang itulah yang ia gunakan untuk biaya perawatan sepeda motornya yang seringkali mengalami kerusakan.

“Ya biasa jika saya pulang dari sana, saya bawa madu untuk saya jual. Lumayan untuk tambah-tambah. Karena kalau menunggu honor itu jelas tidak cukuplah. Ini motor saya kadang rusak juga, yah mungkin karena jarak sama medan yang ditempuh,” jelasnya.

Meski begitu, ia tak pernah pamrih demi bisa mendidik anak-anak di kampung itu. Baginya melihat mereka bisa mengenal Islam lebih baik, membaca, menulis, berhitung, dan bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, itu sudah cukup.

Mengajar di Kolong Rumah

Putra dari pasangan Mustawang dan Mutmainnah ini awalnya mengaku sangat miris melihat kondisi anak-anak di kampung itu. Mereka dulunya harus belajar di bawah kolong rumah dengan menggunakan perlengkapan seadanya.

Selain itu, banyak dari murid-murid yang ia didik memilih berhenti bersekolah karena ingin membantu orangtuanya meskipun mereka belum bisa baca tulis.

Saat ini, Khalik mulai bisa bernafas lega, kehadiran sejumlah komunitas yang menjadi relawan di kampung itu, membangkitkan semangat anak-anak untuk meraih cita-cita lewat pendidikan. Tak hanya murid, orangtua yang tidak bisa baca tulis pun mulai sadar akan pentingnya pendidikan.

“Dulu kan kondisinya kami itu belajar di bawah kolong. Itu sangat miris sekali. Makanya banyak anak yang tidak mau sekolah. Sekarang, alhamdulillah berkat para relawan sudah ada ruang sekolah baru untuk anak-anak biar belajar lebih nyaman. Mereka juga membantu saya mengajar,” terangnya.

Butuh Perhatian Pemerintah

Lewat uluran tangan relawan Sekolah Kolong Project, anak-anak yang dulunya belajar di bawah kolong-kolong rumah dengan penuh keterbatasan, kini dapat menikmati bangunan sekolah yang baru dan layak. Tak hanya mengumpulkan donasi, mereka juga secara bergiliran jauh-jauh ke kampung itu untuk berbagi ilmu dengan anak-anak.

“Saya juga sangat mengapresiasi kehadiran teman-teman dari sekolah kolong. Jika bukan karena mereka, anak-anak itu mungkin masih harus belajar di bawah kolong rumah dengan seadanya,” ujarnya.

Harapan Khalik, pendidikan di pedalaman seperti ini bisa lebih diperhatikan lagi oleh pemerintah, sehingga anak-anak di sana dapat menikmati pendidikan yang layak dan setara dengan anak-anak di perkotaan.

“Agar akses pendidikan bisa berjalan lebih baik, akses jalan, komunikasi hingga listrik harus bisa sampai ke kampung ini sehingga anak-anak tidak terbatas lagi dengan pendidikan. Mereka juga anak-anak Indonesia dan berhak memperoleh akses itu,” harapnya.

Tentu saja Khalik tidak bisa bergerak sendirian untuk mewujudkan pendidikan yang layak di sana. Perhatian dari pemerintah beserta masyarakat luas sangat dibutuhkan. Jangan biarkan perjuangan nan tulus guru-guru seperti Khalik terus berlarut-larut, ayo wujudkan mimpinya!*Sirajuddin Muslim/Suara Hidayatullah

Tulisan ini terbit di Majalah Suara Hidayatullah edisi Februari 2022.